Starin Sani

Browsing category: Movie, Review
Godzilla_2014_poster
0 comments

Godzilla (2014)

My Rating: ★★★★
Genre: Action, adventure, sci-fi

Film tentang monster raksasa dari Jepang ini udah beberapa kali dibuat. Ada yang dapat tanggapan bagus dari publik, ada juga yang jelek. Gimana dengan film Godzilla garapan sutradara Gareth Edwards yang sekarang lagi tayang?

Pada tahun 1999, dikisahkan ilmuwan Ichiro Serizawa (Ken Watanabe) dan Vivienne Graham (Sally Hawkins) menemukan sebuah kerangka raksasa di Filipina. Pada kerangka itu, mereka melihat ada dua kepompong misterius yang melekat. Sementara itu, pada waktu yang hampir bersamaan, terjadi gempa aneh di Jepang yang merenggut nyawa Sandra Brody (Juliette Binoche).

Lima belas tahun kemudian, Joe Brody (Bryan Cranston) masih belum putus asa menyelidiki gempa aneh yang udah menewaskan istrinya. Sementara itu anaknya, Ford Brody (Aaron Taylor-Johnson), sekarang udah jadi penjinak bom. Suatu ketika, Joe mengajak Ford kembali ke kawasan rumah mereka yang dulu, yang sekarang udah dinyatakan pemerintah sebagai kawasan terlarang. Ternyata, mereka malah menjadi saksi lahirnya monster bernama MUTO. Dan ternyata MUTO ini nggak sendirian, kepompong MUTO yang kedua juga udah menetas di tempat lain. Godzilla pun terbangun untuk bertarung melawan kedua MUTO itu.

Secara keseluruhan, walaupun lumayan banyak adegan dramanya, tapi film ini tetap sukses bikin penonton tegang hampir sepanjang film. Apalagi pas adegan battle antara Godzilla melawan MUTO, rasanya sedih pas Godzillanya keserang. Di film ini Godzilla emang ditempatkan sebagai jagoan, bukan sebagai monster penghancur kota. Makanya rasanya jadi pengin tepuk tangan waktu dia berhasil ngalahin MUTO, hehehe. Nilai plus lain, film ini keren banget secara visual, kehancuran kota dan Godzillanya terlihat nyata.

One word to sum up this movie: epic!


The_Amazing_Spider-Man_2-_Rise_Of_Electro_-2014-.jpeg
0 comments

The Amazing Spider-Man 2: Rise of Electro (2014)

My Rating: ★★★★
Genre: Action, adventure, fantasy

The Amazing Spider-Man udah terbukti sukses dalam me-reboot film Spider-Man. Apakah film sequel-nya ini juga bakal sama berhasilnya?

Terlihat dari judulnya, The Amazing Spider-Man 2: Rise of Electro mengisahkan tentang terciptanya monster bernama Electro (Jamie Foxx) secara nggak sengaja. Electro ini awalnya pemuja Spider-Man/Peter Parker (Andrew Garfield), tapi akhirnya justru berbalik ingin mengalahkan superhero itu. Dalam pertempuran mereka, Electro dibantu Harry Osborn (Dane DeHaan) yang merupakan teman masa kecil Peter.

Selain menceritakan pertempuran antara Spider-Man dan kedua musuhnya, film ini juga mengungkapkan teka-teki di balik menghilangnya orangtua Peter. Kisah cintanya yang putus-nyambung dengan Gwen Stacy (Emma Stone) juga nggak ketinggalan ditampilkan.

Kalo menurutku, adegan action di film garapan Marc Webb ini kurang oke, kurang bikin tegang penonton. But thanks to the real-life couple Andrew Garfield and Emma Stone, adegan mereka berdua tampak sangat alami, bikin film jadi menarik. Penulis naskahnya juga patut diacungi jempol, karena ada banyak kalimat inspiring, lucu, dan romantis sepanjang film. Scoring filmnya juga menurutku lumayan pas.

Secara keseluruhan, tampaknya film berdurasi 142 menit ini lebih mengedepankan unsur romance antara Peter dan Gwen. Tapi menurutku sih tetap menarik, bahkan lebih menarik dibanding The Amazing Spider-Man. Di minggu pertamanya tayang, The Amazing Spider-Man 2: Rise of Electro langsung mampu memuncaki box office dengan memperoleh sekitar $US 92 juta. Kayaknya laris, nih!

the-raid-2
0 comments

The Raid 2: Berandal (2014)

My Rating: ★★★★
Genre: Action

Film sekuel dari The Raid (2012) ini udah ditunggu-tunggu nggak hanya oleh warga Indonesia, tapi juga moviegoers internasional. Sekeren apa filmnya? 
Diceritakan, nggak lama setelah penyerbuan yang ditampilkan dalam film pertama, Rama (Iko Uwais) ternyata belum bisa bernapas lega. Polisi muda ini harus menyamar sebagai seorang pelaku tindak kriminal untuk mengungkap praktik korupsi. Rama dikirim ke penjara buat mendekati Ucok (Arifin Putra), anak dari bos gangster bernama Bangun (Tio Pakusadewo).
Seperti film pertamanya, The Raid 2: Berandal juga menyajikan adegan laga dengan koreografi yang cantik. Tapi emang, harus diakui film ini jauh lebih sadis dibanding pendahulunya. Bahkan di bagian akhir film, ada adegan perkelahian antara Rama dengan The Assassin yang sadis banget, dalam waktu yang cukup lama pula. Sebenernya nggak masalah kalo adegan sadisnya cuma sebentar, walaupun sering. Tapi ketika kita disuguhi adegan sadis nonstop dalam waktu lama, rasanya kok capek juga ya nontonnya.
Dari segi cerita, film berdurasi 150 menit ini lebih kompleks dan menarik dibanding The Raid. Pengambilan gambarnya juga lebih indah. Meski ada keganjilan seperti adanya salju di Jakarta, tapi toh harus diakui hal itu sebenarnya bikin adegan jadi terlihat lebih dramatis.
Menurut sang sutradara Gareth Evans, film seri The Raid akan berbentuk trilogi, yang berarti masih akan ada satu film penutup. Can’t wait to watch the third movie!
divergent
0 comments

Divergent (2014)

My Rating: ★★★★
Genre: Science-fiction, action

‘Resep’ film ini sama dengan trilogi The Hunger Games: bergenre science-fiction-action, diangkat dari novel bestseller, dengan tokoh utama seorang remaja perempuan. Tapi apakah hasil akhirnya juga sekeren The Hunger Games?

Dikisahkan, di Chicago masa depan manusia akan dibagi-bagi ke dalam lima faksi berdasarkan kecenderungan kepribadiannya: Erudite, Amity, Candor, Dauntless, dan Abnegation. Para remaja yang udah cukup umur harus mengikuti tes untuk menentukan faksinya.

Saat melakukan tes, Tris (Shailene Woodley) mengetahui kalau ternyata dia Divergent, yaitu memiliki lebih dari satu kecenderungan kepribadian, sehingga nggak masuk ke dalam lima faksi yang ada. Kaum Divergent ini dianggap membahayakan kedamaian yang telah tercipta, sehingga harus dimusnahkan. Tris pun merahasiakan hasil tesnya dan memilih masuk faksi Dauntless.

Di faksi untuk para pemberani ini, ternyata segalanya nggak berjalan mudah bagi Tris. Para anggota baru harus melalui sejumlah proses yang menentukan mereka boleh bergabung atau mesti dikeluarkan dari faksi. Pada proses ini Tris banyak dibantu oleh instrukturnya, Four (Theo James).

Dengan kesamaan ‘formula’ yang dimiliki, sulit untuk nggak membanding-bandingkan film yang disutradarai Neil Burger ini dengan trilogi The Hunger Games. Dari segi karakter tokoh utama, ada sedikit perbedaan, Katniss Everdeen digambarkan tangguh sejak awal sedangkan Tris mulanya adalah sosok lemah namun memiliki jiwa petarung. Menurutku Shailene Woodley berhasil memerankan Tris dengan baik, meski nggak sebaik Jennifer Lawrence sebagai Katniss. ;)

Dari segi jalan cerita, Divergent terasa lebih cheesy. Beda dengan seri pertama The Hunger Games yang mampu membuat penonton tegang sepanjang film, Divergent nggak terlalu banyak menampilkan adegan action dan sadis. Mungkin karena di film ini tujuan si tokoh utama emang lebih untuk menyembunyikan jati diri, ya. Divergent justru terasa cukup menonjolkan hubungan romance antara Tris dan Four. Tapi untunglah, kisah cinta Tris dan Four ini beda dengan cerita cinta segitiganya Katniss yang mengingatkan kita sama Twilight. =p

Kesimpulannya? Tentu kembali pada diri masing-masing, lebih suka yang cheesy atau banyak action-nya. Tapi terlepas dari perbandingannya dengan The Hunger Games, Divergent cukup menarik untuk ditonton. Terbukti saat ini, di minggu pertamanya tayang, film yang juga akan berbentuk trilogi ini langsung menempati nomor satu box office dengan memperoleh sekitar $US 56 juta. Lumayanlah. x)

FILM_Her
0 comments

Her (2013)

My Rating: ★★★★
Genre: Drama

Film ini cocok banget buat kamu yang ngerasa #ForeverAlone! =))

Cerita dalam film Her berpusat pada kehidupan seorang penulis bernama Theodore Twombly (Joaquin Phoenix). Theodore ini udah bertahun-tahun pisah rumah sama istrinya, Catherine (Rooney Mara), tapi dia keukeuh nggak mau menandatangani surat cerai.

Suatu ketika, Theodore membeli sebuah operating system (OS) semacam SIRI-nya Apple, tapi OS yang satu ini canggih banget dan berjenis kelamin perempuan. OS itu menamai dirinya sendiri Samantha (voice by Scarlett Johansson). Makin hari mereka makin deket, sampai akhirnya Theodore memutuskan buat dating sama OS-nya itu!

Tema yang diangkat emang unik banget ya, bikin jalan cerita film yang disutradarai Spike Jonze ini sulit ditebak. Kisah yang berlatar belakang tahun 2025 juga bikin film Her menampilkan banyak teknologi canggih yang bikin kita mupeng! Misalnya aja, manusia di film ini nggak butuh keyboard lagi untuk mengetik di komputer, tinggal ngomong aja. Waktu nge-game pun, kita bisa ngobrol sama karakter yang kita mainin!

Film berdurasi 126 menit ini lumayan menarik, walaupun kuakui aku sempet agak bosen di tengah-tengah. Tapi beneran deh, nggak rugi kok nonton film ini, apalagi kalo kamu senasib sama Theodore alias #ForeverAlone! =))