Starin Sani

20 comments

Inikah Dampak UU BHP?

Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (UU BHP) telah disahkan sejak Desember tahun lalu. Namun saat itu aku tak terlalu ambil pusing tentangnya karena memang kurang paham dengan isinya. Baru pada Februari kemarin aku mengenal lebih jauh tentang seluk beluk UU BHP, itu pun juga karena tak sengaja dijelaskan oleh kakakku.

Pada intinya, UU BHP menyebutkan bahwa kewenangan pengelolaan universitas negeri kini sepenuhnya berada pada pihak universitas yang bersangkutan. Universitas tidak lagi ditempatkan sebagai unit pelaksana teknis dari Departemen Pendidikan Nasional, melainkan sebagai suatu unit yang otonom. Hal itu berarti, UU BHP “memaksa” universitas negeri untuk melakukan privatisasi. Dengan privatisasi, terdapat kecenderungan universitas negeri akan menjadi semakin komersil. Biaya pendidikan dikhawatirkan akan melejit tinggi. Tampaknya alasan itulah yang membuat UU ini kemudian menuai berbagai protes.

Walau sudah sedikit mengerti tentang UU BHP beserta problematikanya, namun aku tetap memutuskan untuk tidak terlalu peduli. Toh juga universitas negeri memang sudah mahal sejak belum disahkannya UU BHP.

Tapi beberapa hari yang lalu tiba-tiba persoalan UU ini mendapat ruang di pikiranku. Setrajana, sebuah organisasi pecinta alam FISIPOL UGM, menggelar suatu acara band-bandan, Selasa (12/5) siang. Acara yang digelar di lapangan tengah FISIPOL tersebut tampaknya didukung sepenuhnya oleh sebuah produk multivitamin. Hal itu terlihat dari banyaknya umbul-umbul dan stand di sekitar panggung yang bertuliskan merk produk tersebut. Bahkan, pada awalnya aku mengira acara tersebut digelar murni oleh sang produk multivitamin, bukan oleh Setrajana.

Saat pertama melihat umbul-umbul produk di dalam gedung FISIPOL, tak terlintas pikiran apa pun di benakku. Namun beberapa saat kemudian aku baru tersadar. Tahun lalu ketika KOMAKO hendak menghelat Communication Expo (Commex), panita dilarang memasang media promosi milik sponsor di dalam lingkungan kampus. Spanduk dan segala tetek-bengek milik sponsor paling mentok hanya bisa dipasang di tempat parkir. Namun kini, lapangan tengah FISIPOL dipenuhi warna merah, warna utama produk tersebut.

Barangkali sejak disahkannya UU BHP, pihak fakultas mengambil kebijakan untuk bersikap lebih longgar terhadap masuknya sponsor dari luar. Sekarang kegiatan belajar mengajar seolah dikesampingkan. Acara band-bandan yang digelar di jam kuliah tentu cukup mengganggu kegiatan belajar mengajar. Meski di satu sisi aku merasa senang ada tontonan, tapi di sisi lain aku mengakui bahwa acara itu membuatku malas masuk kelas. Setelah kupaksakan untuk masuk kelas pun, rupanya kegiatan belajar mengajar cukup terganggu oleh kerasnya dentuman musik yang berhasil menerobos masuk ruang kelas.

Terlepas dari dampak UU BHP atau bukan, aku berharap pihak fakultas dapat lebih memikirkan lagi saat hendak menerima proposal acara semacam ini. Biaya kuliah boleh mahal, tapi harus setimpal dengan servis dan fasilitas yang diberikan. 

26 comments

Kampanye Adem, Debat Pun Anteng

Korps Mahasiswa Komunikasi (KOMAKO) sedang menggelar rangkaian acara suksesi untuk mencari ketua dan sekretaris jenderal (sekjen) baru. Rangkaian acara yang dimulai sejak awal April itu kini tengah memasuki tahap pemungutan suara.

Pada awalnya, suksesi tahun ini berlangsung “panas”. Ada tiga calon ketua yang hendak mencalonkan diri. Namun semenjak salah satu calon ketua dinyatakan gugur karena tidak memenuhi persyaratan, atmosfer suksesi langsung berubah menjadi “adem”. Hal ini terlihat dari masa kampanye yang berlangsung hingga Rabu (6/5) lalu. Selama sepekan masa kampanye, tak terlihat satu pun poster kampanye yang tertempel di papan-papan pengumuman. Sejauh pengamatan saya, hanya ada beberapa selebaran milik salah satu calon yang tergeletak di Kepel, pohon rindang di depan Ruang Jurusan Komunikasi UGM. Selebaran itu pun juga baru terlihat pada hari terakhir kampanye. Sementara itu, calon lainnya memilih untuk berkampanye melalui Facebook.

Setelah periode kampanye ditutup, rangkaian acara suksesi dilanjutkan dengan orasi dan debat antarcalon yang dihelat Kamis (7/5) lalu. Acara orasi dibuka dengan yel-yel oleh tim sukses kedua calon. Satu hal yang menjadi perhatian saya, yel salah satu calon hanya dibawakan oleh empat orang tim sukses, dan yel calon lainnya bahkan hanya dibawakan oleh satu orang tim sukses. Padahal, syarat untuk menjadi calon ketua dan sekjen KOMAKO adalah “memperoleh dukungan dari minimal 30 mahasiswa Komunikasi yang dibuktikan dengan mengumpulkan fotocopy ke-30 KTM mahasiswa tersebut.” Tiga puluh. Tapi di mana puluhan orang itu saat calon yang mereka dukung berorasi? 

Hal ini amat kontras jika dibandingkan dengan suksesi tahun lalu yang berlangsung seru dan ramai, mulai dari masa kampanye hingga orasi. Tahun lalu, selama masa kampanye dapat ditemukan berbagai poster kampanye tertempel dengan desain yang menarik. Tim sukses para calon berkoar-koar di mana-mana. Meriah, terdengar gaungnya.

Saat orasi pun tidak kalah seru. Pada orasi tahun lalu memang tidak ada acara yel-yel dari tim sukses. Namun tim sukses salah satu calon berinisiatif untuk memakai topeng-topeng dengan wajah calon yang mereka ajukan. Unik, lucu, serta menunjukkan dukungan dan loyalitas terhadap si calon.

Walau begitu, secara keseluruhan acara orasi tahun ini berjalan lancar. Sesi tanya jawab yang dibuka seusai para calon memaparkan visi dan misi berlangsung ramai. Para mahasiswa Komunikasi, mulai dari angkatan 2005 sampai 2008, berlomba-lomba mengajukan pertanyaan kritis kepada kedua calon.

Sesi tanya jawab itu kemudian diteruskan dengan sesi debat antarcalon. Memasuki sesi debat, ada satu hal lagi yang menjadi perhatian saya. Para calon tampak malu-malu dalam mengritisi dan mendebat pesaingnya. Moderator sudah banyak memancing para calon, namun tetap saja mereka seolah enggan, cari aman, dan tampak berusaha sopan. Hal ini terlihat saat salah seorang calon ingin mengatakan bahwa pesaingnya belum berpengalaman di KOMAKO. Calon tersebut memaparkannya dengan hati-hati dan didahului dengan kata maaf yang tulus, seakan takut menyakiti hati lawan.

Saya tertawa melihatnya. Kejadian ini ibarat Kimi Raikkonen mengucapkan “permisi” sebelum menyalip Jenson Button dalam lintasan F1. Ngapain bilang “permisi”? Jadi, ngapain takut menyakiti hati lawan? Namanya juga acara debat. Asalkan argumen kita masuk akal dan sesuai fakta, tak ada yang perlu disegani.

Tahap pemungutan suara masih akan berlangsung hingga Jumat (15/5). Siapa yang akhirnya menjadi jawara, kita tunggu saja hasilnya. 

30 comments

Sepenggal Curahan di Masa Pemilihan

“It’s not easy to be me…” (Superman, Five for Fighting)

Kisah ini bermula dari rapat petinggi Korps Mahasiswa Komunikasi (KOMAKO), sebuah organisasi mahasiswa Ilmu Komunikasi UGM, kira-kira sebulan yang lalu. Rapat yang kuhadiri tersebut membahas mengenai suksesi KOMAKO yang sudah harus segera digelar. Dalam rapat kecil itu dirumuskan persyaratan calon ketua dan sekretaris jenderal (Sekjen) KOMAKO periode 2009/2010. Tercatat ada enam persyaratan yang sudah fix, serta ada satu persyaratan yang masih perlu digodok. Persyaratan yang masih diperdebatkan itu adalah perolehan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimal 3,00 bagi calon ketua dan sekjen.

Setelah membahas persyaratan, rapat tersebut kemudian memutuskan untuk membentuk sebuah badan independen yang bertugas mengurus masalah suksesi. Entah berkah atau musibah, aku ditunjuk sebagai ketua tim suksesi itu.

Seminggu setelah rapat petinggi KOMAKO, aku mengadakan rapat bersama tujuh anggota tim suksesi. Dalam rapat itu, aku dan teman-teman panitia membahas masalah persyaratan IPK minimal 3,00. Setelah perdebatan sengit, akhirnya diputuskan bahwa persyaratan IPK tersebut sah diberlakukan pada suksesi tahun ini.

Awalnya, periode pendaftaran ketua dan sekjen KOMAKO hanya dua minggu saja, yaitu 6-22 April 2009. Namun satu hari menjelang pendaftaran ditutup, baru ada satu pasang calon yang mendaftar, yaitu pasangan Dida-Fajar. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya ditetapkan bahwa masa pendaftaran diperpanjang hingga 29 April 2009.

Selama perpanjangan waktu tersebut, banyak hal yang terjadi. Tiga mahasiswi Ilmu Komunikasi 2007, sebut saja 3 Diva, membuat gebrakan dengan menjadi tim sukses Cemi-Aish sebagai calon ketua dan sekjen. Cukup banyak mahasiswa yang menjagokan Cemi sebagai ketua, namun sayang IPK lelaki jangkung tersebut tak mencapai angka 3,00. Tapi bukan 3 Diva namanya jika mereka menyerah. Mereka mengumpulkan tanda tangan teman-teman untuk meyakinkan tim suksesi bahwa IPK di bawah 3,00 tak akan menjadi masalah.

Dengan terpaksa aku menolak tanda tangan tersebut, karena aku berusaha konsisten terhadap peraturan yang telah dirumuskan. Tapi ternyata semua itu tidak mudah, banyak pihak yang berusaha membuatku goyah. Aku berusaha menegakkan peraturan, tapi tak sedikit kujumpai godaan. Semakin aku teguh, semakin banyak yang mengeluh. Aku dihujat banyak pihak, sungguh sulit untuk mengelak. Aku berada dalam dilema, berusaha mencari pencerahan atas permasalahan yang ada.

Percayalah teman-teman, tidak menyenangkan berada dalam posisiku. Meski pada awalnya persyaratan IPK hanyalah sebuah wacana, namun tim suksesi telah mengesahkannya. Seharusnya seluruh tim suksesi ikut mempertanggungjawabkan keputusan yang kami buat bersama, namun pada kenyataannya seolah hanya aku yang menanggung. Tidak mudah bagiku untuk memperoleh dukungan, bahkan dari anggota tim suksesi sendiri. Salah satu anggota tim suksesi adalah anggota 3 Diva, dan salah satu anggota yang lain adalah Aish, si calon sekjen sendiri. Dengan susunan tim suksesi yang amat subjektif itu, tidak mudah menjadi diriku. Sungguh.

Waktu itu rasanya kepalaku mau pecah. Masa depan KOMAKO berada di tanganku. Apa pun keputusanku akan amat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup KOMAKO. Beban berat itu tak sanggup kupikul sendirian. Aku butuh masukan, masukan yang objektif. Namun dalam situasi politik sepanas itu, sulit menemukan orang yang masih berkepala dingin, dengan pendapat-pendapat bijaksana.

Hari-hari terakhir menjelang batas pendaftaran, tekanan untukku meningkat tajam. Bahkan hingga 20 menit menjelang pendaftaran ditutup, masih ada saja pihak yang mengirimiku sms agar melunakkan peraturan. Namun aku tetap bertahan, konsisten dengan persyaratan yang telah kutetapkan.

Saat ini pendaftaran ketua dan sekjen KOMAKO telah resmi ditutup. Tercatat ada dua calon yang masuk, yaitu Dida-Fajar dan Iim-Aish. Pasangan yang disebut terakhir ini akhirnya mendaftar pada detik-detik terakhir.

Dengan adanya dua calon, suksesi tahun ini akan berlangsung seru. Namun satu hal yang membuatku kecewa, banyak pihak yang mengancam tidak akan peduli lagi terhadap KOMAKO jika Cemi tak diperbolehkan mencalonkan diri. Menurutku perbuatan mereka sungguh tak dewasa. Mereka seolah meng-underestimate-kan calon-calon yang ada. Belum tentu ketua terpilih nantinya lebih buruk dibanding Cemi. Siapa pun yang menjadi ketua nanti, aku yakin mereka memiliki itikad baik untuk memajukan KOMAKO. Dengan bimbingan ketua-sekjen sebelumnya, aku optimis KOMAKO akan berjalan menuju ke arah yang lebih baik.

Jika kita MEMANG peduli pada KOMAKO, seharusnya tak terpilihnya Cemi bukanlah alasan untuk bersikap apatis. Jika ragu KOMAKO bisa menjadi lebih baik di tangan ketua terpilih, seyogyanya kita justru membantu dan mendukungnya. Bersama, kita bisa menciptakan masa depan cerah bagi KOMAKO. 

10 comments

The Fast and The Furious 4


Rating: ★★★
Category: Movies
Genre: Action & Adventure

Aku bukanlah seorang pecinta film action. Kalau bukan karena dibayarin dan diajak oleh keluarga, aku tidak akan menonton The Fast and The Furious 4. Namun rupanya, film berdurasi 100 menit ini berhasil membuatku merasa tidak rugi menontonnya.

The Fast and The Furious 4 berkisah tentang Dom Toretto (Vin Diesel) yang berniat untuk membalas kematian Letty (Michelle Rodriguez), kekasihnya. Letty ditembak pada suatu malam oleh Fenix (Laz Alonso), salah satu anak buah Braga (John Ortiz), seorang gembong narkoba. Untuk membalas kematian kekasihnya, Dom mendaftar menjadi salah satu pembalap anak buah Braga yang bertugas untuk mengantar narkoba.

Sementara itu, Braga sendiri sudah lama menjadi incaran FBI. FBI kemudian mengirimkan Brian O’Conner (Paul Walker) untuk menyamar menjadi pembalap anak buah Braga, sama seperti Dom. Dom dan Brian dulu merupakan teman yang tidak begitu baik hubungannya. Namun karena memiliki tujuan yang sama, mereka bahu membahu dalam kasus ini. Dom sebenarnya juga merupakan salah satu target yang ingin ditangkap FBI, tapi setelah segala perjuangan yang dialami bersama, Brian lalu berusaha menghapus status buron Dom.

The Fast and The Furious 4 dibuka dengan adegan perampokan truk bermuatan minyak oleh Dom dan Letty. Perampokan yang dilakukan saat truk sedang melaju ini cukup mendebarkan dan menimbulkan minatku untuk terus menonton. Berbagai mobil mewah dengan desain modern, serta serunya balapan, menjadi daya tarik dalam film yang diproduseri sendiri oleh Vin Diesel ini.

Namun ada beberapa teman yang berkata, “filmnya gitu-gitu doang.” Menurut mereka, film ini tak jauh berbeda dari The Fast and The Furious sebelumnya. Tapi menurutku itu tak jadi masalah, toh aku belum pernah menonton segala jenis The Fast and The Furious selain yang ke-4 ini.

Terlepas dari kelebihan dan kelemahan film ini, ada satu hal yang cukup menarik perhatianku. Film ini banyak menampilkan adegan orang-orang lesbi. Meski hanya sekilas-sekilas, tapi sering. Entah latar belakang sosial apa yang dimiliki Justin Lin sebagai sutradara.

Secara keseluruhan, The Fast and The Furious 4 cukup menarik untuk ditonton. Tapi tentu saja, malaikat juga tahu film drama yang jadi juaranya.

15 comments

Makna Bulan bagi Bintang

Ada dua belas bulan dalam setahun. Kedua belas bulan itu memiliki makna sendiri-sendiri yang selalu melekat di ingatanku.

Januari : Bulan beres-beres kamar
Kata mamaku, kamar bersih di awal tahun dapat membuka kran rejeki sepanjang tahun. Benar atau tidak, yang jelas aku selalu membereskan kamar pada bulan Januari. Membereskan kamar adalah hal yang spesial bagiku, karena kegiatan itu hanya kulakukan sekali saja dalam setahun. Silakan dibayangkan betapa berantakannya kamarku.

Februari : Bulan kasih sayang
Februari identik dengan valentine’s day. Meski sudah tidak pernah lagi merayakan hari kasih sayang, namun bagaimana pun juga aku pernah muda. Aku masih ingat betul jaman-jaman jahiliyah saat aku SMP dan SMA. Saat itu idiom yang berlaku adalah “nggak g4ul kalau nggak tukar cokelat”. Selain itu, hampir semua media menggembar-gemborkan tentang hari kasih sayang pada bulan Februari. Stasiun televisi berlomba-lomba menayangkan sinema spesial valentine, majalah-majalah remaja menerbitkan edisi khusus valentine, stasiun-stasiun radio menyiarkan kuis spesial valentine. Intinya, tidak mungkin aku mengabaikan valentine’s day.

Maret : Bulan menabung
Bulan Maret kutetapkan sebagai bulan menabung, mengenai alasannya dapat dibaca pada makna bulan April di bawah. Tapi meski aku sudah bertekad untuk giat menabung, tetap saja uang yang berhasil kukumpulkan pada bulan ini tak terlalu banyak.

April : Bulan bokek sedunia
Aku adalah seorang aries yang lahir di bulan April. Tentu sudah bisa ditebak mengapa kutetapkan April sebagai bulan bokek sedunia, yaitu karena aku harus mentraktir teman-temanku. Ditambah lagi kebetulan kakakku juga berulang tahun di bulan April. Tapi memberi kado untuk kakakku sifatnya sukarela. Kalau punya uang ya ngasih kado, kalau punya uang tapi nggak rela ya nggak ngasih. Tapi pos pengeluaran terbesar di bulan ini bukan terletak pada traktiran atau kado untuk kakakku, melainkan pada kado untuk sang pacar. Sayang seribu sayang dia juga lahir di bulan April. Oh miskinnya diriku di bulan ini.

Mei : Bulan Bulaksumur Pos
Mungkin karena saat ini teman-teman sedang mempersiapkan acara perayaan untuk ultah Bulaksumur Pos, jadi hal itulah yang langsung muncul di pikiranku saat menyebut kata “Mei”. Bulaksumur Pos merupakan salah satu produk dari Surat Kabar Mahasiswa (SKM) Bulaksumur, salah satu pers mahasiswa di UGM yang kugeluti. Bulaksumur Pos pertama kali terbit pada 8 Mei 2000, terbit setiap Selasa dan dibagikan secara gratis kepada civitas akademika UGM.

Juni : Bulan aku dan dia
Empat tahun yang lalu, aku jadian sama sang pacar di bulan ini. Setiap bulan Juni kami selalu merayakan hari jadi kami. Keuanganku lagi-lagi sedikit terkuras, karena kami punya tradisi bertukar kado pada bulan ini.

Juli : Bulan bermalas-malasan
Dari jaman TK sampai kuliah, liburan selalu terletak di bulan Juli. Karena judulnya adalah liburan kenaikan kelas, jadi liburan di bulan Juli merupakan liburan terpanjang selain libur lebaran. Hari libur bagaikan surga, karena aku bisa bermalas-malasan sepanjang hari, main game sepuasnya, nonton TV sampai muak. Tapi malang nasibku bulan Juli tahun ini harus kuisi dengan Kuliah Kerja Nyata alias KKN. Aku KKN di sebuah desa kecil di perbukitan Purworejo. Sudah kupastikan tidak ada TV dan sinyal handphone di sana. Selamat menempuh hidup baru.

Agustus : Bulan kemerdekaan
Seperti yang kita semua tahu, hari kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia jatuh pada tanggal 17 Agustus. Dari SD sampai SMA selalu ada upacara untuk memperingati tanggal kelahiran cucu Presiden SBY ini. Meski sekarang sudah tidak pernah ikut upacara kemerdekaan lagi, tapi aku tetap tak bisa lepas dari hingar-bingar 17-an. Perumahanku selalu mengadakan bermacam-macam lomba untuk merayakan HUT Indonesia. Tidak hanya lomba, biasanya digelar juga bazar dan pentas seni.

September : Bulan Padmanaba
Saat masih SMA, sekolahku selalu mengadakan upacara HUT pada tanggal 19 September. Upacara ini spesial, karena seragam yang harus dikenakan para siswa juga spesial. Atasan putih, bawahan khaki, serta dasi dan muts Padmanaba yang istimewa. Kusebut istimewa karena aku dan teman-teman harus menjalani MOS selama sebulan, mengerjakan semua tugas MOS dengan bonus dibentak-bentak, baru kami resmi dilantik pada suatu dini hari dan memperoleh pakaian kebangsaan itu.

Oktober : Bulannya mama
Mamaku ultah di bulan ini. Walaupun ada bulannya mama, tapi sayang sekali nggak ada bulannya papa. Hal ini dikarenakan papaku sendiri tidak tahu kapan tanggal lahirnya. Di KTP-nya, tercatat bahwa tanggal lahir beliau adalah 6 April. Tapi ternyata oh ternyata, 6 April adalah tanggal lahir kakaknya.

November : Bulan biasa
Saat mengetik tulisan ini, aku berpikir keras tentang apa yang langsung kuingat saat mendengar kata “November”. Tapi ternyata tidak ada yang terlalu spesial di bulan ini, jadi kuputuskan untuk memberi predikat bulan biasa untuk bulan kesebelas ini.

Desember : Bulan hujan
Saat ini hujan memang suka datang seenak perutnya. Tapi tetap saja yang paling nge-soul menurutku adalah hujan di bulan Desember. Pada bulan ini hujan turun setiap hari, seolah-olah ikut bersiap menyambut kedatangan tahun baru. Aku suka hujan, kecuali saat sedang dalam perjalanan naik motor. That’s why I love December.

Tiap bulan pasti memiliki makna yang berbeda bagi tiap orang. Judul tulisan ini memang sedikit mekso, tapi kalian wahai temanku pasti sudah memahami apa maksudnya. Makna bulan bagi bintang, bisa dibaca sebagai makna bulan bagi Starin.