Starin Sani

2 comments

Night at The Museum: Battle of The Smithsonian


Rating: ★★★★
Category: Movies
Genre: Comedy

Film ini berkisah tentang petualangan Larry (Ben Stiller), mantan penjaga malam Museum Sejarah Nasional yang kini sudah menjadi pengusaha sukses. Pada suatu ketika, Larry menengok musem tempat kerjanya dulu. Ia kemudian mendapat kabar bahwa Museum Sejarah Nasional akan direnovasi. Untuk sementara, sebagian besar isi museum dipindahkan ke Museum Washington. Larry harus bertindak, karena di Museum Washington terdapat Kahmunrah, sosok jahat Pharaoh yang hidup dan dapat mengakibatkan perang.

Film sekuel dari Night at The Museum ini masih dibintangi oleh pemeran-pemeran dalam film pertamanya, seperti Ben Stiller dan Robbin Williams. Walau begitu, film produksi 20th Century Fox ini terasa lebih kocak dibanding film pendahulunya. Kelucuan demi kelucuan muncul di sela-sela film, bahkan di saat-saat tegang.

Night at The Museum: Battle of The Smithsonian merupakan film pertama yang mengambil lokasi di Museum Washington. Film ini lucu, menarik, dan merupakan penghibur jitu di kala stres.

16 comments

Ingin Bekerja di Mana?

Pada kuliah Cybermedia minggu lalu, Cak Budhy selaku dosen pengampu melontarkan satu pertanyaan kepada para mahasiswanya. “Kamu ingin bekerja di mana kelak?” tanya beliau. Tidak ada yang menjawab, Cak Budhy kemudian menunjuk teman sekelasku bernama Gleni.“Belum tahu, Cak,” jawab Gleni.

“Gimana ini kok belum tahu? Coba, kalau kamu ingin bekerja di mana?” Cak Budhy tiba-tiba menudingkan jari telunjuknya ke arahku.

Sedikit terkejut, kujawab pertanyaan beliau dengan singkat dan agak marmos, “rahasia!”
Cak Budhy tertawa dan menggeleng-gelengkan kepala.

Memang sudah menjadi kebiasaanku untuk menjawab “rahasia” jika ada teman yang menanyakan sesuatu. Tapi jika dosen yang bertanya, baru kali ini aku sembrono menjawabnya demikian. Jawaban tersebut tampaknya terlontar karena aku juga belum tahu pekerjaan apa yang kuinginkan, sama seperti Gleni.

Keesokan harinya, aku iseng mengajukan pertanyaan Cak Budhy itu kepada Awe, ketua Publicia Photo Club (PPC) 2008/2009.

“Kerjaan yang bisa dapet uang banyak,” jawabnya sambil tertawa.

Lewat percakapan lebih lanjut, akhirnya kuketahui bahwa ia juga belum menentukan pilihan tentang kariernya di masa depan. Padahal sebelumnya, aku yakin 100 persen ia bercita-cita menjadi fotografer. Tapi rupanya Awe mengaku fotografi hanyalah sekadar hobi yang membantunya membuat hidup menjadi lebih bermakna.

Entah dengan mahasiswa Ilmu Komunikasi UGM yang lain, tapi yang jelas teman-teman di sekelilingku kebanyakan masih bingung tentang pekerjaannya kelak. Hal ini barangkali bisa terjadi karena luasnya bidang pekerjaan yang dapat kami geluti. Mulai dari media planner, humas, produser, sutradara, jurnalis, fotografer, hingga dosen. Banyaknya profesi tersebut sayangnya tidak didukung dengan adanya pengelompokan secara jelas di jurusan kami.

Sebenarnya, pihak jurusan sudah mulai mengarahkan kami pada semester tiga. Terdapat tiga konsentrasi yang dapat kami pilih, yaitu media, sistem penunjang media, dan perspektif media. Namun demikian, jurusan kami seolah kekurangan mata kuliah. Seorang mahasiswa pengambil konsentrasi media misalnya, pada akhirnya juga akan mengambil mata kuliah milik konsentrasi sistem penunjang dan perspektif media. Dengan demikian, materi yang kami pelajari tidak lagi terfokus, melainkan terpecah.

Di satu sisi, keadaan ini menguntungkan karena seorang mahasiswa dimungkinkan untuk mempelajari berbagai macam skill. Di sisi lain, kondisi ini menimbulkan kebimbangan dalam menentukan profesi di masa mendatang, seperti yang kini sedang kualami bersama teman-teman.

Kami sudah semester enam. Bila semuanya lancar, bulan depan kami KKN, semester depan mulai skripsi, tahun depan lulus. Tapi apa gunanya ijazah jika masih belum menentukan arah?

Jurusan Ilmu Komunikasi UGM hendaknya menambah lagi jumlah mata kuliah di masing-masing konsentrasi. Penambahan jumlah mata kuliah ini tentunya juga harus dibarengi dengan penambahan jumlah dosen yang berkualifikasi. Selain itu, bantuan dari KOMAKO selaku himpunan mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi juga dibutuhkan. KOMAKO dapat mengadakan diskusi, seminar, atau kuliah bareng praktisi untuk membantu mengarahkan kami yang masih bimbang. Dengan begitu, semoga tidak ada lagi jawaban “belum tahu” ketika mahasiswa semester enam Ilmu Komunikasi UGM ditanya mengenai pilihan kerjanya kelak.

31 comments

Unjuk Kreativitas Melalui Tas

Surat Kabar Mahasiswa (SKM) UGM Bulaksumur menggelar lomba mural tas, Minggu (24/5).

Lomba yang bertempat di halaman gedung Koesnadi Hardjasoemantri ini dihelat untuk memperingati ulang tahun Bulaksumur Pos, salah satu produk SKM UGM Bulaksumur. Selain lomba mural tas, SKM UGM Bulaksumur juga mengadakan pameran stand komunitas dan talkshow bertema industri kreatif. Seluruh kegiatan tersebut disusun dalam suatu rangkaian acara bertajuk Aksi Kreasi.

Animo peserta

Lomba mural tas yang ditujukan untuk umum ini berhasil menggaet cukup banyak peserta. Menurut Saiful Bachri selaku ketua panitia, jumlah peserta lomba melebihi target dan kuota yang disediakan. “Jumlah pesertanya 217 orang. Padahal, target kami sebenarnya hanya 200 peserta saja. Takutnya, jika lebih dari 200 orang, tempatnya nggak cukup,” terang laki-laki yang akrab disapa Ipul ini.

Tingginya animo peserta ini disebabkan oleh adanya keinginan untuk menuangkan ekspresi dan kreativitas diri. Hal ini diakui Sinta, salah satu peserta. “Aku daftar karena pingin corat-coret aja,” ungkap Sinta. Selain itu, biaya pendaftaran lomba ini cukup terjangkau. Hanya dengan membayar Rp 20 ribu, peserta dapat memperoleh fasilitas berupa tas, cat, dan sertifikat. Tak hanya itu, tas hasil kreasi para peserta ini nantinya dapat mereka bawa pulang.

Telah ditunjuk tiga juri kompeten untuk menilai karya-karya peserta, yaitu Sandi (Mulyakarya), Indra (Bajigur Magz), dan Angga Dalijo. Dari hasil penjurian mereka, terpilih tiga orang yang berhasil menjadi pemenang, yaitu Imam Santoso (juara 1), Agung Prasetya (juara 2), dan Irfan Muhammad (juara 3). Juara 1 berhak memperoleh uang sebesar Rp 500 ribu, juara 2 sebesar Rp 250 ribu, dan juara 3 sebesar Rp 150 ribu.

Hujan

Lomba mural tas yang diselenggarakan mulai jam 8.00 sampai jam 15.00 ini tak lepas dari kendala. Hujan besar sempat mengguyur area lomba pada pukul 15.00. Panitia yang telah memajang hasil karya peserta di halaman gedung Koesnadi Hardjasoemantri terpaksa memindahkannya ke dalam gedung. “Penjurian akhirnya dilakukan di dalam gedung. Tapi untung saja hujannya turun setelah lomba selesai,” papar Ipul.

Walau begitu, hujan besar tersebut sedikit banyak tetap menimbulkan kekacauan. Salah satu tenda milik sponsor rubuh karena tak kuat menampung air hujan. Para panitia harus rela hujan-hujanan untuk menyelamatkan barang-barang milik sponsor.

Beruntung, cuaca tak bersahabat ini akhirnya berhenti dua jam kemudian. Pengumuman pemenang yang dilakukan pada malam harinya dapat berjalan dengan lancar. 

6 comments

Iim-Aish, Sang Jawara

Usai sudah rangkaian kegiatan suksesi KOMAKO yang digelar sejak awal April lalu. Pasangan Iim-Aish akhirnya terpilih sebagai Ketua-Sekretaris Jenderal (Sekjen) KOMAKO periode 2009/2010. Dalam penghitungan suara Senin (18/5) lalu, pasangan ini berhasil mengungguli Dhidha-Fajar dengan angka 149-87.

Perjalanan Iim-Aish menuju kursi panas ini tidaklah mudah. Pada mulanya, Iim hampir tidak mencalonkan diri karena tak menemukan calon sekjen yang sesuai. Namun pada detik terakhir, mahasiswa Ilmu Komunikasi ’06 ini akhirnya berhasil menggaet Aish sebagai calon sekjennya.

Acara serah jabatan untuk pasangan baru ini akan digelar pada hari Rabu (20/5) di Ruang Seminar FISIPOL. Diharapkan, masa depan KOMAKO dapat semakin cerah pada masa kepemimpinan Iim-Aish.

20 comments

Inikah Dampak UU BHP?

Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (UU BHP) telah disahkan sejak Desember tahun lalu. Namun saat itu aku tak terlalu ambil pusing tentangnya karena memang kurang paham dengan isinya. Baru pada Februari kemarin aku mengenal lebih jauh tentang seluk beluk UU BHP, itu pun juga karena tak sengaja dijelaskan oleh kakakku.

Pada intinya, UU BHP menyebutkan bahwa kewenangan pengelolaan universitas negeri kini sepenuhnya berada pada pihak universitas yang bersangkutan. Universitas tidak lagi ditempatkan sebagai unit pelaksana teknis dari Departemen Pendidikan Nasional, melainkan sebagai suatu unit yang otonom. Hal itu berarti, UU BHP “memaksa” universitas negeri untuk melakukan privatisasi. Dengan privatisasi, terdapat kecenderungan universitas negeri akan menjadi semakin komersil. Biaya pendidikan dikhawatirkan akan melejit tinggi. Tampaknya alasan itulah yang membuat UU ini kemudian menuai berbagai protes.

Walau sudah sedikit mengerti tentang UU BHP beserta problematikanya, namun aku tetap memutuskan untuk tidak terlalu peduli. Toh juga universitas negeri memang sudah mahal sejak belum disahkannya UU BHP.

Tapi beberapa hari yang lalu tiba-tiba persoalan UU ini mendapat ruang di pikiranku. Setrajana, sebuah organisasi pecinta alam FISIPOL UGM, menggelar suatu acara band-bandan, Selasa (12/5) siang. Acara yang digelar di lapangan tengah FISIPOL tersebut tampaknya didukung sepenuhnya oleh sebuah produk multivitamin. Hal itu terlihat dari banyaknya umbul-umbul dan stand di sekitar panggung yang bertuliskan merk produk tersebut. Bahkan, pada awalnya aku mengira acara tersebut digelar murni oleh sang produk multivitamin, bukan oleh Setrajana.

Saat pertama melihat umbul-umbul produk di dalam gedung FISIPOL, tak terlintas pikiran apa pun di benakku. Namun beberapa saat kemudian aku baru tersadar. Tahun lalu ketika KOMAKO hendak menghelat Communication Expo (Commex), panita dilarang memasang media promosi milik sponsor di dalam lingkungan kampus. Spanduk dan segala tetek-bengek milik sponsor paling mentok hanya bisa dipasang di tempat parkir. Namun kini, lapangan tengah FISIPOL dipenuhi warna merah, warna utama produk tersebut.

Barangkali sejak disahkannya UU BHP, pihak fakultas mengambil kebijakan untuk bersikap lebih longgar terhadap masuknya sponsor dari luar. Sekarang kegiatan belajar mengajar seolah dikesampingkan. Acara band-bandan yang digelar di jam kuliah tentu cukup mengganggu kegiatan belajar mengajar. Meski di satu sisi aku merasa senang ada tontonan, tapi di sisi lain aku mengakui bahwa acara itu membuatku malas masuk kelas. Setelah kupaksakan untuk masuk kelas pun, rupanya kegiatan belajar mengajar cukup terganggu oleh kerasnya dentuman musik yang berhasil menerobos masuk ruang kelas.

Terlepas dari dampak UU BHP atau bukan, aku berharap pihak fakultas dapat lebih memikirkan lagi saat hendak menerima proposal acara semacam ini. Biaya kuliah boleh mahal, tapi harus setimpal dengan servis dan fasilitas yang diberikan.