Starin Sani

0 comments

NHW#7_Starin Sani: Menuju Bunda Produktif

Dalam rangka naik level menjadi seorang bunda produktif, pada nice homework kali ini saya diminta untuk mencari tahu tipe kekuatan diri dan membuat kuadran aktivitas.

Dari hasil menjawab kuesioner di temubakat.com, berikut ini kekuatan diri saya :

temubakat

Tertulis di situ, ada lima potensi kekuatan saya, yaitu communicator, creator, designer, distributor, dan journalist. Bener sih, kecuali yang distributor, saya agak nggak paham itu maksudnya apa, hehe. Untuk kelemahannya, saya memang merasa agak kurang dalam kelima hal yang disebut di atas, tapi sebenarnya saya tetap merasa punya sedikit sisi caretaker, educator, interpreter, strategist, dan visionary dalam diri saya. #beneran #bukanngeles :D

Melihat hasil tes di atas, dipadukan dengan apa yang saya rasakan selama ini, maka inilah kuadran aktivitas saya.

nhw 7 kuadran

Maaf kalo list-nya minimalis ya, hehe. Karena ternyata ada banyak hal yang bagi saya masuk kategori ‘biasa saja’, dalam artian saya tidak ‘suka’ tapi juga bukan ‘tidak suka’, seperti perencanaan, pembukuan, memotivasi orang, dan maaasih banyak lagi, hehe.

Note : posting-an ini ditulis untuk memenuhi Nice Homework #7 di program matrikulasi Institut Ibu Profesional (IIP)

0 comments

NHW#6_Starin Sani : Jadwal Harian

Selama ini sebenarnya saya udah sering bikin jadwal harian, walaupun kadang cuma di awang-awang, kadang saya tulis kalau lagi banyak to-do-list-nya. Sekarang dalam rangka belajar menjadi manajer keluarga, saya ditugasi untuk lebih tertib lagi dalam menulis dan menerapkan jadwal harian.

Pertama-tama, saya harus menentukan dulu tiga aktivitas yang paling penting menurut saya (selain ibadah yang tentunya wajib didahulukan). Aktivitas itu adalah:

1. Mengasuh Hilya

2. Melakukan pekerjaan rumah tangga

3. Belajar ilmu agama dan parenting

Sementara itu, tiga aktivitas yang paling tidak penting, tapi masih sering saya lakukan yaitu:

1. Buka socmed

2. Belanja online atau sekadar cuci mata

3. Nonton variety show Korea

Alhamdulillah, sehari-hari waktu saya paling banyak dipakai buat ngemong Hilya. Untuk kegiatan rutin di luar aktivitas penting di atas, biasanya baru bisa saya kerjakan sekitar jam 21.00 – 23.00.

Sekarang masuk ke jadwal harian ya. Sebelum ini sebenarnya saya udah pernah bikin jadwal harian yang dilengkapi dengan jamnya. Tapi pada prakteknya, sulit menerapkannya sesuai jam yang udah ditentuin mengingat saya punya Hilya yang masih berusia 1,5 tahun. Malam hari setelah Hilya tidur pun, sesekali dia suka terbangun untuk menyusu, jadi jadwal yang udah saya buat sering terpaksa harus mundur dan akhirnya ada yang nggak bisa saya kerjakan malam itu.

Jadi di jadwal yang saya buat ini, untuk jadwal dinamisnya saya cuma menulis urutannya. Dan untuk jadwal rutin di malam hari, saya menuliskan jamnya tapi tentu boleh disela kalau sewaktu-waktu Hilya bangun ingin menyusu.

nhw 6 jadwal

Semoga aja bisa disiplin menjalankannya yah.

Note : posting-an ini ditulis untuk memenuhi Nice Homework #6 di program matrikulasi Institut Ibu Profesional (IIP)

0 comments

NHW#5_Starin Sani : Desain Pembelajaran

Apa itu desain pembelajaran? Bagaimana desain pembelajaran saya untuk menjadi seorang ibu profesional?

Ada berbagai definisi sih kalo browsing di Google. Tapi intinya, menurut pemahaman saya, desain pembelajaran itu proses menentukan metode pembelajaran yang efektif. Masih menurut berbagai sumber yang saya baca di Google, ada banyak model desain pembelajaran. Tapi kok ribet-ribet yaa, nggak saya banget. :D Ya sudahlah, akhirnya saya bikin desain pembelajaran ala saya sendiri.

Apa yang perlu saya pelajari?

Sejalan dengan NHW#4 yang sudah saya tulis, di tahun pertama ini ada dua hal yang perlu saya pelajari.

1. Ilmu agama (yang ini belajarnya sepanjang hayat), dan

2. Ilmu parenting berbasis agama Islam.

Dari dua hal di atas, saya rinci lagi poin-poin apa yang harus saya pelajari dan bagaimana cara mempelajarinya. Berikut ini desain pembelajaran ala saya.

DEsain pembelajaran 2

Untuk sementara baru desain pembelajaran di tahun pertama saja yang saya buat. Semoga bisa istiqomah menjalankannya hingga ke desain pembelajaran di tahun-tahun berikutnya.

Note : posting-an ini ditulis untuk memenuhi Nice Homework #5 di program matrikulasi Institut Ibu Profesional (IIP)

0 comments

NHW#4_Starin Sani : Kekuatan Fitrah

Sudah beberapa minggu sejak saya mulai mendapat nice homework (NHW) dari program matrikulasi Institut Ibu Profesional.

Sekarang, apa saya masih ingin menguasai ilmu islamic parenting seperti yang saya bilang di NHW #1? Ya.

Sekarang, apa saya sudah konsisten mengerjakan checklist yang saya buat di NHW #2? Belum, ehehe. Tapi Alhamdulillah sudah mulai menjalankan checklist itu walaupun belum bisa konsisten.

Sekarang, apa saya sudah punya bayangan tentang misi hidup saya seperti yang sempat dibahas di NHW#3? Kurang lebih sudah. Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, misi hidup saya cukup simpel. Ingin menjadi madrasah yang baik bagi anak saya. ‘Baik’ di sini tentunya baik menurut ajaran agama Islam. Dengan menjadi madrasah yang baik, insya Allah saya juga bisa sekaligus menjadi ‘tim marketing’-nya Allah, yang sanggup ‘mempromosikan’ ajaran Islam pada orang-orang di sekitar melalui perilaku sehari-hari saya.

misi hidup

Untuk menjalankan misi ini, ada beberapa tahapan ilmu yang harus saya kuasai:

1. Ilmu agama, yang terus harus dipelajari seumur hidup,

2. Ilmu seputar pengasuhan anak berbasis agama Islam,

3. Ilmu seputar manajemen rumah tangga,

4. Ilmu tentang berbagi manfaat kepada banyak orang.

KM 0 saya dimulai saat saya berusia 28,5 tahun atau sekitar 3 bulan yang lalu. Berikut ini milestone-nya.

milestone

Setelah melihat kembali NHW #2 saya, checklist yang saya buat sifatnya masih jangka pendek, yaitu untuk 3 bulan, tapi isinya sudah sesuai dengan target ilmu yang harus saya kuasai di tahun pertama. Tinggal nanti seiring berjalannya waktu harus rajin-rajin meng-update checklist sesuai dengan kondisi dan tahapan ilmu yang harus dipelajari. Semangat!

Note : posting-an ini ditulis untuk memenuhi Nice Homework #4 di program matrikulasi Institut Ibu Profesional (IIP)

0 comments

NHW#3_Starin Sani : Membangun Peradaban dari Dalam Rumah

Apa sih sebenarnya peran spesifik keluarga kita di bumi ini? Mengapa Allah menghadirkan keluarga kita di lingkungan tempat kita tinggal sekarang?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, sebelumnya kita harus mengetahui dulu potensi diri beserta anggota keluarga. Dimulai dari potensi suami, saya diberi PR untuk membuat surat cinta, hihihi. Dengan menuliskan surat cinta, ternyata memang kita jadi bisa lebih tulus dalam melihat kelebihan suami, yang ujung-ujungnya bikin makin jatuh cinta sama suami. Pada intinya sih, menurut saya, suami saya itu hebat karena bisa menjalankan kewajiban sebagai suami dan ayah dengan baik, plus masih bisa meng-cover kekurangan saya sebagai istri dan ibu. Suami saya juga insya Allah sholeh dan bisa membimbing keluarganya di jalan Allah. Suami sih cuma senyam-senyum aja pas baca suratnya, hehe. :D

Hilya, putri kami yang baru berusia 1,5 tahun, menurut saya juga nggak kalah hebat. Dia cerdas dan berkemauan keras. Dia suka meniru gerakan sholat, berkata ‘sst’ sambil mendekatkan telunjuk ke bibir ketika adzan berkumandang, dan suka ikut-ikut ketika diperdengarkan orang mengaji. Dia juga suka sekali membaca dan dibacakan buku/majalah. Dia suka menggambar dan minta digambarkan. Dia suka menyapu, membuang sampah, mengelap yang basah dengan tisu, dan membersihkan karpet dengan sikat. Insya Allah, seperti arti namanya, Hilya bisa menjadi perhiasan dunia-akhirat bagi kami orangtuanya.

Saya sendiri, apa potensi saya? Diri ini masih banyaaak sekali kekurangannya. Tapi kalo ada satu hal yang saya sendiri juga suka amazed dibuatnya, saya punya kemauan untuk berproses menjadi lebih baik. Semua orang juga gitu sih yaa, hehe. Tapi beneran, yang tahu bagaimana saya sebelum dan sesudah nikah, pasti kaget melihat perubahan saya. Yang dulu sangat jahiliyah, Alhamdulillah setelah nikah mulai mendapat hidayah, dan hingga sekarang masih terus dalam proses hijrah. Insya Allah ini memang sudah kehendak Allah agar saya bisa menjadi madrasah yang baik bagi anak-anak saya, sekaligus menjadi sebaik-baik perhiasan dunia bagi suami.

Lalu, dengan seluruh potensi di atas, mengapa Allah menghadirkan kami di tempat kami tinggal sekarang? Saat membahas ini dengan suami, ternyata jawabannya kurang lebih sama dengan yang ada di benak saya. Jadi, ketika kami baru menikah dan mulai tinggal di tempat ini, ada sebuah masjid yang baru dibangun, dekat sekali dengan rumah. Sampai sekarang masjid ini juga bisa dibilang masih dalam proses pembangunan, meski sudah dua tahunan bisa dipakai untuk sholat berjamaah. Selain pembangunan fisik, tentunya masjid ini juga masih harus ‘membangun’ jamaahnya, mengadakan aneka program agar warga sekitar lebih mencintai masjid. Sejauh ini saya dan terutama suami sudah berusaha untuk memakmurkan masjid dan membantu proses pembangunan masjid tersebut. Semoga Allah memberi kemudahan dan keteguhan hati agar kami bisa terus berkontribusi, bahkan lebih banyak lagi, untuk maajid ini.

Sesungguhnya yang memakmurkan madjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta (tetap) melaksanakan sholat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada apa pun) kecuali kepada Allah. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.

Note : posting-an ini ditulis untuk memenuhi Nice Homework #3 di program matrikulasi Institut Ibu Profesional (IIP)

Pages:«1234567...60»