Starin Sani

6 comments

Harry Potter and The Half-Blood Prince


Rating: ★★★★
Category: Movies
Genre: Science Fiction & Fantasy

Film ini mengisahkan tahun keenam Harry Potter di sekolah sihir Hogwarts. Di tahun ini, Dumbledore merekrut Profesor Slughorn untuk mengajar kelas ramuan. Profesor ini diyakini mengetahui banyak informasi tentang Voldemort.

Salah satu informasi penting dari Profesor Slughorn adalah bahwa Voldemort memiliki Horcrux. Horcrux adalah belahan jiwa yang disimpan di sebuah benda. Orang yang memiliki Horcrux tidak akan meninggal jika dibunuh. Ia baru akan meninggal setelah Horcruxnya dihancurkan. Harry dan Dumbledore pun bersama-sama berjuang untuk menghancurkan Horcrux milik Voldemort.

Selain mengisahkan petualangan Harry, film ini juga banyak menampilkan kisah cinta antara Harry dan Ginny. Cinta segitiga antara Ron-Hermione-Lavender juga banyak menjadi sorotan.

Lucu, menarik, dan menegangkan. Ketiga kata itu tampaknya tepat untuk menggambarkan film berdurasi 153 menit ini. Walau begitu, semua penggemar novel Harry Potter pasti beranggapan bahwa novelnya lebih menarik dibanding filmnya. Meski demikian, film ini tetap menarik untuk ditonton.

0 comments

Daniel Isn’t Talking


Rating: ★★★
Category: Books
Genre: Entertainment
Author: Marti Leimbach

Daniel Isn’t Talking bercerita tentang kehidupan Melanie, seorang ibu yang memiliki anak autis bernama Daniel. Autisme Daniel ini baru terungkap saat ia berusia tiga tahun. Amat sulit bagi Melanie untuk menghadapi kenyataan bahwa anak bungsunya mengalami autis. Keadaan ini menjadi semakin sulit lagi saat suaminya pergi meninggalkannya.

Novel ini mengajarkan kegigihan dan kesabaran yang harus dimiliki seorang ibu dalam mendidik anaknya yang autis. Melanie tidak mengijinkan anaknya dimasukkan ke dalam Sekolah Luar Biasa. Menurutnya, sekolah semacam itu justru akan menghambat perkembangan putranya. Melanie yakin, lingkungan yang normal akan membantu Daniel menjadi semakin normal.

Novel karangan Marti Leimbach ini amat menarik dan mengharukan. Namun sayang, mungkin karena novel ini merupakan terjemahan, banyak kalimat yang terasa sukar dicerna. Akhir cerita dari novel ini juga kurang mengesankan. Walau begitu, novel setebal 358 halaman ini cukup menarik untuk dibaca.

11 comments

Hari-hari di Umbulsari

Sudah satu pekan aku menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Dusun Umbulsari B, Prambanan. Tema KKN yang kuangkat bersama teman-teman adalah tentang pertanian terpadu berbasis potensi lokal.

Sesuai ketentuan, minggu pertama KKN merupakan waktu untuk observasi. Berikut adalah kegiatanku selama enam hari pertama di Dusun Umbulsari B, mungkin dapat memberi gambaran bagi teman-teman yang belum KKN.

Hari Pertama (Kamis, 2 Juli 2009): Berangkat ke Lokasi

Aku, teman-teman satu tim, dan Pak Yoyo selaku dosen pembimbing menghadiri acara penyambutan di Kantor Kecamatan Sleman, dilanjutkan dengan acara penyambutan di Kantor Kelurahan Sumberharjo. Setelah itu, kami langsung menuju pondokan di Dusun Umbulsari B. Kami menempati dua pondokan yang letaknya berhadapan. Setelah sampai di pondokan, tidak banyak yang kami lakukan. Kami hanya membereskan kamar, rapat koordinasi unit, dan bergosip.

Hari Kedua (Jumat, 3 Juli 2009): Survey

Seingatku, hari kedua merupakan hari paling melelahkan dalam seminggu. Pagi hari kami habiskan dengan survey ke wilayah kerja masing-masing subunit. Aku kemudian beristirahat sejenak di siang hari saat kaum Adam menjalankan sholat Jumat. Seusai Jumatan, giliran aku dan teman-teman cewek yang harus mengikuti pengajian rutin ibu-ibu setempat. Ba’da maghrib, kami melakukan rapat koordinasi bidang yang dilanjutkan dengan rapat koordinasi unit.

Hari Ketiga (Sabtu, 4 Juli 2009): Sosialisasi Program

Aku dan teman-teman satu bidang, yaitu bidang sosial budaya, mencari data di Kantor Kecamatan dan Kelurahan. Di Kantor Kelurahan, aku mulai merasa pusing. Sekembalinya ke pondokan, tubuhku demam. Seusai makan siang, aku diare. Badanku rasanya tak karu-karuan. Tapi aku tetap memaksakan untuk ikut rapat koordinasi bidang. Aku kemudian minum obat dan beristirahat sejenak di sore hari. Malamnya, kami satu tim melakukan sosialisasi program kepada Kepala Dusun dan Perangkat Dusun Umbulsari B.


Hari Keempat (Minggu, 5 Juli 2009): Bertemu Kelompok Ternak

Saat membuka mata di pagi hari, aku merasa sudah lebih baik. Panasku mulai turun, tapi perutku masih mules. Namun aku masih sanggup membantu Ajeng, sekretaris unit, dalam mengerjakan proposal KKN. Siangnya, aku dan teman-teman mengikuti pertemuan rutin kelompok ternak Dusun Umbulsari B. Banyak fakta menarik yang kami temukan dari pertemuan itu.

Hari Kelima (Senin, 6 Juli 2009): Piket

Hari ini aku kebagian jatah piket bersama Yeri. Kami yang mendapat tugas piket wajib mencuci piring, membantu Ibu Dukuh memasak, dan jaga rumah. Jadi, pagi ini aku tidak ikut teman-teman berkunjung ke rumah para Ketua RT. Cukup senang rasanya tidak perlu ikut keliling dusun. Sayangnya dalam menjalankan tugas piket aku berpartner dengan Yeri yang culas. Ia kerap mangkir dari tugas-tugas piket. Untung ada Opik yang baik, ia dengan senang hati membantuku mencuci piring. Tapi ternyata Opik pun juga licik, ia meminta namanya dihapus dari jadwal piketnya yang seharusnya. Alasannya, ia sudah ikut piket hari ini. Padahal Opik cuma membantuku mencuci piring seusai makan malam.

Hari Keenam (Selasa, 7 Juli 2009): Pulang

Hari ini aku menargetkan proposal sudah jadi. Tapi ternyata, masih ada juga bidang yang belum mengumpulkan anggaran dana untuk programnya. Salah satu bidang yang belum mengumpulkan adalah sosial budaya, bidangku sendiri. Oleh karena itu, pagi ini aku dan teman-teman satu bidang langsung ngebut menggarapnya. Siangnya, saat anggaran dari semua bidang telah terkumpul, aku membantu Ajeng menyatukan anggaran ke dalam proposal.

Sungguh tak terduga dan tak terkira, tiba-tiba Pak Yoyo datang. Tanpa diundang. Tanpa memberi kabar. Kaget dan cemas langsung menyerang, karena proposal belum usai. Tapi syukurlah, Pak Yoyo tidak memaksa proposal harus dikumpul saat itu. Kami kemudian mengonsultasikan program kepada beliau sebelum akhirnya kami meninggalkan pondokan bersama untuk mencontreng pada Pemilu 2009.

Hari Ketujuh (Rabu, 8 Juli 2009): Pemilu 2009

Yeah, I love Pemilu. Kalau tidak ada Pemilu, mungkin aku dan teman-teman belum pulang ke rumah. Saat bertemu ibunda tercinta, menurut beliau aku terlihat kacau. Kulitku bertambah hitam. Bibirku pecah-pecah. Padahal baru satu minggu aku meninggalkan rumah.

Sore ini, aku sudah harus kembali ke Dusun Umbulsari B. Sore ini, aku sudah harus bergulat lagi dengan kegiatan-kegiatan KKN. Berat rasanya meninggalkan rumah, tapi aku harus melakukannya, demi mengabdi kepada masyarakat.

3 comments

Garuda di Dadaku


Rating: ★★★★
Category: Movies
Genre: Kids & Family

Garuda di Dadaku berkisah tentang perjuangan seorang bocah untuk masuk ke dalam timnas sepak bola Indonesia U-13. Film ini berpusat pada kehidupan Bayu (Emir Mahira), anak berusia 12 tahun yang gemar bermain sepak bola. Ia ingin menjadi pemain sepak bola seperti almarhum ayahnya, namun mimpinya ini ditentang keras oleh kakeknya (Ikranagara). Menurut beliau, pemain sepak bola akan hidup melarat, apalagi pemain sepak bola Indonesia. Oleh karena itu, sang kakek lebih memilih mendaftarkan Bayu ke tempat les lukis dan drum.

Walau begitu, diam-diam Bayu tetap mendaftar ke Arsenal Soccer School Indonesia (SSI) dengan dibantu oleh Heri (Aldo Tansani), sahabatnya. Secara sembunyi-sembunyi, Bayu berlatih sepak bola. Ia bahkan sering berbohong pada kakeknya agar tetap bisa latihan. Saat peluang untuk masuk timnas U-13 sudah di depan mata, sang kakek akhirnya mengetahui kegiatan Bayu selama ini.

Garuda di Dadaku merupakan film yang sarat akan kritik-kritik sosial, misalnya saat Bayu mencari lapangan kosong untuk latihan. Film ini menunjukkan betapa Jakarta sudah amat sesak dengan bangunan, tak ada lagi lahan kosong untuk bermain sepak bola. Bayu pun akhirnya harus berlatih di kuburan.

Kritik lain disampaikan dalam adegan seorang ayah yang berusaha menyuap pelatih Arsenal SSI agar anaknya bisa lolos dalam timnas U-13. Adegan ini menunjukkan masih banyaknya praktek suap yang menodai persepakbolaan Indonesia.

Secara keseluruhan, Garuda di Dadaku amat menarik untuk ditonton. Memang, beberapa teman mengaku kecewa karena tidak banyak adegan sepak bola yang ditampilkan. Namun menurutku, esensi dari film ini memang terletak pada perjuangan Bayu, bukan permainan sepak bola itu sendiri.

Film garapan sutradara Ifa Isfansyah ini mengharukan dan penuh motivasi. Tema yang diangkat cukup berbeda dibanding film-film Indonesia kebanyakan. Jalan cerita yang mudah dicerna, artistik yang baik, ditambah dengan musik yang sesuai, menjadi nilai tambah dari film ini.

11 comments

Dari Purworejo ke Sumberharjo

Seperti laiknya mahasiswa semester atas, aku harus mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebagai syarat kelulusan. Selama dua bulan ke depan, yaitu Juli-Agustus, aku akan menjalani KKN di Desa Sumberharjo, Prambanan. Lokasi itu memang cukup dekat dengan rumahku, namun dibutuhkan perjalanan panjang sampai akhirnya aku bisa KKN di sana.

Cerita ini bermula pada akhir tahun lalu. Sejak bulan Desember, aku dan ketiga temanku sudah mulai mencari program KKN milik kakak angkatan yang sekiranya bisa kami lanjutkan. Alasannya, dengan menjalankan program lanjutan milik kakak angkatan, kami tidak perlu pusing lagi menentukan tema KKN. Selain itu, kami juga mendengar kabar bahwa KKN lanjutan lebih besar kemungkinannya untuk lolos seleksi Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) .

Kami berempat akhirnya menemukan satu tema KKN yang bisa dilanjutkan, yaitu tentang ekowisata air terjun Curug Muncar, Purworejo. Kami kemudian mulai bergerilya mencari teman-teman dari jurusan lain yang juga hendak KKN tahun ini. Cukup sulit mencari teman yang mau bergabung, karena Purworejo memang cukup jauh dari Jogja. Tapi kami tetap optimis KKN ini berhasil. Kami yakin LPPM akan membantu mencarikan anggota.

Setelah proposal KKN diajukan, kami mengadakan survey ke Desa Bruno, Purworejo. Cukup mengejutkan memang saat pertama kali ke sana. Medannya berbukit-bukit, menelan habis sinyal handphone semua provider . Walau begitu, kami berusaha untuk tetap semangat.

Hingga akhir Mei, LPPM tak kunjung memberi anggota tambahan. Padahal, jika anggota tim berjumlah kurang dari 20, otomatis tim kami harus bubar. Tak adanya kepastian dari LPPM, ditambah dengan sulitnya medan KKN, telah membuat semangat kami merosot drastis.

Kami semua sadar akan situasi kritis yang sedang terjadi. Akhirnya, kami pun memutuskan untuk bubar. Para anggota dipersilakan untuk pindah ke tim lain. Tapi bagi anggota yang tidak tahu akan pindah ke mana, ia akan dimasukkan ke tim KKN lain milik Pak Yoyo, dosen pembimbing kami. Ada dua tim KKN lain yang juga dibimbing oleh beliau, yaitu tim KKN Magelang dan Prambanan.

Kebetulan, tim KKN milik temanku masih membutuhkan satu anggota. Aku pun memutuskan untuk pindah ke timnya saja. Namun saat mengurus kepindahanku ke LPPM, rupanya lembaga ini langsung menolak keinginanku. Menurut mereka, jika tim KKNku bubar, aku harus pindah ke tim KKN lain milik Pak Yoyo. Aku sudah menjelaskan bahwa Pak Yoyo tidak keberatan atas kepindahanku, namun mereka tetap tidak peduli. Aku kemudian mengatakan bahwa tim KKN Magelang dan Prambanan akan overkuota jika kami semua dipindahkan hanya ke dalam dua tim tersebut.

LPPM kemudian memberikan keputusan yang, tumben, solutif. Mereka sudah tahu bahwa masalah utama tim kami adalah semangat dan motivasi. Oleh karena itu, tim kami dipersilakan pindah ke lokasi KKN lain milik Pak Yoyo, yaitu di Magelang atau Prambanan. Kedua lokasi ini relatif dekat dan mudah dijangkau, sehingga dengan berbekal semangat pas-pasan pun kami tetap dapat melakukan KKN di sana. Konsekuensinya tentu saja, kami harus mencari tema baru dalam waktu amat singkat. Mengenai jumlah anggota, LPPM berjanji akan memberi tambahan anggota.

Setelah mengetahui keputusan itu, kami memilih untuk pindah KKN ke Prambanan. Kami bersama Pak Yoyo kemudian langsung mengurus pondokan KKN di Desa Sumberharjo, Prambanan. Pak Lurah Desa Sumberharjo lalu menempatkan kami dalam dua pondokan, masing-masing di Dusun Sawo dan Dusun Umbulsari B.

Seminggu berikutnya, kami dilanda kabar mengejutkan. Saat rapat koordinasi dengan tim KKN seluruh Sleman, kami mengetahui bahwa Dusun Sawo telah ditempati oleh tim KKN lain. Bahkan, tim KKN lain itu juga menempati pondokan yang sama dengan kami. Entah kenapa, Pak Lurah tidak mengatakan apa-apa tentang hal ini. Di sela-sela ujian, kami harus mengurus masalah pondokan. Keputusan akhir, kami semua dipersilakan untuk menempati dua pondokan di Dusun Umbulsari B.

Saat mengurus pondokan, tak lupa juga kami melakukan survey atas potensi yang dimiliki dusun tersebut. Sabtu (27/6) lalu, akhirnya kami menemukan tema KKN, yaitu tentang pertanian terpadu berbasis potensi lokal. Kami nekat mengambil tema itu meski tak satu pun anggota tim berasal dari fakultas pertanian.

Penerjunan KKN akan dilakukan hari Kamis (2/7). Dari tujuan awal ke Purworejo, akhirnya kami pindah KKN ke Sumberharjo. Gara-gara malas membuat tema baru, nasib kami justru berakhir dengan mencari tema baru, dalam waktu singkat pula. Semoga saja, keadaan selama dua bulan ke depan tidak lebih sulit dibanding perjalanan kami selama ini.