Starin Sani

4 comments

Maryamah Karpov


Rating: ★★★★
Category: Books
Genre: Entertainment
Author: Andrea Hirata

Maryamah Karpov adalah seri terakhir dari tetralogi Laskar Pelangi. Tiga karya Andrea Hirata sebelumnya adalah Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan Edensor. Maryamah Karpov berkisah tentang petualangan Ikal mencari A Ling, cinta pertamanya. Ikal mengarungi samudra, berbagai negara dan benua, semua itu dilakukan demi menemukan gadis pujaannya.

Banyak tokoh muncul dalam novel ini. Selain anggota Laskar Pelangi, masih banyak tokoh lain yang lucu dan unik, seperti Ketua Karmun, Berahim Harap Tenang, Mahmuddin Pelupa, dan Dokter Diaz. Judul Maryamah Karpov sendiri rupanya diambil dari nama seorang Mak Cik yang sering berkumpul di Warung Kopi Usah Kau Kenang Lagi. Mak Cik Maryamah ini sering kali mengajari orang langkah-langkah catur Karpov.

Secara keseluruhan, isi novel ini sungguh menarik. Melalui 73 babnya, Maryamah Karpov berhasil memadukan aspek sains dengan budaya orang Melayu. Penggambarannya sungguh detil, mampu membawa pembacanya terbuai masuk ke dalam cerita. Gaya bahasa yang digunakan Andrea masih sama ajaibnya dengan karya-karya sebelumnya. Ending dari novel ini juga tak terduga. Novel setebal 504 halaman ini wajib dibaca oleh para pecinta sastra.

10 comments

Penebangan Liar di Curug Muncar


Hari Minggu kemarin aku dan teman-teman mengadakan survey KKN di Desa Kaliwungu, Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo. Jarak desa itu cukup jauh dari pusat kota Purworejo, kira-kira membutuhkan satu jam perjalanan. Medannya pun berbukit-bukit, mengingatkanku pada jalan menuju Pantai Siung.

Sesampainya di sana, kami langsung kebingungan. Pasalnya di desa yang amat asri itu tidak ada sinyal handphone sama sekali. Simpati, IM3, XL, apalagi Smart, semuanya tewas. Anehnya, ada kios seluler di sana, yang menyediakan kartu perdana, isi ulang pulsa, dan pernak-pernik handphone. Kios seluler itulah yang pertama kali kami kunjungi setibanya di desa itu. Bukan karena mau beli pulsa, tapi karena pemilik kios itulah orang yang kami cari.

Sang pemilik kios bernama Mas David, ia adalah ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) di Desa Kaliwungu. Karena program KKN kami adalah ekowisata Curug Muncar, maka Mas David adalah orang yang tepat untuk diajak berbincang. Saat ditemui, beliau mengaku Pokdarwis sedang vakum akhir-akhir ini. Dengan sabar laki-laki asal Lampung itu menjelaskan problem-problem yang dihadapi Pokdarwis, salah satunya adalah kesibukan para pengurus Pokdarwis.

Mas David lalu mengajak kami berkeliling menemui Kepala Dusun (Kadus) Kalibang dan Kamasan. Dua dusun itulah yang nanti akan menjadi tempat tinggal kami selama dua bulan, yaitu pada Juli dan Agustus nanti. Kalibang dipilih karena di dusun itulah letak Curug Muncar, air terjun yang menjadi objek program KKN kami. Sementara itu Kamasan adalah dusun yang menjadi tempat pusat kegiatan Pokdarwis.

Pada saat menemui Kadus Kalibang, pria tua itu mengemukakan satu masalah genting. Debit air Curug Muncar semakin menurun dari tahun ke tahun. Menurut beliau, hal ini disebabkan oleh banyaknya penebangan liar (ilegal logging) di desa itu. Penebangan ini dilakukan oleh pihak-pihak dari luar desa, sehingga tentu saja warga desa tak memperoleh keuntungan sepeser pun.

Menurut Pak Kadus, di daerah itu sudah ada polisi hutan yang berpatroli. Namun entah mengapa, penebangan liar tetap marak terjadi. Hampir tiap 500 meter bisa ditemukan tumpukan kayu yang baru saja ditebang, siap diangkut menggunakan truk. Jika ditanya siapa pelakunya, para warga dapat menjawab dan menunjuk siapa saja orangnya. Tapi masalahnya, mereka tidak tahu bagaimana dan ke mana harus melapor.

Masalah penebangan liar memang sudah melanda Indonesia sejak puluhan tahun lalu. Menurut data Badan Penelitian Departemen Kehutanan, kerugian finansial akibat penebangan liar mencapai angka Rp 83 milyar per hari. Kerugian tersebut tentu belum mencakup punahnya keanekaragaman flora-fauna dan jasa-jasa lingkungan yang dihasilkan hutan. Pemerintah sudah berupaya untuk mengurangi jumlah penebangan liar ini, namun hasilnya belum terasa.

Setelah empat jam berada di Desa Kaliwungu, kami merasa sudah memperoleh cukup gambaran tentang desa yang masih sedikit warganya yang memiliki TV itu. Masalah ilegal logging di area Curug Muncar menjadi PR yang harus kami kerjakan saat KKN nanti.

Sebelum pulang, kami iseng bertanya, mengapa ada kios seluler di desa yang tak terjamah sinyal itu. “Bisa saja dapat sinyal, tapi handphone-nya harus disambungkan ke antena,” jelas Mas David sambil menunjuk ponselnya yang tergeletak manis, tersambung dengan kabel antena yang panjang. Kami pun langsung ber-ooh ria sambil membayangkan kehidupan kami selama KKN nanti. Tak apalah dua bulan hidup tanpa handphone, tanpa TV. Tapi jangan tanpa hutan.

12 comments

Dunia Sophie


Rating: ★★★★
Category: Books
Genre: Literature & Fiction
Author: Jostein Gaarder

Seminggu yang lalu saya mendapat tugas untuk mata kuliah filsafat komunikasi, yaitu mereview novel pengantar filsafat apapun. Inilah tugas yang saya kumpulkan untuk mata kuliah tersebut.

Belajar Filsafat Melalui Surat

“Siapakah kamu?”

Pertanyaan itu tampak singkat dan sederhana. Namun bagi Sophie, tidak mudah untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Surat misterius

Sophie Amundsend adalah seorang gadis 14 tahun yang tinggal di Norwegia. Hidupnya mulai berubah saat ia menerima sepucuk surat misterius pada suatu sore. Surat yang tak diberi nama pengirim itu hanya berisi satu pertanyaan: “Siapakah kamu?” Belum sampai dua jam, Sophie kembali memperoleh surat misterius. Kali ini berisi pertanyaan: “Dari mana datangnya dunia?”

Kebingungan Sophie bertambah saat gadis berambut lurus ini menerima sebuah kartu pos yang dialamatkan untuk Hilde Moller Knag, d/a Sophie Amundsend. Sophie sama sekali tidak kenal, bahkan tidak tahu siapa itu Hilde. Ia tak habis pikir mengapa kartu pos yang berisi ucapan selamat ulang tahun itu dikirimkan kepadanya.

Hari-hari berikutnya, Sophie terus menerima surat misterius. Surat-surat itu masih berisi pertanyaan tentang filsafat, seperti “adakah zat dasar yang menjadi bahan untuk membuat segala sesuatu?” atau “apakah kamu percaya pada takdir?”

Biasanya Sophie memiliki waktu selama beberapa jam untuk memikirkan jawaban dari pertanyaan tersebut, sebelum akhirnya datang surat berikutnya yang memberi penjelasan mengenai pertanyaan itu. Selama beberapa hari, Sophie mempelajari filsafat melalui surat, mulai dari apakah itu filsafat, gambaran mitologis dunia, sampai pemikiran para filsuf dari berbagai masa.

Memperoleh pelajaran filsafat dari sosok tak dikenal sungguh menggugah rasa penasaran Sophie. Ia pun memutuskan untuk menulis surat kepada sang “guru” filsafat. Sophie menanyakan siapa namanya sekaligus mengundangnya untuk datang ke rumah. Bingung harus dikirim ke mana, Sophie menaruh surat itu di kotak suratnya.

Esok harinya, guru filsafat itu membalas surat Sophie. Meski menolak undangannya, tapi sang guru berjanji untuk segera menemui Sophie. Di akhir surat ia mencantumkan namanya, yaitu Alberto Knox.

Sementara Sophie belajar filsafat melalui surat-surat yang dikirim Alberto, gadis ini juga terus menerima kartu pos aneh yang ditujukan untuk Hilde. Kedatangan kartu pos itu pun tak kalah aneh dan misterius, mulai dari jatuh keluar dari buku tulis hingga tiba-tiba tertempel di jendela.

Beberapa minggu kemudian, Alberto menepati janjinya. Pria berusia sekitar lima puluh tahun ini mengajak Sophie bertemu di sebuah gereja peninggalan Abad Pertengahan. Sejak saat itu Sophie sering menemui Alberto. Selain membahas filsafat, ia juga berdiskusi dengan Alberto mengenai kartu pos aneh itu.

Menjelang hari ulang tahun Sophie pada tanggal 15 Juni, kejanggalan demi kejanggalan semakin kerap terjadi. Anjing Alberto tiba-tiba bisa berbicara dan mengucapkan selamat ulang tahun untuk Hilde. Saat Sophie mengupas pisang, rupanya di dalam kupasan pisang terdapat ucapan selamat ulang tahun untuk Hilde. Semuanya berkaitan dengan Hilde.

Pada akhirnya Sophie dan Alberto menyadari bahwa mereka hanyalah tokoh fiktif yang ada dalam sebuah buku karangan Albert Knag, ayah Hilde. Albert mengarang buku yang berjudul Dunia Sophie itu sebagai hadiah untuk Hilde yang berulang tahun pada tanggal yang sama dengan Sophie. Sophie dan Alberto kemudian mencari-cari cara agar bisa keluar dari dunia buku.

Novel filsafat

Sebagai novel pengantar filsafat, Dunia Sophie bisa dibilang berhasil dalam memopulerkan bidang ilmu tersebut. Novel karya Jostein Gaarder ini berhasil mengemas sejarah filsafat menjadi sebuah cerita yang ringan dan menarik. Cara bertuturnya sederhana dan amat mudah dipahami. Ada beberapa bagian yang sedikit sukar dicerna, yaitu saat membahas mengenai beberapa pemikiran filsuf ternama. Walau begitu, bahasanya tetap masih lebih mudah dipahami dibanding kebanyakan buku filsafat.

Pada awalnya novel ini terasa sedikit datar dan membosankan. Namun begitu misteri demi misteri muncul, novel ini mampu membangkitkan rasa penasaran kita. Jalan cerita dalam novel yang mengambil setting pada tahun 1990 ini benar-benar unik, tak biasa, bahkan bisa dibilang aneh.

Dengan seorang remaja sebagai tokoh utamanya, kisah yang dihadirkan dalam Dunia Sophie tentu juga menyangkut kehidupan remaja. Tidak hanya melulu filsafat, novel ini juga mengisahkan hubungan Sophie dengan teman-temannya.

Hubungan Sophie dengan ibunya juga mendapat porsi yang cukup besar dalam novel ini. Ibunya khawatir saat mengetahui Sophie belajar filsafat. Ia menganggap Sophie berubah menjadi aneh setelah mempelajari bidang ilmu tersebut. Keadaan ini sedikit banyak menggambarkan realitas yang terjadi di sekitar kita. Anggapan ibu Sophie bahwa mempelajari filsafat dapat mengubah seseorang menjadi aneh ini mungkin sama seperti anggapan kebanyakan orang.

Selain itu, novel ini juga berusaha membangkitkan rasa ingin tahu kita terhadap dunia sekitar. Dunia Sophie mengibaratkan alam semesta sebagai seekor kelinci yang ditarik keluar dari topi pesulap. Orang-orang yang tidak peduli terhadap misteri dunia ini bagaikan bersembunyi di balik bulu-bulu kelinci yang lembut dan nyaman. Sementara para filsuf, dengan segenap rasa ingin tahunya, berusaha untuk memanjat helaian-helaian lembut dari bulu binatang ini untuk dapat mengetahui rahasia sang pesulap.

Saat membaca Dunia Sophie, barangkali secara tidak sadar kita ikut memikirkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan singkat yang diajukan dalam surat misterius. Dunia Sophie mampu mengajak kita berpikir tentang pertanyaan mendasar mengenai makna dan tujuan hidup. Setelah membaca novel ini, kita dapat menjadi orang yang lebih peka dan menghargai hidup.

21 comments

Siapa Nama Lurah Itu?

Tadi malam hujan deras. Aku sedang membaca novel Maryamah Karpov di kamar saat tiba-tiba pintu depan rumahku diketuk. Aku segera membukakan pintu. Rupanya, tamu yang datang adalah dua lelaki aktivis organisasi pemuda di perumahanku. Salah satu dari mereka baru saja memberiku cokelat pada hari Valentine kemarin, jadi tentu saja aku geer bukan main melihatnya datang ke rumahku.

Aku langsung mempersilakan mereka duduk di teras rumah. Kedua lelaki itu segera menjelaskan maksud kedatangan mereka. Entah aku yang lambat berpikir atau mereka yang bicaranya berputar-putar, aku tidak kunjung menangkap arti kehadiran mereka. Yang jelas tidak ada hubungannya dengan kegeeranku.

Lalu akhirnya si pemuda yang pernah memberiku cokelat berkata gamblang, “ini ada uang dari Lurah yang sekarang untuk pemuda-pemudi di perumahan kita. Terima aja Rin, kamu nggak harus nyoblos dia kok walaupun kamu nerima uang ini…”

Aku langsung paham. Rupanya mereka sedang membagi-bagikan uang sogokan dari Pak Lurah. Tujuannya jelas, si Lurah ini ingin memperoleh suara dari para pemuda untuk pemilihan Lurah Nogotirto yang akan digelar sebentar lagi.

Aku belum mengantongi KTP lima tahun lalu. Tahun ini adalah kali pertama aku menyoblos, jadi baru kali ini pula aku disodori amplop berisi uang sogokan. Kaget, aku langsung menolak amplop itu. Lelaki satunya kemudian bertanya, “memang kamu ada masalah dengan Lurah yang sekarang?”

Kujawab polos, “memang Lurah yang sekarang itu siapa sih?”

Mereka berdua hanya tersenyum, lalu kembali membujukku untuk menerima amplop itu. Berulang kali mereka membujuk, berulang kali pula aku menolak. Akhirnya mereka menyerah, pulang dengan tetap membawa amplop itu.

Sepulangnya mereka berdua, aku membaca lagi novel Maryamah Karpov yang tadi sempat terhenti kubaca. Selama membaca, pikiranku gelisah tak tenang. Seandainya tadi aku menerima amplop itu, pasti besok aku bisa berfoya-foya. Toh tak ada ruginya, aku tak berkewajiban untuk menyoblos si Lurah yang memberi sogokan.

Walau sampai detik ini aku masih tak tahu siapa Lurah yang akan kupilih nanti, aku tahu persis bahwa si Lurah penyogok itu bukanlah pilihanku. Tapi masalah yang timbul sekarang adalah, bagaimana aku bisa tidak memilih Lurah itu jika nama Lurah terkutuk itu saja aku tak tahu?

Aku kemudian keluar kamar untuk menanyai siapa saja yang bisa kutanya tentang nama Lurah Nogotirto saat ini. Kutanya pada mamaku, beliau menggeleng tanda tak tahu. Kutanya pada papaku, beliau menyebut satu nama dengan ragu-ragu, lalu meralatnya dengan nama lain, masih dengan sikap ragu-ragu.

Kusadari, ternyata keluargaku memang cenderung apatis untuk masalah politik dalam lingkup kecil semacam ini. Padahal terciptanya politik sehat dalam lingkup kecil adalah modal terbentuknya politik sehat dalam lingkup yang lebih besar. Jika dalam lingkup Lurah saja sudah main sogok, bagaimana jadinya kehidupan politik negara kita?

Setelah sekian lama merenung, aku menyadari bahwa sikap apatis tidak akan mengubah apa-apa. Aku kemudian membulatkan tekad untuk memulai dengan satu langkah kecil yang mampu membebaskan diriku dari apatisme, yaitu mencari tahu nama Lurah Nogotirto saat ini.

14 comments

Keceriaan di Dunia Anak Jogja

Halaman dalam Benteng Vredeburg, Yogyakarta, ramai dipenuhi anak-anak pada Sabtu-Minggu (14-15/2) lalu. Rupanya, Ciprat Production sedang menggelar pameran untuk anak yang bertajuk Dunia Anak Jogja 2009.

Menurut Maharani Ratna Pambayun (21) selaku ketua panitia, inisiatif untuk membuat pameran ini muncul karena masih kurangnya acara untuk anak-anak. “Selain itu, kami (Ciprat Production, -Red) juga belum pernah membuat event untuk anak. Maka kami memutuskan untuk membuat acara ini,” jelas perempuan yang akrab disapa Rani ini.

Beragam stand

Dunia Anak Jogja 2009 yang baru dihelat untuk pertama kalinya ini dimeriahkan oleh berbagai stand. Di stand-stand tersebut anak bisa bermain xbox, menonton pertunjukan robot, bahkan belajar bermain wayang. Semuanya gratis, tinggal membayar tiket masuk pameran seharga Rp 2 ribu. Selain itu, masih ada juga acara khusus berupa story telling, bedah buku, hingga pentas kreasi anak.

Dalam kurun waktu dua hari, pameran untuk anak ini berhasil meraup 1734 pengunjung. Tak sedikit pengunjung yang datang dua hari berturut-turut, salah satunya adalah Ryan (7). “Aku senang main di stand itu,” ungkap siswa kelas 1 SD ini sembari menunjuk stand science developer yang menawarkan beragam percobaan ilmiah.

Kendala

Meski terbilang sukses, Dunia Anak Jogja 2009 tak luput dari kendala. Padamnya listrik selama setengah jam pada hari kedua membuat acara pentas kreasi anak menjadi terhambat. “Kami langsung mengisi acara dengan peluncuran roket air yang memang tidak memerlukan listrik,” tutur Rani. Selain itu, Rani juga menyayangkan banyaknya pengunjung yang menerobos masuk tanpa tiket.

Walau begitu, Rani tetap merasa puas dengan terselenggaranya acara ini. “Kemungkinan tahun depan kami (Ciprat Production, -Red) akan mengadakan pameran ini lagi,” pungkasnya.