Starin Sani

21 comments

Glamour’s Trip to Bandung

Berlibur ke Bandung bukan lagi hanya sekedar wacana bagi Geng Glamor. Aku, Dildol, Zata, dan Yuyun, akhirnya berwisata juga ke kota kembang itu pada hari Jumat-Minggu (11-13/12) kemarin.

Liburan kali ini bisa dibilang sebagai wisata paket ekonomis, atau kalau menurut bahasa kami, “liburan gembel”. Alasannya, tentu saja karena budget kami yang superminim. Berikut ini secuil pengalaman kami selama 3 hari berwisata di Bandung.

Jumat, 11 Desember 2009

Pagi itu kami menggunakan kereta ekonomi sebagai sarana transportasi menuju Bandung, namun bukan kereta ekonomi jurusan Jogja-Bandung. Kereta ekonomi Jogja-Bandung berangkat dari Surabaya, sehingga kereta itu cenderung sudah sesak akan penumpang ketika sampai di Jogja.

Kami pun memilih untuk naik Prambanan Express (Pramex) menuju Kutoarjo. Dari Kutoarjo, kami naik kereta ekonomi jurusan Kutoarjo-Bandung. Tiket Pramex hanya Rp 8.000,-, sedangkan tiket ekonomi Kutoarjo-Bandung adalah Rp 19.500,-. Total kami hanya membutuhkan Rp 27.500,- untuk sampai ke kota impian.

Dengan style ala gembel, pukul 8.25 kami meluncur dengan kereta ekonomi Kutoarjo-Bandung. Seperti yang sudah banyak kami dengar dari cerita orang, akan banyak pedagang dan pengamen di kereta ekonomi. Benar saja, rasanya ada lebih dari sejuta pedagang dan pengamen yang menghampiri kursi kami selama perjalanan.

Banyak di antara mereka yang justru menjadi hiburan bagi kami, karena cara mereka yang unik dalam menjajakan dagangan atau membawakan lagu. Namun tak sedikit juga yang menyebalkan bahkan cenderung mengerikan, seperti saat kami dikatai pelit karena hanya memberi uang Rp 100,-, atau saat lenganku dicolek pengamen waria.

Hal lain yang menjadi ciri khas kereta ekonomi, kereta ini terkenal hobi berhenti. Rasanya kami berhenti setiap 3 detik sekali. Cuaca panas melengkapi penderitaan kami, membuat tampang kami kian mirip dengan gembel.

Setelah menempuh 7,5 jam perjalanan, akhirnya kami sampai di Stasiun Kiara Condong Bandung sekitar pukul 16.00. Aku dan ketiga temanku langsung membeli tiket perjalanan pulang agar besok tidak kehabisan.

Selanjutnya kami harus mencari angkot untuk sampai ke kos temanku, namanya Vita, yang akan menjadi “hotel” kami selama di Bandung. The journey is begin. Kami berlari-lari mengejar angkot, dimarahi supir angkot karena bayarnya kurang, dan harus berjalan cukup jauh untuk sampai ke kos Vita.

Pada akhirnya kami tiba di kos sekitar pukul 17.30. Tak ada waktu bagi Geng Glamor untuk beristirahat, karena malam itu Vita mengajak kami menonton ludrug di Institut Teknologi Bandung (ITB). Setelah bersiap-siap dan makan soto di belakang ITB, kami langsung menonton ludrug. Entah apa judul pentas malam itu, yang jelas ludrug tersebut banyak menyindir pemerintah dan juga rektorat ITB. Dikemas dengan amat menarik, aku dan ketiga temanku tak henti-hentinya tertawa.

Meski ludrug belum selesai, namun kami memutuskan untuk pulang pada pukul 22.00. Kami harus beristirahat, untuk menyongsong hari esok yang melelahkan.

Sabtu, 12 Desember 2009

Agenda hari kedua adalah berbelanja di Gedebage, pusat pakaian awul-awul murah meriah. Lokasinya cukup jauh dari kos Vita, namun kami sangat, sangat puas berbelanja di sana. Berbagai sandang lucu dan unik bisa kami bawa pulang, hanya dengan membayar mulai dari Rp 7.500,- saja. Aku sendiri memperoleh 3 kemeja, 2 overall, 1 dress, dan 1 kaos hanya dengan menggelontorkan uang Rp 95.000,-.

Sepulang dari Gedebage, kami mampir makan yamin, makanan sejenis mie bakso. Rasanya enak, apalagi kami kelaparan usai 3 jam berbelanja. Sungguh mantap jaya.

Sampai di kos VIta, kami langsung mandi dan berdandan. Sore itu Vita mengajak kami berfoto di Braga. Entah beruntung atau sial, kebetulan pada saat itu sedang digelar Braga Bike Fest. Kami jadi bisa berfoto dengan moge, tapi di sisi lain kami tidak bisa berfoto di beberapa spot menarik karena ramai. Selain berfoto, kami juga mencicipi es krim tempo dulu di Braga.

Malamnya, kami pergi ke Paris Van Java, salah satu mall di Bandung. Karena keterbatasan dana, malam itu kami makan di tempat makan termurah se-PVJ, yaitu KFC. Jauh-jauh ke Bandung, ujung-ujungnya cuma makan di KFC. Tak apalah, namanya juga wisata paket ekonomis.

Setelah mengisi perut, kami nongkrong di halaman depan PVJ. Kebetulan saat itu sedang ada gerombolan breakers yang berlatih. Lumayan, tontonan gratis. Kami pun akhirnya baru pulang ke kos Vita pukul 23.00.

Minggu, 13 Desember 2009

Hari terakhir di Bandung kami awali dengan jalan-jalan di Gazibu. Kebetulan tiap Minggu pagi digelar pasar murah di Gazibu, seperti Sunday Morning di UGM. Aku sama sekali tidak berniat untuk membeli sesuatu, mengingat kemarin aku sudah banyak belanja. Namun sungguh sial, pulang dari Gazibu aku membawa plastik berisi tas, jaket, dan dompet baru. Aku gagal membendung keinginan untuk belanja.

Dari Gazibu, kami langsung naik angkot menuju Kartika Sari. Di sana kami membeli oleh-oleh untuk keluarga dan teman-teman di Jogja.

Tangan kami semakin penuh dengan plastik, namun petualangan hari ketiga belum berakhir. Kami masih terobsesi membeli sepatu di pusat sepatu murah sekitar King’s. Perjalanan menuju King’s amat melelahkan, karena kami harus banyak berjalan setelah turun dari angkot satu untuk naik ke angkot lainnya.

Namun sayang beribu sayang, hari itu adalah hari Minggu. Harga sepatu di sana rupanya bertambah mahal. Pada hari biasa, sepatu-sepatu cantik dijual seharga Rp 20.000,-, namun siang itu tidak ada sepatu yang berharga kurang dari Rp 30.000,-. Kalau harganya segitu mah di Jogja juga banyak. Kami pun terpaksa pulang ke kos Vita tanpa sepatu baru.

Berhubung uang di dompet sudah menipis, siang itu kami hanya makan mie instan di kos. Sorenya, Geng Glamor plus Vita pergi lagi ke ITB untuk jajan cilok.

Hujan deras menyambut setibanya kami di kampus itu. Entah karena hujan atau karena memang sudah sore, penjual cilok yang kami cari sudah tidak mangkal lagi. Akhirnya kami hanya berfoto di ITB, dilanjutkan dengan makan ayam cola di warung sekitar ITB. Sebenarnya ayam cola lumayan lezat, sayang banyak tulangnya. Tapi lumayanlah untuk mengisi perut.

Tak terasa jam sudah menunjuk pukul 18.30, padahal kereta ekonomi Bandung-Jogja berangkat jam 20.25. Kami langsung ke kos Vita untuk mengambil barang dan berangkat lagi ke Stasiun Kiara Contong tanpa sempat mandi.

Ternyata ada sedikit perbedaan situasi antara kereta ekonomi yang berangkat siang dan berangkat malam. Pada malam hari, jumlah pedagang dan pengamen tidak terlalu banyak. Tentu saja tak banyak, karena memang tidak ada tempat lagi bagi mereka untuk lewat. Seluruh lorong penuh dengan penumpang yang berdiri. Tak sedikit juga yang duduk di bawah beralaskan koran. Banyak juga yang duduk di lengan kursi, sehingga cukup mengganggu kenyamanan mereka yang duduk di kursi. Beruntung kami memperoleh tiket duduk, meski malam itu hawa terasa panas dan kami kekurangan oksigen.

Senin, 14 Desember 2009

Kami tiba di Stasiun Lempuyangan Jogja pukul 5.30. Meski kurang tidur, aku tidak bisa langsung beristirahat setibanya di rumah. Ada kuliah jam 7 yang hukumnya wajib hadir, dilanjutkan dengan mengerjakan tugas kelompok pukul 9. Lelah, tapi tetap ceria. Mengantuk, tapi tetap tertawa. Aku sungguh menikmati masa-masa kami berada di Bandung.

Bandung adalah tempat kedua yang paling ingin dikunjungi Geng Glamor. Tempat impian pertama justru belum kesampaian, yaitu Bali. Kita lihat saja, mampukah kami menggembel lagi hingga ke Pulau Dewata.

12 comments

Unit Kegiatan Mahasiswa Pun Menjerit

Sungguh miris rasanya mendengar curahan hati rekan-rekan aktivis Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di UGM. Tiap UKM memiliki permasalahan masing-masing, semuanya disuarakan pada Lokakarya Pembinaan UKM, Jumat-Sabtu (6-7/11) lalu.

Kebetulan, saya mewakili SKM Bulaksumur dalam menghadiri lokakarya yang dihelat di Wanagama tersebut. Lokakarya yang digelar oleh Direktorat Kemahasiswaan UGM itu diikuti oleh sekitar 30 UKM. 

Permasalahan dana

Permasalahan umum yang dihadapi tiap UKM adalah mengenai pendanaan dari rektorat. Dari jumlah anggaran dana yang diajukan UKM, biasanya tidak sampai 50% yang dicairkan oleh UGM. UGM, khususnya bagian Direktorat Kemahasiswaan, dinilai tidak transparan dalam melaporkan alokasi dana untuk UKM.

Permasalahan lain adalah mengenai kesejahteraan pelatih UKM, hal ini khususnya dirasakan oleh teman-teman dari UKM seni dan olahraga. Misalnya saja untuk pelatih UKM UKJGS (tari Jawa gaya Surakarta), pelatihnya hanya digaji Rp 150 ribu per bulan oleh kampus yang mengaku sebagai world class university ini. Sementara untuk pelatih UKM basket, pelatihnya digaji Rp 750 ribu per bulan. Padahal pelatih basket UGM saat ini merupakan mantan pelatih klub Satria Muda, yang standar gajinya di atas Rp 1 juta. Namun jangan salah, uang Rp 750 ribu itu pun tidak seluruhnya berasal dari kampus biru. Tak disebutkan berapa jatah uang gaji yang diberikan UGM, yang jelas kekurangannya ditutup menggunakan uang saku manajer tim basket.

Menanggapi keluhan tersebut, Drs. Haryono, Ak., M.Com. selaku Direktur Keuangan UGM hanya mengatakan, “namanya juga kampus kerakyatan,” yang langsung kami sambut dengan tawa sinis. Memang untuk permasalahan ini, bukan kapasitas Pak Haryono untuk memberi tanggapan. Tugas Direktur Keuangan “hanya” mencairkan dana. Keputusan mengenai jumlah nominal yang diberikan kepada UKM terletak pada Drs. Haryanto, M.Si selaku Direktur Kemahasiswaan UGM. Namun amat disayangkan, beliau yang terhormat itu tidak bisa mengikuti jalannya lokakarya. Karena sibuk, sosok yang akrab disapa Pak Sentot itu hanya sempat datang ke lokakarya untuk memberi kata sambutan. 

Peminjaman tempat

Problem lain yang banyak dikeluhkan adalah mengenai peminjaman gedung yang dimiliki UGM, seperti UC (University Club) dan Gedung Koesnadi Hardjasoemantri. UKM tidak diberi keringanan dana dalam meminjam gedung-gedung tersebut, padahal tempat itu seharusnya merupakan fasilitas yang bisa dinikmati oleh mahasiswa UGM.

Jangankan meminjam tempat untuk mengadakan event, untuk melakukan kegiatan rutin saja kini banyak UKM yang terancam digusur dari tempatnya semula. UKM Marching Band yang biasa berlatih di halaman Gedung Koesnadi Hardjosoemantri misalnya, dalam waktu dekat ini tak lagi diperbolehkan berlatih di sana. UKM-UKM bela diri juga harus mencari tempat latihan baru, karena pihak rektorat lebih sayang kepada hijaunya rumput boulevard. Sementara itu, UKM Pramuka tidak lagi boleh melakukan upacara di sebelah utara gedung pusat.

Menurut Pak Bambang, salah satu kepala subdirektorat di Direktorat Kemahasiswaan, tempat-tempat itu berada di luar kewenangan Direktorat Kemahasiswaan. Beliau tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantu UKM. Sementara untuk permasalahan lain yang terkait dengan Direktorat Kemahasiswaan, beliau berjanji akan menyampaikannya pada Pak Sentot.

Semoga saja hasil sharing dari lokakarya tersebut benar-benar disampaikan dan ditanggapi oleh sang Direktur Kemahasiswaan. Jika tidak, lokakarya mewah selama dua hari itu hanya merupakan salah satu bentuk penghambur-hamburan uang yang dilakukan kampus kerakyatan.

marley-amp-me
0 comments

Marley & Me (2008)

My Rating: ★★★
Genre: Drama

Satu lagi film yang mengisahkan persahabatan antara anjing dan manusia, Marley & Me. Yang menjadikannya berbeda dibanding film bertema serupa adalah, persahabatan anjing-majikan yang disajikan dalam Marley & Me tergolong cukup unik.

Kisah di film ini bermula dari pernikahan antara John Grogan (Owen Wilson) dan Jenny Havens (Jennifer Aniston). Merasa belum siap memiliki anak, John berusaha menyibukkan Jenny dengan menghadiahinya anak anjing. John kemudian menamai anak anjing itu Marley, terinsipirasi oleh penyanyi reggae Bob Marley.

Seiring dengan berjalannya waktu, Marley tumbuh menjadi anjing yang besar, kuat, namun amat sulit diatur. Masalah kian bertambah saat John dan sang istri akhirnya sepakat untuk memiliki anak pertama.

Secara keseluruhan, Marley & Me cukup menarik untuk ditonton. Beberapa adegan terasa mengharukan, amat memanjakan mata para penggemar film drama.

when-romance-meets-destiny
9 comments

When Romance Meets Destiny (2005)

My Rating: ★★★★
Genre: Drama

Film ini bercerita tentang sepasang kakak-beradik dengan kisah cinta mereka masing-masing. Kwang Sik (Kim Joo-hyuk), sang kakak, adalah seorang lelaki yang amat pemalu. Ia tak berani menyatakan perasaan pada wanita yang telah ia cintai selama tujuh tahun. Keadaan begitu sulit menurut Kwang Sik hingga ia berpendapat, Tuhan seharusnya memberi pertanda bila seseorang baru saja bertemu dengan jodohnya.

Sementara itu adiknya, Kwang Tae (Bong Tae-gyu), memiliki sifat yang amat berkebalikan. Kwang Tae adalah seorang lelaki bengal, amat percaya diri dalam urusan cinta. Meski demikian, kisah cinta Kwang Tae bukan berarti tanpa rintangan.

Meski menggunakan alur loncat, jalan cerita When Romance Meets Destiny cukup mudah dipahami. Film Korea satu ini juga kerap diselingi dengan adegan humor. Film ini cukup menarik, dapat dijadikan alternatif tontonan di kala senggang.

21 comments

Kelas Bahasa Inggris yang Problematis

Jurusan Ilmu Komunikasi UGM seolah belum siap menggelar kelas Bahasa Inggris.

Bahasa Inggris sebenarnya merupakan mata kuliah wajib di Jurusan Ilmu Komunikasi UGM. Mata kuliah ini nyata tercantum dalam buku panduan akademik.

Tak ada kelas

Beberapa tahun lalu, mahasiswa yang mengambil kelas Bahasa Inggris dipersilakan untuk mengikuti mata kuliah ini di Fakultas Ilmu Budaya UGM. Namun sejak angkatan 2004, tidak ada lagi mahasiswa yang mengambil Bahasa Inggris. Anehnya, para mahasiswa tersebut tetap dapat lulus tanpa harus mengikuti mata kuliah berstatus wajib ini.

Seiring dengan berlakunya kurikulum baru 2009, pihak jurusan menawarkan banyak mata kuliah baru. Salah satu mata kuliah yang disodorkan adalah Bahasa Inggris. Namun karena tidak adanya tenaga pengajar, kelas ini tidak memberikan materi apa pun. “Mahasiswa tinggal menyerahkan hasil tes TOEFL-nya, tidak ada pelajaran di kelas,” ujar Budhy Komarul Zaman, Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi UGM.

Nilai Bahasa Inggris mahasiswa otomatis hanya diukur semata-mata melalui tes TOEFL. Namun, tes TOEFL tersebut tidak digelar oleh pihak jurusan. Mahasiswa dipersilakan melakukan tes di lembaga Bahasa Inggris mana pun. Hal ini kemudian memunculkan pertanyaan di kalangan mahasiswa. “Terus uang SKS sebesar Rp 180 ribu lari ke mana? Nggak ada dosen, nggak ada materi, mahasiswa malah harus bayar lagi buat tes TOEFL di luar,” tukas Yuyun, mahasiswa Ilmu Komunikasi ‘06.

Menanggapi protes yang bermunculan, Budhy menerangkan bahwa memang sudah seharusnya mahasiswa membayar uang SKS. “Jumlah SKS Bahasa Inggris nantinya masuk di transkrip nilai. Jadi ya memang sudah sewajarnya mahasiswa membayar uang SKS, seperti halnya membayar uang SKS untuk mata kuliah lainnya,” jelas beliau.

Simpang Siur

Status yang disandang mata kuliah Bahasa Inggris pun dirasa kurang jelas. “Ada dosen yang bilang ini mata kuliah wajib, ada yang bilang enggak,” tutur Kiki, mahasiswa Ilmu Komunikasi ’06.

Menurut Budhy, Bahasa Inggris adalah mata kuliah wajib. “Saat sosialisasi kurikulum baru, sudah dijelaskan bahwa Bahasa Inggris adalah mata kuliah wajib,” tandas beliau. Namun karena sosialisasi diadakan saat libur antarsemester, banyak mahasiswa yang tidak mengetahui adanya sosialisasi.

Hingga kini, tak sedikit mahasiswa yang tetap bersikukuh tidak mengambil Bahasa Inggris. Mereka tetap merasa mata kuliah ini tak jelas hukumnya. “Nggak jelas!” komentar Yuyun.

Pihak jurusan hendaknya memperbaiki segala sesuatunya sebelum membuka kelas Bahasa Inggris, apalagi sebelum menetapkannya sebagai mata kuliah wajib. Semua harus dipersiapkan, mulai dari sosialisasi, tenaga pengajar, hingga materi. Dengan demikian, tidak terdapat kesimpangsiuran yang membuat mahasiswa enggan mengambil mata kuliah.

Pages:«1...52535455565758...63»