Starin Sani

0 comments

Dari Gani untuk Gaza

“Baguslah kalau dua-duanya menang, pendukungnya nggak bakal ribut-ribut lagi,” Pak Gani terkekeh melihat acara berita yang disiarkan televisi tabung 14 incinya. Sambil menonton, tangannya bergerak lincah menambal panci alumunium milik pelanggannya.

“Yee, Bapak nih gimana, sih? Katanya pengin keluarga kita tambah sejahtera? Berdoa biar capres pilihan kita menang, dong, Pak,” protes Laras, anak sulung Pak Gani. Matanya memandang bosan ke sekeliling rumah berukuran 3×4 meter mereka yang berlantai semen.

“Berdoa kan cukup dalam hati aja, Ras, nggak perlu diucapin keras-keras,” Pak Gani mengingatkan sambil tertawa.

“Ah, Bapak, nih, ketawa terus. Besok pagi nggak tahu mau makan apa juga Bapak tetep aja ketawa,” kali ini giliran Lidya, si bungsu, yang menyindir kelakuan bapaknya.

“Tenang aja, Lid, besok insya Allah kita bisa makan, kok. Alhamdulillah hari ini libur pilpres, ibu-ibu jadi banyak yang manggil Bapak buat benerin panci.”

“Asyiiik, besok Lidya mau makan ayam!”

“Laras juga!”

“Iya, boleh, boleh!” sambil tersenyum, Pak Gani meneruskan pekerjaannya.

Malam sudah semakin larut, tapi setumpuk panci masih mengantre untuk diperbaiki. Meski lelah, tak masalah. Bagi Pak Gani, yang penting kedua putrinya yang sudah remaja bisa makan setiap hari.

“Ya ampun,” komentar Laras tiba-tiba, matanya menatap layar kaca dengan ngeri. Di sebelahnya, Lidya memasang ekspresi yang sama. Acara breaking news di televisi tengah menampilkan serangan Israel ke Gaza. Pak Gani seketika menghentikan kegiatannya, ikut memperhatikan siaran berita dengan prihatin. Sebuah roket tampak menghantam dan meledakkan apartemen, puluhan orang diberitakan tewas. Dalam hati Pak Gani mendoakan warga Gaza agar selalu berada dalam lindungan-Nya.

***

“Makasih, ya, Pak,” seorang ibu berperawakan tambun menyerahkan uang sepuluh ribu rupiah sambil menerima panci dari Pak Gani.

“Sama-sama, Bu, makasih,” dengan wajah berseri-seri Pak Gani memasukkan uang itu ke saku baju putihnya yang sudah mulai berubah warna.

Itu tadi panci terakhir yang harus ia kembalikan kepada pemiliknya. Hari sudah semakin sore, sekarang saatnya pulang. Dengan hati-hati, Pak Gani mengayuh sepeda onthel-nya ke arah permukimannya. Tak kurang lima panci bergelantungan di sepeda tua itu, menunggu direparasi malam ini. Atau mungkin besok pagi. Pak Gani ingat telah berjanji akan mengajak kedua putrinya makan ayam setelah pulang nanti.

Di tengah perjalanan, tak sengaja mata Pak Gani menangkap sebuah spanduk yang dibentangkan di depan ruko. ‘Posko Penggalangan Bantuan untuk Gaza’, begitu tulisan di spanduk itu. Seketika hati nurani Pak Gani terketuk, sekaligus bimbang. Ia melirik segulung uang di saku bajunya. Berpikir, menimbang-nimbang.

“Maaf, ya, Ras, Lid,” ucapnya akhirnya begitu melihat wajah kedua putrinya di rumah.

Samar-samar terbit senyum di pipi Laras dan Lidya.

“Nggak pa-pa kok, Pak. Laras bangga punya ayah kayak Bapak,” Laras langsung memeluk tubuh kurus Pak Gani, diikuti Lidya.

alive 2
3 comments

ALIVE Fusion Dining

Resto di Jalan Timoho ini udah buka sekitar setahun, tapi aku dan suami baru sempat ke sana Sabtu (9/8) malam kemarin.

Dari luar, ALIVE Fusion Dining udah terlihat menarik dengan dekornya yang bernuansa kayu. Apalagi begitu masuk, rasanya setiap sudut udah didesain sedemikian rupa agar mirip warung koboi Amerika jaman dulu. Tapi tentunya desain interior resto ini lebih modern dan lucu, dilengkapi dengan inspiring quotes di dinding dan pohon yang digantungi lampion-lampion.

Walaupun dari luar kelihatannya ramai, tapi tenang aja karena resto berpencahayaan remang-remang ini cukup luas, kok. Ada tiga lantai yang bisa kita pilih. Setelah ‘tur’ dari lantai satu ke lantai paling atas yang konsepnya outdoor, akhirnya kami memutuskan buat makan di lantai satu karena tempat duduknya lebih nyaman. :D

alive

alive 2

Untuk menunya lumayan komplit, mulai dari makanan nusantara, Asian, sampai Western, semuanya ada. Sebagai pembuka, aku pesan Lasagna (Rp 23 ribu) dan Hot Chocolate Tiramisu (Rp 22 ribu). Untuk lasagna-nya enak, sih, tapi ada rasa aneh yang lumayan kuat, walaupun nggak terlalu mengurangi kelezatannya. Pas lasagna-ku udah mau habis, baru deh aku lihat ada semacam daun salam di dalam pastaku itu. Mungkin karena konsep restonya fusion, jadi ALIVE berusaha memasukkan cita rasa Indonesia ke dalam makanan tradisional Italia itu dengan memasukkan bahan-bahan khas nusantara. Sementara itu untuk Hot Chocolate Tiramisu-nya endul bingittt, rasanya perfect di lidah dan tenggorokanku yang lagi sakit. ;)

lasagna

drinks

Masih belum kenyang, aku dan suami pesan seporsi Chicken Piccata (Rp 21 ribu) buat berdua. Bentuknya semacam fillet ayam yang digoreng, rasanya mirip ayam KFC walaupun lebih lembut dan yummy. :p Kami juga pesan Gold Steak Sirloin (Rp 59 ribu) buat berdua, yang menjadi makanan penutup sempurna kami malam itu. Porsinya lumayan besar, daging steak-nya yang juicy disajikan bersama mashed potato yang gurih. Walaupun menurutku rasanya sedikit terlalu asin, tapi menu ini lumayan setimpal sama harganya.

steak

As a conclusion, resto yang buka dari pagi sampai malam ini lumayan recommended walaupun harganya sedikit mahal untuk ukuran tempat makan di Jogja.  ;)

ALIVE Fusion Dining
Jalan Timoho no. 49 A

Pantai Menganti
0 comments

Pantai Menganti

Kebumen juga punya pantai berpasir putih, lho! Namanya Pantai Menganti.

Mumpung lagi mudik ke Kebumen, kemarin (30/7) aku dan keluarga nyempetin buat berwisata ke pantai ini. Pantai Menganti letaknya sekitar 30 menit dari Pantai Suwuk ke arah Cilacap. Jalan menuju ke sana emang rada susah, sih, naik-turun meliuk-liuk kayak jalan menuju pantai-pantai di Gunungkidul gitu. But it’s worth it, karena pemandangan yang ditawarin Pantai Menganti bener-bener indah!

Sebelum mencapai pantai, kita bisa lihat view pantai dari atas tanpa harus susah-susah manjat tebing. Dan pemandangan itu bener-bener cantik banget. Awesome. Breathtaking. Setel kamera smartphone-mu ke mode panorama buat menangkap tiap inci keindahannya. *mulai lebe, hahaha

Untuk masuk ke objek wisata yang belum banyak terjamah orang ini, kita dikenakan biaya Rp 6 ribu per orang. Di pantainya sendiri, selain perahu-perahu nelayan, banyak juga perahu yang disewakan untuk para pengunjung. Warung makan untuk melepas lelah sembari menikmati es kelapa muda juga ada.

Buat yang hobi berenang di laut, harus tahan diri, ya! Soalnya di pantai ini banyak batu-batuannya, jadi bahaya buat berenang. But still, Pantai Menganti adalah salah satu tempat tujuan wisata yang recommended buat para pecinta pantai!

Pantai Menganti

Pantai Menganti

Pantai Menganti

Pantai Menganti

Perahu Pantai Menganti

Pantai Menganti

Pantai Menganti

Pasir Pantai Menganti

0 comments

Memilih Nama Anak dari Sudut Pandang Anak

Satu demi satu temen-temenku punya baby. Namanya unik-unik, khas nama bayi jaman sekarang. Tiba-tiba aja aku inget, dulu pas masih kecil aku pernah ngerasa ada temen yang ‘direpotin’ sama namanya, dan aku bertekad besok pas jadi orangtua nggak mau ngasih nama yang nyusahin anak. =))

Posting-an ini emang penting-nggak penting, sih. Tapi nggak ada salahnya mendengar suara hati anak, kan? Hihihi. Ini dia tips memilih nama anak dari sudut pandangku pas masih anak-anak. ;p

1. Huruf depannya diawali abjad yang tengah-tengah

Misalnya aja L, M, atau N. Tujuannya apa? Coba inget-inget deh pas dulu ujian praktik di sekolah, dipanggilnya urut absen. Nggak enak banget kalo maju paling awal, belum dapet bocoran dari mana-mana. =)) Tapi kalo dapet giliran akhir-akhir juga susye, yang lain udah santai-santai, kita masih deg-degan sendiri. Dulu pas SMP aku pernah dapet nomor absen 40, padahal huruf depanku S! Dan itu beneran nggak enak, sist. Diabsennya selalu terakhir, pas ulangan umum juga sering dapet tempat duduk depan sendiri. Kasihanilah anak kita.

2. Jangan kepanjangan

Yang ini juga masih ada hubungannya sama ujian. Coba bayangin anak kita lagi ujian pake kertas yang harus ngebuletin lembar jawaban itu. Temen-temennya udah mulai ngerjain soal, anak kita masih sibuk sendiri ngebuletin nama gara-gara namanya panjaaang. Kasihan, kan, waktunya terbuang sia-sia. Dua suku kata cukuplah buat nama.

3. Jangan pasaran

You know-lah contoh nama-nama yang pasaran, kayak Adit, Ayu, Dina, dll. Kalo sampe ada temen sekelas yang namanya sama, pasti nama anak kita jadi ada imbuhannya. Misalnya aja nama Adit, nih, bisa-bisa nama panjangnya berubah jadi Adit genter, Adit polem, Adit PSM. True story. Jadi jangan sampe kita kasih nama yang pasaran. Pokoknya jangan.

4. Yang kekinian

Mungkin kita udah sering lihat di social media, temen kita mengubah nama aslinya dengan nama yang lebih kece. Hal ini salah satunya bisa terjadi karena mereka nggak bangga dengan nama asli pemberian orangtua mereka, dan rasa nggak bangga itu mungkin muncul karena namanya kurang kekinian. Maklum ajalah, anak jaman sekarang. Dulu pas SMP aku juga pernah punya temen yang namanya kurang kekinian. Dan aku tahu she was trying so hard buat nyari nama panggilan yang oke. Tapi gagal. Tetep aja temen-temen manggil dia dengan nama aslinya.

5. Gampang dieja

Yang ini pengalaman pribadi, sih. I am so proud of my name, beneran. Singkat, unik, kekinian. Tapi kadang emang ada masanya namaku ngerepotin, yaitu pas kenalan sama orang baru. Tiap aku menyebut kata ‘Starin’, pasti orang nggak langsung ngeh sama namaku. Ada yang misheard jadi Lestari, Sari, Tarin, and so on. Jadi aku sering harus mengeja namaku dulu, baru orang ngerti.

Nah, itu tadi beberapa tips memilih nama anak dari sudut pandang anak. Ada yang mau nambahin? =))

Pages:«1...78910111213...60»