Starin Sani

26 comments

Jagad X Code


Rating: ★★★
Category: Movies
Genre: Comedy

Jagad X Code berkisah tentang tiga sahabat pengangguran, yaitu Jagad (Ringgo Agus Rahman), Bayu (Mario Irwiensyah), dan Gareng (Opi Bahtiar), yang tinggal di kawasan Kali Code, Yogyakarta. Pada suatu sore, mereka tiba-tiba bertemu dengan seorang preman bernama Semsar (Tio Pakusadewo). Semsar meminta mereka untuk mengambil flashdisk dari dalam tas Dita (Febi Febiola) dengan iming-iming uang Rp 30 juta. Ketiga sahabat ini akhirnya menyanggupi permintaan Semsar meski tidak tahu apa itu flashdisk.

Dengan cara yang konyol, akhirnya Jagad, Bayu, dan Gareng berhasil mendapatkan tas Dita. Setelah mengubek-ubek seluruh isi tas, mereka menyepakati sebuah benda untuk disebut sebagai “flashdisk”. Saat mereka hendak menyerahkan “flashdisk” itu pada Semsar, tiba-tiba benda itu diambil oleh Regina (Tika Putri), seorang anak pejabat tapi klepto.

Jagad, Bayu, dan Gareng kemudian berhasil memperoleh “flashdisk” itu kembali dan bersahabat dengan Regina. Mereka lalu menyerahkan “flashdisk” pada Semsar dan atasannya. Semsar dan atasannya tentu langsung mencak-mencak, karena benda yang diserahkan pada mereka rupanya bukan flashdisk, melainkan sebuah parfum.

Ketiga sekawan ini segera mencari flashdisk yang sebenarnya dari dalam tas Dita. Malangnya, tas yang mereka sembunyikan di balik semak-semak itu telah diambil oleh salah seorang tetangga di kawasan Kali Code. Padahal, mereka dituntut untuk menyerahkan flashdisk dengan segera karena Semsar telah menculik Regina. Beruntung, mereka tak membutuhkan waktu lama untuk menemukan si tetangga yang mengambil tas. Dengan bantuan tetangga itu pula, mereka bertiga mengetahui benda mana yang bernama flashdisk.

Terjadilah transaksi pertukaran flashdisk dengan Regina. Setelah mendapatkan Regina, Jagad mengambil kembali flashdisk yang telah diserahkannya. Penasaran, Jagad dan kawan-kawan kemudian membuka file seharga Rp 30 juta yang ada di dalam flashdisk. Sungguh kejutan bagi Regina, ternyata flashdisk itu berisi daftar pejabat yang korupsi, dan ayah Regina adalah salah satunya.

Secara keseluruhan, Jagad X Code terbilang mampu mengocok perut. Film yang disutradarai oleh Herwin Novianto ini juga didukung oleh musik soundtrack yang asyik, menggabungkan gamelan dengan musik modern. Melalui film ini pula, penonton dapat melihat Ringgo –yang kerap berbahasa Sunda– menggunakan bahasa Jawa dengan logat medhok. Film produksi Maleo Pictures ini juga didukung oleh sederet artis dan seniman, seperti Didik Nini Thowok, Butet Kertaradjasa, dan Desta Club 80’s.

Walau begitu, Jagad X Code tergolong standar dan biasa untuk sebuah film komedi. Ending-nya pun kurang menggigit. Tidak ada hal istimewa yang ditawarkan. Walau begitu, film ini tetap dapat dijadikan alternatif hiburan di kala senggang.

95 comments

Nasib Pacar Anak Band

Sewaktu masih duduk di bangku SMA, aku amat mengidam-idamkan memiliki pacar anak band. Keren, terkenal, punya banyak fans. Pasti bangga rasanya menggandeng sang pacar ke mana-mana.

Tiga tahun berselang, saat ini impianku sudah terwujud. Aku memiliki pacar seorang drummer. Awalnya memang senang bukan main, tapi lama-kelamaan aku menjadi muak. Muak dengan segala rutinitasnya. Bosan dengan semua pembatalan janjinya.

Malam minggu ini, aku ditinggal pacar ke Semarang. Dia ada job manggung di sana. Lalu Senin besok, kami sudah janjian mau nge-date. Tapi tadi pagi aku menerima sms pembatalan darinya, katanya hari Senin ada latihan band. Malam minggu pekan depan, bertepatan dengan hari valentine, lagi-lagi dia harus manggung bersama bandnya. Masih ada lagi kenangan pahit yang membekas di ingatanku. Pada hari ulang tahunku tahun lalu, dia membatalkan dinner bersamaku karena harus mengikuti seleksi band. Huff… band lagi, band lagi. Lagi-lagi band. Band kok lagi-lagi?

Keadaan ini diperparah dengan sikapnya yang cenderung mengabaikan aku kalau sudah bertemu dengan teman-temannya, baik teman band maupun teman kuliah. Setiap kali aku berusaha masuk ke dalam obrolan dia dan teman-temannya, aku selalu terpental kembali. Mereka seolah berada dalam sebuah kubah yang tak tertembus. Dan pacarku, ia merasa hangat dan nyaman di dalamnya. Pacarku, ia lupa kepada aku yang berdiri di luar, kedinginan dan kesepian.

Hal inilah yang kerap membuatku malas untuk ikut menemaninya tampil, atau untuk sekedar nongkrong
bersama teman-temannya. Aku merasa lebih baik tidak ikut sama sekali, daripada ikut tapi makan hati. Maka sekarang peraturan yang berlaku dalam Undang-Undang Perpacaran kami adalah: dilarang mengajak pacar dan teman-teman untuk pergi bersama-sama. Peraturan ini jelas membuat frekuensi pacaran kami menjadi berkurang. Sesekali dia masih memintaku untuk menemaninya tampil, tapi entah kenapa aku tetap keras kepala untuk menyatakan “tidak”.

Aku sudah menyampaikan uneg-uneg ini, tapi dia malah membela bandnya yang tentunya membuatku menjadi tambah kesal. Aku mencoba curahkan uneg-unegku melalui tulisan ini, tapi aku yakin dia juga tidak akan membacanya. Toh dia hampir tidak pernah membuka blogku. Meski sudah sering aku memintanya. Meski tersedia akses internet unlimited di rumahnya.

Yah… inilah duka yang kurasakan sebagai pacar anak band. Tapi sebenarnya banyak juga sisi positifnya. Selain bangga untuk menggandengnya ke mana pun, aku juga dilatih untuk menjadi orang yang lebih sabar.

13 comments

Prospek Cerah Atlet In Line Skate

 
Pemerintah Sidoarjo kembali menggelar kejuaraan in line skate Sidoarjo Cup, Sabtu-Minggu (31/1-1/2). Tak kurang dari 200 atlet in line skate berlaga dalam perlombaan yang mengambil tempat di Gelora Delta Sidoarjo ini. Kebetulan, adikku adalah salah satu pesertanya. Selama dua hari perlombaan, aku ikut menonton jalannya kejuaraan in line skate tingkat nasional ini.

Hujan deras mengiringi Sidoarjo Cup hari pertama. Belasan atlet terjatuh dan mengalami cedera akibat licinnya lintasan. Jadwal molor, ruang istirahat atlet tergenang air. Beberapa nomor perlombaan terpaksa diundur ke hari kedua. Beruntung, hari berikutnya dapat berjalan hampir tanpa kendala. Hanya sesekali gerimis turun membasahi lintasan.

Seperti kejuaraan in line skate biasanya, ada banyak nomor yang dilombakan di Sidoarjo Cup, di antaranya sprint 300 meter, eliminasi 5000 meter, dan PTP 5000 meter. Setiap nomor perlombaan dibagi-bagi lagi berdasar jenis kelamin dan kelompok usia.

In line skate sendiri merupakan cabang olah raga yang sudah mulai dilirik oleh banyak kalangan. Jumlah atlet in line skate semakin banyak dari tahun ke tahun, meski masih belum terlalu banyak. Belum terlalu banyaknya jumlah atlet, ditambah banyaknya nomor yang dilombakan, membuka peluang lebar untuk hadirnya para atlet pendatang baru.

Saat ini, sudah lazim terjadi jual beli atlet in line skate. Daerah kaya yang kerap membeli atlet-atlet handal dari daerah lain adalah Kalimantan Timur (Kaltim). Para atlet yang dibeli tentu tidak keberatan membelot dari daerahnya sendiri karena gaji yang ditawarkan Kaltim cukup menggiurkan, mencapai Rp 2 juta per bulan. Belum lagi berlimpahnya bonus yang diperoleh atlet jika memperoleh juara dalam berbagai perlombaan.

Sebagai gambaran, pada PON 2008 lalu, atlet in line skate Kaltim yang berhasil menggondol medali emas berhak mendapat bonus sebanyak Rp 150 juta, medali perak Rp 100 juta, dan medali perunggu Rp 75 juta. Tak heran, banyak atlet in line skate yang berusaha sekuat tenaga agar dilirik oleh Kaltim.

Bagi Anda yang tertarik untuk menjadi atlet in line skate, segera saja bergabung di klub-klub in line skate yang sudah banyak bermunculan. Di Yogyakarta sendiri terdapat beberapa klub in line skate, di antaranya EMIC yang kerap berlatih di kawasan UGM, serta Mataram di Stadion Mandala Krida.

20 comments

Di Antara Dua Geng

Aku adalah seorang manusia yang tak bisa hidup tanpa geng. Seperti kata Aristoteles, manusia adalah zoon politicon, yaitu makhluk yang pada dasarnya selalu ingin bergaul dan berkumpul dengan sesama manusia lainnya. Tapi tampaknya aku adalah contoh zoon politicon yang ekstrim.

Sewaktu SMP, aku memiliki geng beranggotakan sembilan orang, namanya Gomu-Gomu Soldier. Huek cuh, dari namanya saja sudah kelihatan norak. Saat SMA kelas 1, aku juga punya geng dengan anggota enam orang, biasa dipanggil Mommierz. Kelas 2 dan 3, gengku sudah berbeda lagi. Kali ini beranggotakan lima orang, dengan nama Pengkierz.

Menginjak bangku kuliah, seharusnya aku bisa menjadi sosok yang lebih dewasa dan mandiri. Tapi ternyata sifat dasar untuk hidup nge-geng tak bisa diubah. Saat ini aku punya geng dengan personil empat orang, sering dipanggil dengan nama Geng Glamor.

Meski sudah jarang bertemu, namun perlu dicatat bahwa aku dan teman-teman gengku sewaktu SMP dan SMA masih tetap saling kontak. Saat liburan, kami sering mengadakan reuni geng. Yang baru-baru ini dihelat adalah reuni Pengkierz.

Tak pernah kusangka, memiliki banyak geng bisa menjadi suatu masalah tersendiri. Aku tidak akan banyak curhat di sini. Intinya, salah satu teman gengku baru saja jadian dengan mantan pacar salah satu teman dari gengku yang lain.

Aku benar-benar dibikin bingung. Di geng yang satu, aku harus ikut senang karena seorang temanku baru saja jadian. Di geng yang lain, aku harus menunjukkan rasa bela sungkawa karena temanku ada yang patah hati. Seseorang yang bermuka dua, itulah aku. Aku tidak suka diriku yang seperti ini, tapi aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan.

Masalah seperti ini bukan hanya sekali terjadi. Saat SMA pernah juga ada kasus yang lebih gawat. Seorang teman gengku menjadi selingkuhan pacar teman gengku yang lain! Di geng yang satu, aku dituntut untuk menjadi teman baik yang bisa menjaga rahasia. Di geng yang lain, aku merasa bersalah karena merahasiakan informasi penting. Saat akhirnya kebenaran terungkap, kedua temanku itu menangis padaku, tidak secara bersamaan tentunya. Mereka memang tidak marah padaku, tapi rasanya tetap saja, sungguh… sungguh menyesakkan. Aku bingung harus berkomentar apa, bersikap bagaimana, memihak siapa.

Ada satu hal lagi yang kerap membuatku getir. Seringkali, kasus yang terjadi sebenarnya merupakan masalah interpersonal. Tapi karena menyangkut anggota kedua geng, masalah tersebut lantas membesar menjadi masalah antargeng. Mungkin masalah antargeng itu tidak seekstrim seperti yang ditunjukkan oleh sinetron-sinetron Indonesia: saling tampar, saling menjahili, cuih… najis.

Yang terjadi di geng-gengku hanyalah saling menggunjingi di belakang. Nah, kalau salah satu gengku sedang menggosipkan gengku yang lain, biasanya aku tak terlalu banyak berkomentar. Kalau ada informasi yang tidak benar, baru aku membela geng yang sedang digosipkan. Mungkin aku memang pengecut, cari aman, bermuka dua… Tapi yang jelas, semua ini kulakukan karena aku tidak ingin memperbesar masalah. Buat semua teman gengku, I love u all, girls.

26 comments

Organisasi Mahasiswa = Lembaga Volunteer?


Aktif di beberapa organisasi mahasiswa telah banyak merenggut masa remajaku. Jarang di rumah, kuliah terlantar, pacar terabaikan. Semua itu konsekuensi yang harus dihadapi jika ada urusan organisasi yang harus diselesaikan. Naasnya, urusan itu datang dan pergi bergantian, selalu menghampiri tiada henti.

Saat menjelang ujian misalnya, ada tulisan teman-teman yang harus di-edit untuk diterbitkan organisasi. Saat musim ujian datang, ada proposal kegiatan organisasi yang harus diselesaikan. Saat liburan tiba, proposal lainnya menunggu untuk dikerjakan.

Terkadang aku berpikir, apa yang kuperoleh dari organisasi-organisasi mahasiswa itu? Uang? Tentu saja tidak. Aku justru rugi dari segi materi: pulsa, bensin, uang makan. Yang kudapatkan hanya lelah, kuliah terganggu, waktu untuk bermain berkurang.

Organisasi mahasiswa memiliki berbagai lingkup anggota. Mulai dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang lingkupnya universitas, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) yang setingkat jurusan, sampai Badan Semi Otonom (BSO) yang merupakan “anak” dari HMJ. Namun pada dasarnya semua organisasi mahasiswa itu sama. Sama-sama lembaga volunteer, lembaga yang keanggotaannya bersifat sukarela. Anggotanya harus mau bekerja keras tanpa mengharap pamrih. Harus mau meluangkan waktu tanpa mengharap imbalan.

Hal inilah yang mungkin membuat banyak anggota organisasi mahasiswa berguguran di tengah jalan. Sementara aku, hanya sepatah kata bernama “komitmen” yang membuatku tetap bertahan di organisasi. Demi kata itu, aku memberikan pengabdian dan kesetiaan pada organisasi.

Aku yakin, lembaga volunteer ini pasti akan bermanfaat, baik sekarang maupun nanti. Manfaat saat ini, selain memiliki banyak kenalan, aku juga bisa menambah daftar pengalaman berorganisasi di Curriculum Vitae (CV). Untuk jangka panjang, bukan tak mungkin kenalan yang kudapat sekarang ini bisa menjadi koneksi yang bermanfaat di dunia kerja nanti.

Organisasi mahasiswa memang lembaga volunteer. Tidak ada yang perlu dikeluhkan. Ikhlaskan semuanya sekarang, petik hasilnya di masa mendatang.