Starin Sani

0 comments

NHW#5_Starin Sani : Desain Pembelajaran

Apa itu desain pembelajaran? Bagaimana desain pembelajaran saya untuk menjadi seorang ibu profesional?

Ada berbagai definisi sih kalo browsing di Google. Tapi intinya, menurut pemahaman saya, desain pembelajaran itu proses menentukan metode pembelajaran yang efektif. Masih menurut berbagai sumber yang saya baca di Google, ada banyak model desain pembelajaran. Tapi kok ribet-ribet yaa, nggak saya banget. :D Ya sudahlah, akhirnya saya bikin desain pembelajaran ala saya sendiri.

Apa yang perlu saya pelajari?

Sejalan dengan NHW#4 yang sudah saya tulis, di tahun pertama ini ada dua hal yang perlu saya pelajari.

1. Ilmu agama (yang ini belajarnya sepanjang hayat), dan

2. Ilmu parenting berbasis agama Islam.

Dari dua hal di atas, saya rinci lagi poin-poin apa yang harus saya pelajari dan bagaimana cara mempelajarinya. Berikut ini desain pembelajaran ala saya.

DEsain pembelajaran 2

Untuk sementara baru desain pembelajaran di tahun pertama saja yang saya buat. Semoga bisa istiqomah menjalankannya hingga ke desain pembelajaran di tahun-tahun berikutnya.

Note : posting-an ini ditulis untuk memenuhi Nice Homework #5 di program matrikulasi Institut Ibu Profesional (IIP)

0 comments

NHW#4_Starin Sani : Kekuatan Fitrah

Sudah beberapa minggu sejak saya mulai mendapat nice homework (NHW) dari program matrikulasi Institut Ibu Profesional.

Sekarang, apa saya masih ingin menguasai ilmu islamic parenting seperti yang saya bilang di NHW #1? Ya.

Sekarang, apa saya sudah konsisten mengerjakan checklist yang saya buat di NHW #2? Belum, ehehe. Tapi Alhamdulillah sudah mulai menjalankan checklist itu walaupun belum bisa konsisten.

Sekarang, apa saya sudah punya bayangan tentang misi hidup saya seperti yang sempat dibahas di NHW#3? Kurang lebih sudah. Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, misi hidup saya cukup simpel. Ingin menjadi madrasah yang baik bagi anak saya. ‘Baik’ di sini tentunya baik menurut ajaran agama Islam. Dengan menjadi madrasah yang baik, insya Allah saya juga bisa sekaligus menjadi ‘tim marketing’-nya Allah, yang sanggup ‘mempromosikan’ ajaran Islam pada orang-orang di sekitar melalui perilaku sehari-hari saya.

misi hidup

Untuk menjalankan misi ini, ada beberapa tahapan ilmu yang harus saya kuasai:

1. Ilmu agama, yang terus harus dipelajari seumur hidup,

2. Ilmu seputar pengasuhan anak berbasis agama Islam,

3. Ilmu seputar manajemen rumah tangga,

4. Ilmu tentang berbagi manfaat kepada banyak orang.

KM 0 saya dimulai saat saya berusia 28,5 tahun atau sekitar 3 bulan yang lalu. Berikut ini milestone-nya.

milestone

Setelah melihat kembali NHW #2 saya, checklist yang saya buat sifatnya masih jangka pendek, yaitu untuk 3 bulan, tapi isinya sudah sesuai dengan target ilmu yang harus saya kuasai di tahun pertama. Tinggal nanti seiring berjalannya waktu harus rajin-rajin meng-update checklist sesuai dengan kondisi dan tahapan ilmu yang harus dipelajari. Semangat!

Note : posting-an ini ditulis untuk memenuhi Nice Homework #4 di program matrikulasi Institut Ibu Profesional (IIP)

0 comments

NHW#3_Starin Sani : Membangun Peradaban dari Dalam Rumah

Apa sih sebenarnya peran spesifik keluarga kita di bumi ini? Mengapa Allah menghadirkan keluarga kita di lingkungan tempat kita tinggal sekarang?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, sebelumnya kita harus mengetahui dulu potensi diri beserta anggota keluarga. Dimulai dari potensi suami, saya diberi PR untuk membuat surat cinta, hihihi. Dengan menuliskan surat cinta, ternyata memang kita jadi bisa lebih tulus dalam melihat kelebihan suami, yang ujung-ujungnya bikin makin jatuh cinta sama suami. Pada intinya sih, menurut saya, suami saya itu hebat karena bisa menjalankan kewajiban sebagai suami dan ayah dengan baik, plus masih bisa meng-cover kekurangan saya sebagai istri dan ibu. Suami saya juga insya Allah sholeh dan bisa membimbing keluarganya di jalan Allah. Suami sih cuma senyam-senyum aja pas baca suratnya, hehe. :D

Hilya, putri kami yang baru berusia 1,5 tahun, menurut saya juga nggak kalah hebat. Dia cerdas dan berkemauan keras. Dia suka meniru gerakan sholat, berkata ‘sst’ sambil mendekatkan telunjuk ke bibir ketika adzan berkumandang, dan suka ikut-ikut ketika diperdengarkan orang mengaji. Dia juga suka sekali membaca dan dibacakan buku/majalah. Dia suka menggambar dan minta digambarkan. Dia suka menyapu, membuang sampah, mengelap yang basah dengan tisu, dan membersihkan karpet dengan sikat. Insya Allah, seperti arti namanya, Hilya bisa menjadi perhiasan dunia-akhirat bagi kami orangtuanya.

Saya sendiri, apa potensi saya? Diri ini masih banyaaak sekali kekurangannya. Tapi kalo ada satu hal yang saya sendiri juga suka amazed dibuatnya, saya punya kemauan untuk berproses menjadi lebih baik. Semua orang juga gitu sih yaa, hehe. Tapi beneran, yang tahu bagaimana saya sebelum dan sesudah nikah, pasti kaget melihat perubahan saya. Yang dulu sangat jahiliyah, Alhamdulillah setelah nikah mulai mendapat hidayah, dan hingga sekarang masih terus dalam proses hijrah. Insya Allah ini memang sudah kehendak Allah agar saya bisa menjadi madrasah yang baik bagi anak-anak saya, sekaligus menjadi sebaik-baik perhiasan dunia bagi suami.

Lalu, dengan seluruh potensi di atas, mengapa Allah menghadirkan kami di tempat kami tinggal sekarang? Saat membahas ini dengan suami, ternyata jawabannya kurang lebih sama dengan yang ada di benak saya. Jadi, ketika kami baru menikah dan mulai tinggal di tempat ini, ada sebuah masjid yang baru dibangun, dekat sekali dengan rumah. Sampai sekarang masjid ini juga bisa dibilang masih dalam proses pembangunan, meski sudah dua tahunan bisa dipakai untuk sholat berjamaah. Selain pembangunan fisik, tentunya masjid ini juga masih harus ‘membangun’ jamaahnya, mengadakan aneka program agar warga sekitar lebih mencintai masjid. Sejauh ini saya dan terutama suami sudah berusaha untuk memakmurkan masjid dan membantu proses pembangunan masjid tersebut. Semoga Allah memberi kemudahan dan keteguhan hati agar kami bisa terus berkontribusi, bahkan lebih banyak lagi, untuk maajid ini.

Sesungguhnya yang memakmurkan madjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta (tetap) melaksanakan sholat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada apa pun) kecuali kepada Allah. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.

Note : posting-an ini ditulis untuk memenuhi Nice Homework #3 di program matrikulasi Institut Ibu Profesional (IIP)

0 comments

NHW#2_Starin Sani : Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan

Beraaat banget yaa judulnya, hehe. Kayaknya saya nggak bakal bikin checklist beginian kalo bukan karena ada homework dari IIP. :D

Jadi ada tiga daftar indikator yang harus saya buat, yaitu sebagai individu, sebagai istri, dan sebagai ibu. Sebagai istri, apa sih indikatornya saya udah jadi istri yang bisa bikin suami bahagia? Sebagai ibu, apa sih indikatornya saya udah jadi ibu yang bisa bikin Hilya bahagia? Berdasar hasil perenungan dan tanya-jawab dengan suami (sayang Hilya belum bisa ditanyai), ini dia checklist yang insya Allah harus saya kerjakan paling tidak selama tiga bulan ke depan, demi menjadi seorang perempuan profesional (menurut ukuran saya). Setelah tiga bulan mungkin daftar ini bisa berubah, bisa juga masih sama, tergantung keadaan.

a. Sebagai individu

Karena manusia diciptakan untuk beribadah, jadi indikator yang ini tentunya saya buat nggak jauh-jauh dari ibadah, dan ada yang terkait juga dengan NHW#1 saya.

1. Pakai pakaian syari lengkap dengan kaos kaki saat ke ruang kerja suami (pas ada karyawannya) dan ke rumah tetangga (biasanya sering males).

2. Mendatangi kajian ilmu minimal dua kali dalam sebulan.

3. Membaca buku-buku parenting islami, yang udah dibeli tapi jarang dibaca itu, setiap hari.

Sebenernya masih ada satu lagi sih yang sifatnya jangka panjang, tapi kalo disebutin detail takut riya’, hehe. Intinya ada sesuatu yang ingin saya lakukan tahun ini, tapi cukup saya dan Allah aja yang tau.

b. Sebagai istri

Pas nanya suami tentang kriteria istri yang bikin dia bahagia, katanya yang ‘manut‘ alias nurut. Dan Alhamdulillahnya, menurut suami, saya udah banyakan nurutnya, hehe. Tapiii, ada satu hal yang kata suami mesti diperbaiki, yaitu seputar kerapian dan kebersihan rumah, heuheuheu. Kayaknya saya kebanyakan baca posting-an seputar IRT yang intinya mengatakan bahwa kerjaan rumah itu nggak ada habisnya, jadi nggak usah terlalu dipaksain, suami nggak akan marah kok kalo rumah sedikit berantakan. Padahal yaa, suami saya, yang kerja di rumah, mungkin bisa lihat sendiri kalo sebenernya saya punya waktu buat beresin rumah, tapi males, hihi. Jadiii, inilah checklist saya sebagai istri.

1. Menuruti apa pun perkataan suami, asal nggak bertentangan dengan agama. Kalopun lagi terpaksa nggak bisa nurut, sampaikan dengan lembut, jangan sampai suami marah atau nggak ridho.

2. Menyapu rumah setiap hari (ketauan deh jarang nyapu :p).

3. Membereskan mainan Hilya setiap malam setelah Hilya tidur.

c. Sebagai ibu

Berhubung Hilya belum bisa ditanyai, jadi untuk indikator yang ini saya cuma bisa mengira-ngira aja.

1. Kurangi ngomel-ngomel ke Hilya. Dalam sehari maksimal satu kali aja ngomelnya. Tiap mau ngomel, langsung tarik napas, istighar, senyum.

2. Kurangi pegang HP. Selama Hilya bangun, cek HP cukup sekali aja dalam satu jam, kecuali kalo ada yang bener-bener urgent (WhatsApp dari costumer nggak termasuk urgent loh ya).

Untuk saat ini sepertinya itu dulu yaa checklist-nya. Semoga bisa istiqomah menjalankannya.

Note : posting-an ini ditulis untuk memenuhi Nice Homework #2 di program matrikulasi Institut Ibu Profesional (IIP)

0 comments

NHW#1_Starin Sani : Islamic Parenting

Kalo ditanya jurusan ilmu apa yang ingin saya tekuni saat ini, yang langsung terlintas di pikiran adalah ilmu parenting dengan pendekatan agama. Kutipan tulisan Bunda Kaska berikut rasanya pas sekali untuk menjelaskan alasannya.

Seorang ibu insya Allah ga akan ada NIAT menjerumuskan anaknya ke sesuatu yang mudharat apalagi SENGAJA ingin mencelakakan dunia akherat anak-anaknya.

Tapi… seorang ibu tanpa bekal agama saat mendidik anak sangat mungkin melakukan hal yang sebaliknya.

Sedih ya, merasa sudah mendidik anak dengan baik, tapi ternyata didikan kita nggak sejalan dengan ajaran agama. Mengikutkan anak ke banyak les ini-itu untuk mengejar prestasi duniawi, sampai-sampai anak sering terlewat sholatnya. Sering memperdengarkan musik alih-alih lantunan Quran sejak anak masih bayi, padahal dalam Islam musik itu haram hukumnya. Biasa saja ketika anak perempuan tidak berjilbab meski sudah waktunya, karena toh teman seumurannya banyak yang belum berjilbab juga. Dan masih banyak lagi contoh lainnya.

Karena itulah, bagi saya penting untuk belajar ilmu parenting yang berlandaskan agama, tidak hanya sekadar parenting saja. Usaha saya sejauh ini adalah dengan membaca buku-buku parenting islami, bergabung dalam grup parenting WhatsApp yang diasuh Bu Wina Risman yang banyak menggunakan pendekatan agama, juga mem-follow para pakar di bidang parenting islami seperti Kiki Barkiah dan Harry Santosa. Saya juga berusaha memperdalam ilmu agama secara umum, baik melalui video ceramah di YouTube maupun datang langsung ke kajian meski belum bisa rutin. Ke depannya, selain usaha-usaha yang sudah saya sebutkan tadi, saya ingin lebih sering lagi datang ke kajian, terutama yang topiknya tentang parenting.

Mengenai adab menuntut ilmu, wah, PR saya banyak sekali. Yang paling utama, saya ingin berusaha menghilangkan sikap merasa sudah tahu saat mendapat ilmu yang mirip-mirip dengan yang sudah pernah didapat sebelumnya. Semoga Allah selalu memberikan bimbinganNya.

Note : posting-an ini ditulis untuk memenuhi Nice Homework #1 di program matrikulasi Institut Ibu Profesional (IIP)

Pages:«1234567...60»