Starin Sani

12 comments

Unit Kegiatan Mahasiswa Pun Menjerit

Sungguh miris rasanya mendengar curahan hati rekan-rekan aktivis Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di UGM. Tiap UKM memiliki permasalahan masing-masing, semuanya disuarakan pada Lokakarya Pembinaan UKM, Jumat-Sabtu (6-7/11) lalu.

Kebetulan, saya mewakili SKM Bulaksumur dalam menghadiri lokakarya yang dihelat di Wanagama tersebut. Lokakarya yang digelar oleh Direktorat Kemahasiswaan UGM itu diikuti oleh sekitar 30 UKM. 

Permasalahan dana

Permasalahan umum yang dihadapi tiap UKM adalah mengenai pendanaan dari rektorat. Dari jumlah anggaran dana yang diajukan UKM, biasanya tidak sampai 50% yang dicairkan oleh UGM. UGM, khususnya bagian Direktorat Kemahasiswaan, dinilai tidak transparan dalam melaporkan alokasi dana untuk UKM.

Permasalahan lain adalah mengenai kesejahteraan pelatih UKM, hal ini khususnya dirasakan oleh teman-teman dari UKM seni dan olahraga. Misalnya saja untuk pelatih UKM UKJGS (tari Jawa gaya Surakarta), pelatihnya hanya digaji Rp 150 ribu per bulan oleh kampus yang mengaku sebagai world class university ini. Sementara untuk pelatih UKM basket, pelatihnya digaji Rp 750 ribu per bulan. Padahal pelatih basket UGM saat ini merupakan mantan pelatih klub Satria Muda, yang standar gajinya di atas Rp 1 juta. Namun jangan salah, uang Rp 750 ribu itu pun tidak seluruhnya berasal dari kampus biru. Tak disebutkan berapa jatah uang gaji yang diberikan UGM, yang jelas kekurangannya ditutup menggunakan uang saku manajer tim basket.

Menanggapi keluhan tersebut, Drs. Haryono, Ak., M.Com. selaku Direktur Keuangan UGM hanya mengatakan, “namanya juga kampus kerakyatan,” yang langsung kami sambut dengan tawa sinis. Memang untuk permasalahan ini, bukan kapasitas Pak Haryono untuk memberi tanggapan. Tugas Direktur Keuangan “hanya” mencairkan dana. Keputusan mengenai jumlah nominal yang diberikan kepada UKM terletak pada Drs. Haryanto, M.Si selaku Direktur Kemahasiswaan UGM. Namun amat disayangkan, beliau yang terhormat itu tidak bisa mengikuti jalannya lokakarya. Karena sibuk, sosok yang akrab disapa Pak Sentot itu hanya sempat datang ke lokakarya untuk memberi kata sambutan. 

Peminjaman tempat

Problem lain yang banyak dikeluhkan adalah mengenai peminjaman gedung yang dimiliki UGM, seperti UC (University Club) dan Gedung Koesnadi Hardjasoemantri. UKM tidak diberi keringanan dana dalam meminjam gedung-gedung tersebut, padahal tempat itu seharusnya merupakan fasilitas yang bisa dinikmati oleh mahasiswa UGM.

Jangankan meminjam tempat untuk mengadakan event, untuk melakukan kegiatan rutin saja kini banyak UKM yang terancam digusur dari tempatnya semula. UKM Marching Band yang biasa berlatih di halaman Gedung Koesnadi Hardjosoemantri misalnya, dalam waktu dekat ini tak lagi diperbolehkan berlatih di sana. UKM-UKM bela diri juga harus mencari tempat latihan baru, karena pihak rektorat lebih sayang kepada hijaunya rumput boulevard. Sementara itu, UKM Pramuka tidak lagi boleh melakukan upacara di sebelah utara gedung pusat.

Menurut Pak Bambang, salah satu kepala subdirektorat di Direktorat Kemahasiswaan, tempat-tempat itu berada di luar kewenangan Direktorat Kemahasiswaan. Beliau tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantu UKM. Sementara untuk permasalahan lain yang terkait dengan Direktorat Kemahasiswaan, beliau berjanji akan menyampaikannya pada Pak Sentot.

Semoga saja hasil sharing dari lokakarya tersebut benar-benar disampaikan dan ditanggapi oleh sang Direktur Kemahasiswaan. Jika tidak, lokakarya mewah selama dua hari itu hanya merupakan salah satu bentuk penghambur-hamburan uang yang dilakukan kampus kerakyatan.

marley-amp-me
0 comments

Marley & Me (2008)

My Rating: ★★★
Genre: Drama

Satu lagi film yang mengisahkan persahabatan antara anjing dan manusia, Marley & Me. Yang menjadikannya berbeda dibanding film bertema serupa adalah, persahabatan anjing-majikan yang disajikan dalam Marley & Me tergolong cukup unik.

Kisah di film ini bermula dari pernikahan antara John Grogan (Owen Wilson) dan Jenny Havens (Jennifer Aniston). Merasa belum siap memiliki anak, John berusaha menyibukkan Jenny dengan menghadiahinya anak anjing. John kemudian menamai anak anjing itu Marley, terinsipirasi oleh penyanyi reggae Bob Marley.

Seiring dengan berjalannya waktu, Marley tumbuh menjadi anjing yang besar, kuat, namun amat sulit diatur. Masalah kian bertambah saat John dan sang istri akhirnya sepakat untuk memiliki anak pertama.

Secara keseluruhan, Marley & Me cukup menarik untuk ditonton. Beberapa adegan terasa mengharukan, amat memanjakan mata para penggemar film drama.

when-romance-meets-destiny
9 comments

When Romance Meets Destiny (2005)

My Rating: ★★★★
Genre: Drama

Film ini bercerita tentang sepasang kakak-beradik dengan kisah cinta mereka masing-masing. Kwang Sik (Kim Joo-hyuk), sang kakak, adalah seorang lelaki yang amat pemalu. Ia tak berani menyatakan perasaan pada wanita yang telah ia cintai selama tujuh tahun. Keadaan begitu sulit menurut Kwang Sik hingga ia berpendapat, Tuhan seharusnya memberi pertanda bila seseorang baru saja bertemu dengan jodohnya.

Sementara itu adiknya, Kwang Tae (Bong Tae-gyu), memiliki sifat yang amat berkebalikan. Kwang Tae adalah seorang lelaki bengal, amat percaya diri dalam urusan cinta. Meski demikian, kisah cinta Kwang Tae bukan berarti tanpa rintangan.

Meski menggunakan alur loncat, jalan cerita When Romance Meets Destiny cukup mudah dipahami. Film Korea satu ini juga kerap diselingi dengan adegan humor. Film ini cukup menarik, dapat dijadikan alternatif tontonan di kala senggang.

21 comments

Kelas Bahasa Inggris yang Problematis

Jurusan Ilmu Komunikasi UGM seolah belum siap menggelar kelas Bahasa Inggris.

Bahasa Inggris sebenarnya merupakan mata kuliah wajib di Jurusan Ilmu Komunikasi UGM. Mata kuliah ini nyata tercantum dalam buku panduan akademik.

Tak ada kelas

Beberapa tahun lalu, mahasiswa yang mengambil kelas Bahasa Inggris dipersilakan untuk mengikuti mata kuliah ini di Fakultas Ilmu Budaya UGM. Namun sejak angkatan 2004, tidak ada lagi mahasiswa yang mengambil Bahasa Inggris. Anehnya, para mahasiswa tersebut tetap dapat lulus tanpa harus mengikuti mata kuliah berstatus wajib ini.

Seiring dengan berlakunya kurikulum baru 2009, pihak jurusan menawarkan banyak mata kuliah baru. Salah satu mata kuliah yang disodorkan adalah Bahasa Inggris. Namun karena tidak adanya tenaga pengajar, kelas ini tidak memberikan materi apa pun. “Mahasiswa tinggal menyerahkan hasil tes TOEFL-nya, tidak ada pelajaran di kelas,” ujar Budhy Komarul Zaman, Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi UGM.

Nilai Bahasa Inggris mahasiswa otomatis hanya diukur semata-mata melalui tes TOEFL. Namun, tes TOEFL tersebut tidak digelar oleh pihak jurusan. Mahasiswa dipersilakan melakukan tes di lembaga Bahasa Inggris mana pun. Hal ini kemudian memunculkan pertanyaan di kalangan mahasiswa. “Terus uang SKS sebesar Rp 180 ribu lari ke mana? Nggak ada dosen, nggak ada materi, mahasiswa malah harus bayar lagi buat tes TOEFL di luar,” tukas Yuyun, mahasiswa Ilmu Komunikasi ‘06.

Menanggapi protes yang bermunculan, Budhy menerangkan bahwa memang sudah seharusnya mahasiswa membayar uang SKS. “Jumlah SKS Bahasa Inggris nantinya masuk di transkrip nilai. Jadi ya memang sudah sewajarnya mahasiswa membayar uang SKS, seperti halnya membayar uang SKS untuk mata kuliah lainnya,” jelas beliau.

Simpang Siur

Status yang disandang mata kuliah Bahasa Inggris pun dirasa kurang jelas. “Ada dosen yang bilang ini mata kuliah wajib, ada yang bilang enggak,” tutur Kiki, mahasiswa Ilmu Komunikasi ’06.

Menurut Budhy, Bahasa Inggris adalah mata kuliah wajib. “Saat sosialisasi kurikulum baru, sudah dijelaskan bahwa Bahasa Inggris adalah mata kuliah wajib,” tandas beliau. Namun karena sosialisasi diadakan saat libur antarsemester, banyak mahasiswa yang tidak mengetahui adanya sosialisasi.

Hingga kini, tak sedikit mahasiswa yang tetap bersikukuh tidak mengambil Bahasa Inggris. Mereka tetap merasa mata kuliah ini tak jelas hukumnya. “Nggak jelas!” komentar Yuyun.

Pihak jurusan hendaknya memperbaiki segala sesuatunya sebelum membuka kelas Bahasa Inggris, apalagi sebelum menetapkannya sebagai mata kuliah wajib. Semua harus dipersiapkan, mulai dari sosialisasi, tenaga pengajar, hingga materi. Dengan demikian, tidak terdapat kesimpangsiuran yang membuat mahasiswa enggan mengambil mata kuliah.

6 comments

Wisata Empat Pantai

Hari Minggu (27/9) lalu aku berwisata dengan teman-teman SMA. Kami pergi ke empat pantai di daerah Gunung Kidul, Yogyakarta. Berikut ini adalah pendapatku terhadap pantai-pantai berpasir putih tersebut.

Pantai Indrayanti
Pantai ini terbilang baru, kata temanku baru dibuka sekitar bulan Juni. Oleh karena itu, Pantai Indrayanti cukup sepi dibanding pantai lain di sekitarnya. Namun demikian, pemandangan di sini cukup berani untuk diadu. Kios makanan masih belum begitu banyak, namun telah tersedia fasilitas jet ski bagi pengunjung yang ingin mencoba.
Di sekitar pantai terdapat batu-batu karang besar dan tajam. Aku peringatkan, jangan sekali-kali bermain di dekat batu karang itu. Percayalah, aku sudah mencoba. Hasilnya, hampir seluruh tubuhku lecet terkena karang saat ombak menghantam.

Pantai Sundak
Karena sudah relatif terkenal, maka wajar saja bila pantai ini cukup ramai dipadati pengunjung. Di pantai Sundak, aku dan teman-teman hanya menumpang makan di warung yang memang lumayan banyak jumlahnya. Di pantai ini pula aku mengobati lukaku, karena di sini telah terdapat tenda P3K yang belum dijumpai di Pantai Indrayanti. Meski pelayanannya pas-pasan, obat juga tidak meyakinkan, tapi lumayanlah daripada lukaku tidak diobati sama sekali.

Pantai Ngandong
Pantai ini terletak persis di sebelah Pantai Sundak, pengunjung tinggal berjalan melewati bukit untuk mencapai pantai yang berbentuk seperti teluk kecil ini. Ombak di pantai Ngandong relatif kecil dan tenang. Ombak-ombak itu datang dari segala arah, saling bertubrukan dengan anggunnya.

Pantai Drini
Pantai Drini merupakan persinggahan terakhirku dan teman-teman. Tak jauh dari pantai ini terdapat pulau kecil berbukit. Pengunjung dapat berjalan kaki untuk menyeberang sampai pulau tersebut. Saat menyeberang, air laut kira-kira hanya setinggi lutut orang dewasa.
Untuk bisa menaiki bukit, pengunjung dikenai tarif sebesar Rp 1.000 saja. Pemandangan di atas bukit amat indah, namun kami memutuskan untuk turun sebelum matahari terbenam karena tempat itu pasti akan amat gelap di malam hari.
Akhirnya kami menyaksikan sunset dari tepi pantai. Pantai Drini indah dan sepi, penutup sempurna untuk wisata kami.

Pages:«1...51525354555657...62»