Starin Sani

0 comments

NHW#3_Starin Sani : Membangun Peradaban dari Dalam Rumah

Apa sih sebenarnya peran spesifik keluarga kita di bumi ini? Mengapa Allah menghadirkan keluarga kita di lingkungan tempat kita tinggal sekarang?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, sebelumnya kita harus mengetahui dulu potensi diri beserta anggota keluarga. Dimulai dari potensi suami, saya diberi PR untuk membuat surat cinta, hihihi. Dengan menuliskan surat cinta, ternyata memang kita jadi bisa lebih tulus dalam melihat kelebihan suami, yang ujung-ujungnya bikin makin jatuh cinta sama suami. Pada intinya sih, menurut saya, suami saya itu hebat karena bisa menjalankan kewajiban sebagai suami dan ayah dengan baik, plus masih bisa meng-cover kekurangan saya sebagai istri dan ibu. Suami saya juga insya Allah sholeh dan bisa membimbing keluarganya di jalan Allah. Suami sih cuma senyam-senyum aja pas baca suratnya, hehe. :D

Hilya, putri kami yang baru berusia 1,5 tahun, menurut saya juga nggak kalah hebat. Dia cerdas dan berkemauan keras. Dia suka meniru gerakan sholat, berkata ‘sst’ sambil mendekatkan telunjuk ke bibir ketika adzan berkumandang, dan suka ikut-ikut ketika diperdengarkan orang mengaji. Dia juga suka sekali membaca dan dibacakan buku/majalah. Dia suka menggambar dan minta digambarkan. Dia suka menyapu, membuang sampah, mengelap yang basah dengan tisu, dan membersihkan karpet dengan sikat. Insya Allah, seperti arti namanya, Hilya bisa menjadi perhiasan dunia-akhirat bagi kami orangtuanya.

Saya sendiri, apa potensi saya? Diri ini masih banyaaak sekali kekurangannya. Tapi kalo ada satu hal yang saya sendiri juga suka amazed dibuatnya, saya punya kemauan untuk berproses menjadi lebih baik. Semua orang juga gitu sih yaa, hehe. Tapi beneran, yang tahu bagaimana saya sebelum dan sesudah nikah, pasti kaget melihat perubahan saya. Yang dulu sangat jahiliyah, Alhamdulillah setelah nikah mulai mendapat hidayah, dan hingga sekarang masih terus dalam proses hijrah. Insya Allah ini memang sudah kehendak Allah agar saya bisa menjadi madrasah yang baik bagi anak-anak saya, sekaligus menjadi sebaik-baik perhiasan dunia bagi suami.

Lalu, dengan seluruh potensi di atas, mengapa Allah menghadirkan kami di tempat kami tinggal sekarang? Saat membahas ini dengan suami, ternyata jawabannya kurang lebih sama dengan yang ada di benak saya. Jadi, ketika kami baru menikah dan mulai tinggal di tempat ini, ada sebuah masjid yang baru dibangun, dekat sekali dengan rumah. Sampai sekarang masjid ini juga bisa dibilang masih dalam proses pembangunan, meski sudah dua tahunan bisa dipakai untuk sholat berjamaah. Selain pembangunan fisik, tentunya masjid ini juga masih harus ‘membangun’ jamaahnya, mengadakan aneka program agar warga sekitar lebih mencintai masjid. Sejauh ini saya dan terutama suami sudah berusaha untuk memakmurkan masjid dan membantu proses pembangunan masjid tersebut. Semoga Allah memberi kemudahan dan keteguhan hati agar kami bisa terus berkontribusi, bahkan lebih banyak lagi, untuk maajid ini.

Sesungguhnya yang memakmurkan madjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta (tetap) melaksanakan sholat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada apa pun) kecuali kepada Allah. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.

Note : posting-an ini ditulis untuk memenuhi Nice Homework #3 di program matrikulasi Institut Ibu Profesional (IIP)

0 comments

NHW#2_Starin Sani : Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan

Beraaat banget yaa judulnya, hehe. Kayaknya saya nggak bakal bikin checklist beginian kalo bukan karena ada homework dari IIP. :D

Jadi ada tiga daftar indikator yang harus saya buat, yaitu sebagai individu, sebagai istri, dan sebagai ibu. Sebagai istri, apa sih indikatornya saya udah jadi istri yang bisa bikin suami bahagia? Sebagai ibu, apa sih indikatornya saya udah jadi ibu yang bisa bikin Hilya bahagia? Berdasar hasil perenungan dan tanya-jawab dengan suami (sayang Hilya belum bisa ditanyai), ini dia checklist yang insya Allah harus saya kerjakan paling tidak selama tiga bulan ke depan, demi menjadi seorang perempuan profesional (menurut ukuran saya). Setelah tiga bulan mungkin daftar ini bisa berubah, bisa juga masih sama, tergantung keadaan.

a. Sebagai individu

Karena manusia diciptakan untuk beribadah, jadi indikator yang ini tentunya saya buat nggak jauh-jauh dari ibadah, dan ada yang terkait juga dengan NHW#1 saya.

1. Pakai pakaian syari lengkap dengan kaos kaki saat ke ruang kerja suami (pas ada karyawannya) dan ke rumah tetangga (biasanya sering males).

2. Mendatangi kajian ilmu minimal dua kali dalam sebulan.

3. Membaca buku-buku parenting islami, yang udah dibeli tapi jarang dibaca itu, setiap hari.

Sebenernya masih ada satu lagi sih yang sifatnya jangka panjang, tapi kalo disebutin detail takut riya’, hehe. Intinya ada sesuatu yang ingin saya lakukan tahun ini, tapi cukup saya dan Allah aja yang tau.

b. Sebagai istri

Pas nanya suami tentang kriteria istri yang bikin dia bahagia, katanya yang ‘manut‘ alias nurut. Dan Alhamdulillahnya, menurut suami, saya udah banyakan nurutnya, hehe. Tapiii, ada satu hal yang kata suami mesti diperbaiki, yaitu seputar kerapian dan kebersihan rumah, heuheuheu. Kayaknya saya kebanyakan baca posting-an seputar IRT yang intinya mengatakan bahwa kerjaan rumah itu nggak ada habisnya, jadi nggak usah terlalu dipaksain, suami nggak akan marah kok kalo rumah sedikit berantakan. Padahal yaa, suami saya, yang kerja di rumah, mungkin bisa lihat sendiri kalo sebenernya saya punya waktu buat beresin rumah, tapi males, hihi. Jadiii, inilah checklist saya sebagai istri.

1. Menuruti apa pun perkataan suami, asal nggak bertentangan dengan agama. Kalopun lagi terpaksa nggak bisa nurut, sampaikan dengan lembut, jangan sampai suami marah atau nggak ridho.

2. Menyapu rumah setiap hari (ketauan deh jarang nyapu :p).

3. Membereskan mainan Hilya setiap malam setelah Hilya tidur.

c. Sebagai ibu

Berhubung Hilya belum bisa ditanyai, jadi untuk indikator yang ini saya cuma bisa mengira-ngira aja.

1. Kurangi ngomel-ngomel ke Hilya. Dalam sehari maksimal satu kali aja ngomelnya. Tiap mau ngomel, langsung tarik napas, istighar, senyum.

2. Kurangi pegang HP. Selama Hilya bangun, cek HP cukup sekali aja dalam satu jam, kecuali kalo ada yang bener-bener urgent (WhatsApp dari costumer nggak termasuk urgent loh ya).

Untuk saat ini sepertinya itu dulu yaa checklist-nya. Semoga bisa istiqomah menjalankannya.

Note : posting-an ini ditulis untuk memenuhi Nice Homework #2 di program matrikulasi Institut Ibu Profesional (IIP)

0 comments

NHW#1_Starin Sani : Islamic Parenting

Kalo ditanya jurusan ilmu apa yang ingin saya tekuni saat ini, yang langsung terlintas di pikiran adalah ilmu parenting dengan pendekatan agama. Kutipan tulisan Bunda Kaska berikut rasanya pas sekali untuk menjelaskan alasannya.

Seorang ibu insya Allah ga akan ada NIAT menjerumuskan anaknya ke sesuatu yang mudharat apalagi SENGAJA ingin mencelakakan dunia akherat anak-anaknya.

Tapi… seorang ibu tanpa bekal agama saat mendidik anak sangat mungkin melakukan hal yang sebaliknya.

Sedih ya, merasa sudah mendidik anak dengan baik, tapi ternyata didikan kita nggak sejalan dengan ajaran agama. Mengikutkan anak ke banyak les ini-itu untuk mengejar prestasi duniawi, sampai-sampai anak sering terlewat sholatnya. Sering memperdengarkan musik alih-alih lantunan Quran sejak anak masih bayi, padahal dalam Islam musik itu haram hukumnya. Biasa saja ketika anak perempuan tidak berjilbab meski sudah waktunya, karena toh teman seumurannya banyak yang belum berjilbab juga. Dan masih banyak lagi contoh lainnya.

Karena itulah, bagi saya penting untuk belajar ilmu parenting yang berlandaskan agama, tidak hanya sekadar parenting saja. Usaha saya sejauh ini adalah dengan membaca buku-buku parenting islami, bergabung dalam grup parenting WhatsApp yang diasuh Bu Wina Risman yang banyak menggunakan pendekatan agama, juga mem-follow para pakar di bidang parenting islami seperti Kiki Barkiah dan Harry Santosa. Saya juga berusaha memperdalam ilmu agama secara umum, baik melalui video ceramah di YouTube maupun datang langsung ke kajian meski belum bisa rutin. Ke depannya, selain usaha-usaha yang sudah saya sebutkan tadi, saya ingin lebih sering lagi datang ke kajian, terutama yang topiknya tentang parenting.

Mengenai adab menuntut ilmu, wah, PR saya banyak sekali. Yang paling utama, saya ingin berusaha menghilangkan sikap merasa sudah tahu saat mendapat ilmu yang mirip-mirip dengan yang sudah pernah didapat sebelumnya. Semoga Allah selalu memberikan bimbinganNya.

Note : posting-an ini ditulis untuk memenuhi Nice Homework #1 di program matrikulasi Institut Ibu Profesional (IIP)

1 comments

Dapat Dolar dari Desain (Even a Newbie Designer Can Try!)

Udah setahun ini aku dapet penghasilan bulanan dari ngedesain, padahal aku nggak ada background sekolah desain, cuma punya suami desainer aja, hihihi. Setelah terbukti menghasilkan, aku ngajak adikku buat ikut nyobain. Adikku nih lebih minim lagi pengalaman ngedesainnya dibanding aku, tapiii ternyata di bulan pertama pun dia langsung bisa menghasilkan puluhan dolar, dan bulan berikutnya dapet ratusan dolar. Jadi udah terbukti yaa, insya Allah siapa pun bisa nyobain cara-cara berikut ini.

1. Jualan desain di situs print-on-demand (POD)

Jadi, di luar negeri sana ada banyak situs print-on-demand yang mengandalkan desainer lepas buat jualan di situsnya. Nanti kita tinggal upload desain, trus kalo ada yang pengin beli kaos, mug, casing HP, dsb dengan desain buatan kita, si situs inilah yang bertugas bikin produknya. Kita tinggal santai terima komisi. Enak bangetlah pokoknya, apalagi kalo desain kita udah banyak. Misal di bulan ini kita sama sekali nggak ngedesain pun, dolar bisa terus mengalir kalo desain-desain lama kita ada yang beli. Komisi per kaosnya emang cuma sekitar $2 sampai $4 aja sih, tapi kalo kita mau nyeriusin (punya banyak akun di situs-situs POD dan rajin upload desain baru), nggak mustahil kita bisa dapet sampe ribuan dolar per bulannya. Beberapa situs yang udah aku cobain dan terbukti menghasilkan yaitu teepublic.com dan redbubble.com.

Tips biar laku:

Buka halaman trending, popular, atau apalah namanya di situs POD tempat kita buka lapak. Lihat desain apa yang banyak muncul di halaman itu. Pas pemilihan presiden AS kemarin misalnya, kebanyakan desain yang trending temanya nggak jauh-jauh dari election. Ya udah, bikin deh desain seputar itu. Semakin cepat kita menangkap tren dan bikin desainnya, insya Allah peluang lakunya lebih besar karena belum banyak saingan desain serupa. Percayalah, urusan kualitas desain itu nomor dua. Yang penting lagi trending!

2. Ikut lomba desain logo

Biasanya desainer profesional udah pada tau nih. Jadi di luar sana ada banyak situs yang menawarkan aneka lomba logo yang bisa diikuti siapa aja. Kalo aku biasanya ikut yang di 99designs.com. Di situs ini aja setiap harinya ada ratusan lomba yang terbuka untuk kita ikuti. Peserta lombanya juga banyak sih, tapi tenang aja, desain itu kan relatif. Yang menurut kita bagus belum tentu disukai penyelenggara lomba, begitu juga sebaliknya. Jadi desainer newbie pun tetap punya kesempatan buat menang! Untuk hadiahnya sendiri bervariasi di setiap situs, kalo di 99designs, juara lomba logo dapat hadiah minimal $190 (bisa lebih, tergantung penyelenggara lombanya).

Tips biar menang:

Kalo menurutku jam terbang lumayan pengaruh sih, bukan jam terbang ngedesain, tapi jam terbang ikut lomba desain, hehe. Karena dengan ikut banyak lomba, kita jadi tau style desain kita itu cocoknya buat ikutan lomba yang gimana. Kita jadi lebih bisa baca gimana peluang menang kita pas mau ikut sebuah lomba. Pas lombanya pun kita jadi tau kapan harus terus berjuang, kapan harus segera give up dan cari kontes lain, daripada buang-buang waktu di kontes yang lama. Tips lain, rajin ngumpulin revisi kalo diminta, dan nggak gampang nyerah. Aku nih baru menang untuk pertama kalinya di lomba ke-16 yang aku ikuti, hihihi.

GENERAL TIPS

Gajian dolar emang bikin ngiler, tapi nggak usah terlalu ngoyo yaa cari duitnya. Usaha emang harus, tapi mesti dibarengi juga dengan banyak-banyak beribadah merayu Yang Maha Memberi Rezeki. Karena rezeki itu Allah yang ngasih. Desain kita jelek pun tetep bisa laku atau menang lomba jika Allah menghendaki.

Notes

Buat yang belum punya Paypal, harus bikin dulu ya kalo mau dolarnya ditransfer ke rekening. :D Tinggal sign up aja di paypal.com, nanti di situ kita bakal disuruh ngisi nomor kartu kredit. Kalo nggak punya kartu kredit ya Alhamdulillah, terhindar dari utang dan riba. :) Kita tetep bisa bikin Paypal kok dengan beli Virtual Credit Card (VCC) yang banyak dijual online. Dulu aku beli sekitar Rp 80.000 untuk masa berlaku 2 tahun. Nah, nanti nomor VCC ini yang kita masukin di Paypal. Kalo bingung, tanya aja gimana cara bikin Paypal ke masnya yang jual VCC, biasanya mereka dengan senang hati mau ngasih petunjuk kok.

Selamat berburu dolar!

c360_2016-10-01-21-08-19-649
0 comments

Rumah Main Anak

c360_2016-10-01-21-08-19-649

Sering nggak sih bingung mesti berkegiatan apa lagi bareng anak? Tentunya yang positif, asik, dan nggak perlu keluar duit banyak, hihihi. Nah, buat mommies yang sering bingung juga kayak aku, buku ini bisa menjawab kebingungan kita lho, Mom!

Dari judulnya mungkin udah bisa ditebak, buku ini isinya aaall about mainan anak. Mayoritas isinya emang tentang itu sih, tapi lebih lengkap lagi. Buku ini dibagi berdasar tahapan usia, mulai dari 0-3 bulan, 3-6 bulan, 6-9 bulan, 9-12 bulan, 1-2 tahun, sampai 2-3 tahun. Nah, di setiap tahapan usia, awalnya dijelasin dulu parameter perkembangan anak pada usia tersebut, setelah itu baru deh dipaparin permainan apa aja yang bisa menunjang anak untuk mencapai parameter tadi. Jadi misalnya untuk anak 1 tahun kita bisa bikin permainan basket ala-ala karena di usia ini anak diharapkan bisa melempar bola ke depan. Totalnya, ada RATUSAN (maaf untuk tepatnya aku nggak ngitung ;p) permainan yang ditawarkan buku ini. Wiih, that’s A LOT kan yaa.

Eits, tapi nggak cuma itu aja. Di bagian akhir, Julia Sarah Rangkuti selaku penulis juga melampirkan contoh agenda bermain anak. Iya, bermain ternyata juga perlu dibikinin jadwalnya, Mom. Misal di umur 13 bulan, hari Senin minggu pertama agendanya latihan berjinjit, besoknya pengenalan mata, besoknya lagi baca kisah Nabi Muhammad, dst dibikin dalam bentuk tabel gitu. Dengan bikin agendanya, kita pun jadi tau persis tujuan apa yang pengin dicapai dari setiap permainan, dan bisa seimbang dalam ngasih stimulus, jadi nggak mensitumulus motorik kasar mulu, atau kognitifnya mulu, atau seni mulu misalnya. Dengan bikin agenda, kita juga bisa jadi lebih prepare. Misal untuk latihan berjinjit, kita bisa pakai permainan memetik bola atau meraih bintang. Karena udah diagendakan sebelumnya, dari jauh-jauh hari kita udah bisa mulai nyiapin peralatan yang dibutuhkan buat permainan itu.

Nilai plus lain, buku ini full color dan dilengkapi foto-foto, jadi kita pun punya bayangan permainan-permainannya kayak apa. Kalo menurut aku sih buku setebal 333 halaman ini recommended banget, terutama buat ibu-ibu yang sehari-harinya full di rumah ngurus anak. Aku bahkan agak nyesel loh baru beli buku ini pas Hilya umur 11 bulan, kelewatan banyak mainannn dehhh. Buat yang anaknya udah di atas 3 tahun, ada juga tuh buku Rumah Main Anak 2. Walaupun belum beli, tapi kayaknya recommended juga. xD

Pages:«123456789...62»