Starin Sani

7 comments

Anak Pantai


Belakangan ini aku benar-benar merasa menjadi anak pantai. Setelah Kamis (27/11) harus ke Pantai Siung untuk shooting tugas mata kuliah Program Siaran TV (PSTV), aku kembali lagi ke pantai pada hari Minggu (30/11). Pantai yang kudatangi kali ini adalah Pantai Pandansimo, Bantul.

Kunjunganku ke pantai ini sungguh merupakan suatu ketidaksengajaan. Awalnya, aku dan ketiga teman gengku –Dildol, Yuyun, Zata– berniat melakukan riset di daerah Bantul untuk memenuhi tugas mata kuliah Sinematografi. Namun sesampainya di sana, Yuyun malah mengatakan bahwa pada saat itu juga sedang digelar Lomba Muatan Roket di Pantai Pandansimo. Kami pun tergiur untuk menonton lomba itu barang sejenak.


Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, akhirnya kami tiba juga di pantai tempat diadakannya lomba. Sialnya, kami datang di waktu istirahat. Lomba baru akan dimulai lagi pukul 15.00, padahal saat itu baru jam 11.00.

Jika dibandingkan dengan Pantai Siung, pemandangan alam di Pantai Pandansimo bisa dibilang kalah jauh. Tapi karena sudah jauh-jauh ke Pantai Pandansimo, rugi kalau tidak dimanfaatkan untuk berwisata. Belum pulihnya kulit yang gosong akibat ke Pantai Siung tiga hari sebelumnya tak menjadi masalah besar. Kami asyik berfoto-foto di bawah teriknya matahari yang menyinari Pantai Pandansimo.



Wisata kami ke pantai ini tampaknya membawa berkah tersendiri bagi Yuyun. Dia bertemu salah seorang temannya yang, ehem… lumayan ganteng. Usut punya usut, ternyata Yuyun suka dengan temannya itu! Kayaknya sih…

Di Pantai Pandansimo juga, Zata bertemu dengan pakdenya yang kebetulan bekerja di LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional), lembaga yang menyelenggarakan Lomba Muatan Roket. Beruntung bagi Zata, sang pakde menawarinya bekerja di lembaga tersebut setelah lulus kuliah nanti.


Sementara aku dan Dildol, kami harus puas hanya dengan bertemu penjual bakso ojek. Sudah beberapa hari terakhir ini, kami –terutama aku– ngidam cilok. Tak ada cilok, bakso ojek pun jadi.

Wisata dadakan kami ini akhirnya harus berakhir ketika teringat bahwa ada tugas Sinematografi yang menunggu untuk dikerjakan. Meski rasa malas menyerang, kami tetap berusaha memenuhi tujuan awal kami. Dengan berat hati, keempat anak pantai akhirnya meninggalkan Pandansimo…
19 comments

Dia Bernama Jack Spearrow’s

Kamis malam aku makan di semacam tempat makan berinisial F.

Hembusan angin dingin yang menusuk raga membuatku ingin mencicipi makanan pedas. Aku pun memutuskan untuk memesan jamur balado. Setelah cukup lama menunggu, akhirnya pesananku terhidang juga. Tanpa banyak basa-basi, aku langsung menyantapnya.

Kunyahan pertama. Hmm, nikmat…

Kunyahan kedua. Mulai terasa pedas.

Kunyahan ketiga. Hwaaa… superpedas!

Sialnya lagi, di antara jamur ternyata terselip jahe yang dipotong besar-besar. Hueeek… aku segera tahu bahwa aku salah pesan!

Tapi sesungguhnya bukan jamur balado sialan itu yang ingin kuceritakan. Seusai makan, tiba-tiba ada seorang cowok menghampiri mejaku. Aku kira dia ingin mengajakku kenalan, atau minta tisu, atau kemungkinan terburuk dia ternyata menyembunyikan gitar di balik tubuhnya alias mau ngamen. Tapi ternyata semua dugaanku salah.

Setelah mengucapkan permisi, lelaki itu mengambil sendok dari gelasku dan… zap! Dia membengkokkannya. Aku langsung terperangah. Ia kemudian meniup sendok tersebut dan menjadikannya lurus kembali seperti semula. Aku hanya bisa melongo, memandangnya dengan takjub.

Seakan belum puas unjuk kebolehan, lelaki bertubuh tinggi kurus itu lalu mengeluarkan selembar uang Rp 5000,- dan selembar uang Rp 1000,-. Ia menyuruhku menggenggam uang Rp 1000,- dan temanku menggenggam yang Rp 5000,-. Dalam hitungan detik, ia meminta kami membuka kepalan tangan. Ajaibnya, uang-uang itu telah bertukar tempat! Uang Rp 5000,- di tanganku dan uang Rp 1000,- di genggaman temanku. Aku tambah kagum bin nggumun. Baru kali ini aku menyaksikan sulap secara live.

Usut punya usut, ternyata si pesulap itu memang selalu mangkal di tempat makan itu pada hari-hari tertentu. Ia menampilkan atraksi dari meja ke meja secara gratis, tanpa memungut biaya! Aku merasa beruntung karena mejaku adalah salah satu meja terpilih. Kapan lagi aku melihat sulap secara langsung?

Lelaki berkulit gelap itu kemudian terus menampilkan berbagai atraksi. Mulai dari aksi mengeluarkan api dari dompetnya, sampai berbagai sulap menggunakan kartu remi. Kebeteanku dengan jamur balado langsung sirna, ikut tersulap oleh atraksinya.

Setelah merasa puas melihat ekspresi kagum di wajahku, lelaki itu akhirnya menutup perjumpaan dengan menyodorkan selembar kartu nama berwarna merah. Kubaca nama yang tertera. Dia bernama Jack Spearrow’s.

22 comments

Kedokteran Gigi Peduli Bumi

Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UGM kembali menggelar acara tahunannya.

Tak kurang 2500 orang memadati Stadion Kridosono, Sabtu (15/11) malam. Rupanya, mahasiswa FKG sedang menyelenggarakan acara tahunan bertajuk Dental Nite.

Musik untuk Bumi

Dental Nite yang baru dihelat untuk kedua kalinya ini selalu mengusung tema khusus di setiap pagelarannya. Tahun ini, tema yang diangkat adalah Music for Mother Earth. Tema ini dipilih sebagai bentuk kepedulian FKG terhadap bumi yang terancam pemanasan global. “Untuk mengurangi global warming, sebagian dari hasil penjualan tiket nantinya akan digunakan untuk menanam seribu pohon di daerah Cangkringan,” ujar Rani (KG ’06), panitia bagian publikasi.

Untuk meraih massa, berbagai band lokal diundang untuk mengisi acara yang telah dipersiapkan selama empat bulan ini, di antaranya Discomojoyo, Superkustik, dan SKJ ’94. Babyclown-x tak mau ketinggalan unjuk kemampuan dance mereka. Panitia juga menghadirkan pihak WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) untuk menyampaikan kampanye peduli bumi, sesuai dengan tema Dental Nite malam itu. Puncaknya, penonton dihibur oleh penampilan band asal ibu kota, Andra and the Backbone.

Terbilang Sukses

Meski tiket tidak habis terjual, acara berdurasi 3 jam ini bisa dibilang sukses. Hal itu tampak dari kepuasan yang tersirat di wajah para penonton setelah acara usai. “Kadang-kadang ada jeda agak lama antara band satu dengan band selanjutnya. Tapi nggak masalah, Andra keren banget malam ini!” ungkap Bahana (Arsitek ’06), salah satu penonton.

Melihat tanggapan positif dari penonton, Rani mengaku puas. “Semoga saja Dental Nite tahun depan bisa lebih meriah lagi,” tandas Rani.

12 comments

Mubul dan Pemimpin Baru

Hujan deras mengguyur kota Jogja, Sabtu (8/11) siang. Namun hal itu tidak menyurutkan semangat awak SKM UGM Bulaksumur untuk menempuh perjalanan jauh ke Balai Istirahat Karyawan (BIK), Kaliurang. Selama dua hari, Sabtu-Minggu (8-9/11), mereka akan menggelar acara sakral di tempat ini, yaitu Musyawarah Bulaksumur (Mubul). Selain bertujuan untuk memilih pemimpin baru, acara ini juga dipergunakan untuk me-launching web baru SKM UGM Bulaksumur.

Rombongan tiba di BIK pukul 13.00 WIB. Setelah beristirahat sejenak, acara langsung dilanjutkan dengan sidang Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) oleh Dewan Pemimpin 2007/2008. Dewan Pemimpin yang akan segera lengser ini terdiri dari Indah Widyaning (Pemimpin Umum), Pandu Satria (Sekretaris Umum), Mufti Nurlatifah (Pemimpin Redaksi), Avicenna Nindya (Manajer Iklan dan Promosi), Raras Cahyafitri (Kepala Litbang), dan Dewi Ratih (Kepala Produksi).

Sidang LPJ berakhir pada pukul 17.30 WIB. Semua LPJ diterima dengan beberapa catatan, kecuali untuk Indah Widyaning, Pandu Satria, dan Raras Cahyafitri yang diterima tanpa catatan. Peserta Mubul kemudian diberi kesempatan untuk beribadah dan makan malam.

Pukul 19.30 WIB, acara dilanjutkan kembali dengan sidang visi misi untuk calon Dewan Pemimpin 2008/2009. Sidang yang berlangsung alot ini diwarnai dengan berbagai drama, mulai dari tangis sampai jatuh sakitnya salah seorang calon. Perdebatan sengit terutama terjadi pada saat pemilihan Pemimpin Umum, Sekretaris Umum, dan Kepala Produksi.

Sidang berakhir pada hari Minggu pukul 2.00 WIB dini hari. Calon yang akhirnya berhasil maju menjadi Dewan Pemimpin 2008/2009 adalah Gilang Gusti Aji (Pemimpin Umum), Starin Sani (Sekretaris Umum), Dila Maretihaq (Pemimpin Redaksi), Nur Septiana (Manajer Iklan Promosi), Anggi M. L. (Kepala Litbang), dan Kurnia Rahmad (Kepala Produksi).

Meski sudah menemukan Dewan Pemimpin baru, Mubul belum usai. Keesokan harinya, digelar acara launching web baru SKM UGM Bulaksumur yang beralamat di www.bulaksumur-online.com. Setelah launching, dilakukan prosesi serah terima jabatan dari Dewan Pemimpin lama kepada Dewan Pemimpin baru. Acara akhirnya berakhir pada pukul 10.00 WIB.

Di tangan Dewan Pemimpin lama, SKM UGM Bulaksumur telah berhasil menjadi suatu media komunitas yang profesional. Berbagai kegiatan hiburan digelar dengan penuh rasa kekeluargaan, berbagai pekerjaan dilakukan dengan menjunjung tinggi profesionalisme. Tampuk kekuasaan sudah berganti. Mari kita saksikan kiprah SKM UGM Bulaksumur di bawah Dewan Pemimpin baru.

22 comments

Caution! A Virus Has Been Detected

Marmos. Kata itu semakin akrab saja di telingaku. Teman-teman sering sekali menyebutku begitu. Demikian pula sebaliknya, aku kerap mengatai mereka dengan kata itu.

Marmos berasal dari kata marai (Jawa=membuat) dan emosi. Jadi, marmos adalah sebutan bagi orang yang gemar sekali membuat sesamanya terpancing emosi, baik disengaja maupun tidak. Cara orang marmos memancing emosi bisa bermacam-macam, mulai dari penggunaan bahasa yang kasar sampai perilaku yang congkak dan takabur.

Semakin hari, aku menemukan jumlah orang marmos semakin banyak. Menurutku, ada beberapa faktor yang menyebabkan orang menjadi marmos, yaitu:

1. Bad Mood

Orang yang baru saja mengalami kejadian buruk, mood-nya akan berubah menjadi buruk pula. Mereka akan menjadi cepat tersinggung dan marah. Secara tidak sadar, mereka mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan hati lawan bicaranya. Orang yang marmos karena faktor ini biasanya akan langsung menyadari kemarmosannya setelah mood-nya kembali baik.

2. PMS (Pre Menstruation Syndrome)

Faktor ini adalah penyebab utama marmos di kalangan kaum wanita. Mendekati datangnya menstruasi, perempuan biasanya menjadi lebih sensitif. Sedikit saja ada hal yang tidak berkenan di hati, mereka akan langsung bereaksi. Reaksi ini berbeda-beda pada masing-masing perempuan. Ada yang langsung marah-marah, ada juga yang justru diam seribu bahasa. Tapi intinya sama: marmos. Lebih marmosnya lagi, perempuan biasanya tidak merasa bersalah setelah segala kemarmosan yang dilakukannya. Dengan santai mereka berkata, “maklumlah, namanya juga lagi PMS.”

3. Genetik

Faktor genetik atau keturunan sudah tidak bisa lagi diganggu gugat. Sejak masih di dalam kandungan, darah marmos sudah mengalir di tubuh orang-orang marmos. Hampir tidak ada cara untuk menghilangkannya. Walau begitu, orang-orang yang marmos karena faktor ini biasanya sudah menyadari kemarmosannya sejak masih kanak-kanak. Saat masih kecil, mereka dikucilkan dari pergaulan. Mereka lalu berusaha untuk berubah sehingga kebanyakan dari mereka tidak lagi marmos setelah menginjak usia dewasa.

4. Virus

Ini adalah faktor yang paling berbahaya. Marmos adalah virus yang dapat menular dengan mudah dari satu oknum ke oknum lain. Jika dalam suatu komunitas terdapat satu orang marmos, maka sebulan kemudian minimal akan ada lima orang marmos dalam komunitas itu. Hal ini dikarenakan orang yang menjadi korban kemarmosan tentu akan merasa emosi dan berubah menjadi marmos pula. Jika setiap hari orang itu menjadi korban marmos, maka tanpa disadari sifat marmos akan menular ke dalam dirinya. Saat penular virus marmos pada akhirnya keluar dari komunitas, si korban marmos sudah terlanjur sukar untuk menghilangkan kebiasaan marmosnya.

Dari keempat faktor tersebut, tampaknya marmos yang ada pada diriku berasal dari faktor virus. Entah siapa yang pertama kali membawanya, yang jelas hampir semua teman di lingkunganku juga sudah terkena virus ini. Oleh karena itu, waspadalah bagi Anda yang belum tertular. Virus marmos ada di mana-mana!