Starin Sani

when-romance-meets-destiny
9 comments

When Romance Meets Destiny (2005)

My Rating: ★★★★
Genre: Drama

Film ini bercerita tentang sepasang kakak-beradik dengan kisah cinta mereka masing-masing. Kwang Sik (Kim Joo-hyuk), sang kakak, adalah seorang lelaki yang amat pemalu. Ia tak berani menyatakan perasaan pada wanita yang telah ia cintai selama tujuh tahun. Keadaan begitu sulit menurut Kwang Sik hingga ia berpendapat, Tuhan seharusnya memberi pertanda bila seseorang baru saja bertemu dengan jodohnya.

Sementara itu adiknya, Kwang Tae (Bong Tae-gyu), memiliki sifat yang amat berkebalikan. Kwang Tae adalah seorang lelaki bengal, amat percaya diri dalam urusan cinta. Meski demikian, kisah cinta Kwang Tae bukan berarti tanpa rintangan.

Meski menggunakan alur loncat, jalan cerita When Romance Meets Destiny cukup mudah dipahami. Film Korea satu ini juga kerap diselingi dengan adegan humor. Film ini cukup menarik, dapat dijadikan alternatif tontonan di kala senggang.

21 comments

Kelas Bahasa Inggris yang Problematis

Jurusan Ilmu Komunikasi UGM seolah belum siap menggelar kelas Bahasa Inggris.

Bahasa Inggris sebenarnya merupakan mata kuliah wajib di Jurusan Ilmu Komunikasi UGM. Mata kuliah ini nyata tercantum dalam buku panduan akademik.

Tak ada kelas

Beberapa tahun lalu, mahasiswa yang mengambil kelas Bahasa Inggris dipersilakan untuk mengikuti mata kuliah ini di Fakultas Ilmu Budaya UGM. Namun sejak angkatan 2004, tidak ada lagi mahasiswa yang mengambil Bahasa Inggris. Anehnya, para mahasiswa tersebut tetap dapat lulus tanpa harus mengikuti mata kuliah berstatus wajib ini.

Seiring dengan berlakunya kurikulum baru 2009, pihak jurusan menawarkan banyak mata kuliah baru. Salah satu mata kuliah yang disodorkan adalah Bahasa Inggris. Namun karena tidak adanya tenaga pengajar, kelas ini tidak memberikan materi apa pun. “Mahasiswa tinggal menyerahkan hasil tes TOEFL-nya, tidak ada pelajaran di kelas,” ujar Budhy Komarul Zaman, Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi UGM.

Nilai Bahasa Inggris mahasiswa otomatis hanya diukur semata-mata melalui tes TOEFL. Namun, tes TOEFL tersebut tidak digelar oleh pihak jurusan. Mahasiswa dipersilakan melakukan tes di lembaga Bahasa Inggris mana pun. Hal ini kemudian memunculkan pertanyaan di kalangan mahasiswa. “Terus uang SKS sebesar Rp 180 ribu lari ke mana? Nggak ada dosen, nggak ada materi, mahasiswa malah harus bayar lagi buat tes TOEFL di luar,” tukas Yuyun, mahasiswa Ilmu Komunikasi ‘06.

Menanggapi protes yang bermunculan, Budhy menerangkan bahwa memang sudah seharusnya mahasiswa membayar uang SKS. “Jumlah SKS Bahasa Inggris nantinya masuk di transkrip nilai. Jadi ya memang sudah sewajarnya mahasiswa membayar uang SKS, seperti halnya membayar uang SKS untuk mata kuliah lainnya,” jelas beliau.

Simpang Siur

Status yang disandang mata kuliah Bahasa Inggris pun dirasa kurang jelas. “Ada dosen yang bilang ini mata kuliah wajib, ada yang bilang enggak,” tutur Kiki, mahasiswa Ilmu Komunikasi ’06.

Menurut Budhy, Bahasa Inggris adalah mata kuliah wajib. “Saat sosialisasi kurikulum baru, sudah dijelaskan bahwa Bahasa Inggris adalah mata kuliah wajib,” tandas beliau. Namun karena sosialisasi diadakan saat libur antarsemester, banyak mahasiswa yang tidak mengetahui adanya sosialisasi.

Hingga kini, tak sedikit mahasiswa yang tetap bersikukuh tidak mengambil Bahasa Inggris. Mereka tetap merasa mata kuliah ini tak jelas hukumnya. “Nggak jelas!” komentar Yuyun.

Pihak jurusan hendaknya memperbaiki segala sesuatunya sebelum membuka kelas Bahasa Inggris, apalagi sebelum menetapkannya sebagai mata kuliah wajib. Semua harus dipersiapkan, mulai dari sosialisasi, tenaga pengajar, hingga materi. Dengan demikian, tidak terdapat kesimpangsiuran yang membuat mahasiswa enggan mengambil mata kuliah.

6 comments

Wisata Empat Pantai

Hari Minggu (27/9) lalu aku berwisata dengan teman-teman SMA. Kami pergi ke empat pantai di daerah Gunung Kidul, Yogyakarta. Berikut ini adalah pendapatku terhadap pantai-pantai berpasir putih tersebut.

Pantai Indrayanti
Pantai ini terbilang baru, kata temanku baru dibuka sekitar bulan Juni. Oleh karena itu, Pantai Indrayanti cukup sepi dibanding pantai lain di sekitarnya. Namun demikian, pemandangan di sini cukup berani untuk diadu. Kios makanan masih belum begitu banyak, namun telah tersedia fasilitas jet ski bagi pengunjung yang ingin mencoba.
Di sekitar pantai terdapat batu-batu karang besar dan tajam. Aku peringatkan, jangan sekali-kali bermain di dekat batu karang itu. Percayalah, aku sudah mencoba. Hasilnya, hampir seluruh tubuhku lecet terkena karang saat ombak menghantam.

Pantai Sundak
Karena sudah relatif terkenal, maka wajar saja bila pantai ini cukup ramai dipadati pengunjung. Di pantai Sundak, aku dan teman-teman hanya menumpang makan di warung yang memang lumayan banyak jumlahnya. Di pantai ini pula aku mengobati lukaku, karena di sini telah terdapat tenda P3K yang belum dijumpai di Pantai Indrayanti. Meski pelayanannya pas-pasan, obat juga tidak meyakinkan, tapi lumayanlah daripada lukaku tidak diobati sama sekali.

Pantai Ngandong
Pantai ini terletak persis di sebelah Pantai Sundak, pengunjung tinggal berjalan melewati bukit untuk mencapai pantai yang berbentuk seperti teluk kecil ini. Ombak di pantai Ngandong relatif kecil dan tenang. Ombak-ombak itu datang dari segala arah, saling bertubrukan dengan anggunnya.

Pantai Drini
Pantai Drini merupakan persinggahan terakhirku dan teman-teman. Tak jauh dari pantai ini terdapat pulau kecil berbukit. Pengunjung dapat berjalan kaki untuk menyeberang sampai pulau tersebut. Saat menyeberang, air laut kira-kira hanya setinggi lutut orang dewasa.
Untuk bisa menaiki bukit, pengunjung dikenai tarif sebesar Rp 1.000 saja. Pemandangan di atas bukit amat indah, namun kami memutuskan untuk turun sebelum matahari terbenam karena tempat itu pasti akan amat gelap di malam hari.
Akhirnya kami menyaksikan sunset dari tepi pantai. Pantai Drini indah dan sepi, penutup sempurna untuk wisata kami.

0 comments

Star Trek


Rating: ★★★
Category: Movies
Genre: Science Fiction & Fantasy

Film ini dibuka dengan adegan heroik George Kirk, kapten pesawat luar angkasa yang rela mengorbankan nyawa untuk menyelamatkan 800 penumpangnya. Pada malam sang kapten meninggal, istrinya melahirkan seorang bayi lelaki yang kemudian diberi nama James Kirk.

Star Trek berkisah tentang usaha James Kirk untuk menjadi kapten pesawat seperti ayahnya. Kirk memutuskan untuk bergabung dalam akademi Starfleet. Dalam perjalanannya menjadi kapten, ia bertemu dengan pesaing bernama Spock. Keduanya kemudian mendapat ujian nyata saat bangsa Romulan datang dari masa depan untuk membalas dendam .

Secara keseluruhan, film yang disutradarai J. J. Abrams ini cukup menarik untuk ditonton. Perpindahan gambar terkadang terlalu cepat, namun jalan ceritanya cukup mudah dipahami dibanding film berjenis sci-fi/fantasy lainnya.

5 comments

Dahsyatnya Baim

Hari Senin (10/8) kemarin, aku menyantap sarapan sembari menonton sebuah tayangan musik populer, Dahsyat. Saat itu, pengisi acara yang sedang tampil adalah Wayang, band yang namanya cukup berkibar jaman aku masih SD. Setelah Wayang usai membawakan sebuah lagu, Raffi Ahmad muncul disusul Olga yang sedang menggendong Baim si artis cilik.

Raffi Ahmad dan Olga kemudian bermain-main dengan bocah imut itu. Tiba-tiba, Baim menjambak rambut Olga. Semua penonton di studio tertawa. Seolah belum puas, Baim menjambak lagi rambut sang presenter, kali ini lebih keras. Penonton kembali terbahak-bahak. Adegan menjambak ini terjadi berulang-ulang, diselingi dengan suara Baim yang sedang mengejek, ”Om Olga jelek!”

Jujur saja, aku ikut tertawa saat menyaksikan tayangan ini. Walau begitu, menurutku adegan ini tidak pantas ditayangkan di televisi. Bagaimanapun juga, Olga jauh lebih tua dibanding Baim. Tidak seharusnya Baim menjambaki rambutnya. Dan jika Baim belum mengerti bahwa perbuatannya itu tidak baik, seharusnya ada yang mengingatkan. Tapi pada kenyataannya, tak ada seorang pun yang memberi tahu Baim. Bahkan, Raffi Ahmad malah mengajari Baim untuk mengatai Olga.

Sungguh keterlaluan tayangan televisi kita saat ini. Jika ada anak kecil yang menonton, Baim tentu memberi contoh yang kurang baik. Dengan kata lain, televisi telah mendidik generasi penerus bangsa menjadi kurang bermoral.

Tidak hanya Dahsyat, aku yakin masih banyak acara lain yang menyajikan tontonan sarkas seperti ini. Kini orang tua tidak bisa lagi membiarkan anaknya ’diasuh’ televisi. Orang tua harus mendampingi anaknya menonton, kalau masih ingin sang buah hati tumbuh menjadi anak yang bermoral. 

Pages:«1...50515253545556...61»