Starin Sani

22 comments

Caution! A Virus Has Been Detected

Marmos. Kata itu semakin akrab saja di telingaku. Teman-teman sering sekali menyebutku begitu. Demikian pula sebaliknya, aku kerap mengatai mereka dengan kata itu.

Marmos berasal dari kata marai (Jawa=membuat) dan emosi. Jadi, marmos adalah sebutan bagi orang yang gemar sekali membuat sesamanya terpancing emosi, baik disengaja maupun tidak. Cara orang marmos memancing emosi bisa bermacam-macam, mulai dari penggunaan bahasa yang kasar sampai perilaku yang congkak dan takabur.

Semakin hari, aku menemukan jumlah orang marmos semakin banyak. Menurutku, ada beberapa faktor yang menyebabkan orang menjadi marmos, yaitu:

1. Bad Mood

Orang yang baru saja mengalami kejadian buruk, mood-nya akan berubah menjadi buruk pula. Mereka akan menjadi cepat tersinggung dan marah. Secara tidak sadar, mereka mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan hati lawan bicaranya. Orang yang marmos karena faktor ini biasanya akan langsung menyadari kemarmosannya setelah mood-nya kembali baik.

2. PMS (Pre Menstruation Syndrome)

Faktor ini adalah penyebab utama marmos di kalangan kaum wanita. Mendekati datangnya menstruasi, perempuan biasanya menjadi lebih sensitif. Sedikit saja ada hal yang tidak berkenan di hati, mereka akan langsung bereaksi. Reaksi ini berbeda-beda pada masing-masing perempuan. Ada yang langsung marah-marah, ada juga yang justru diam seribu bahasa. Tapi intinya sama: marmos. Lebih marmosnya lagi, perempuan biasanya tidak merasa bersalah setelah segala kemarmosan yang dilakukannya. Dengan santai mereka berkata, “maklumlah, namanya juga lagi PMS.”

3. Genetik

Faktor genetik atau keturunan sudah tidak bisa lagi diganggu gugat. Sejak masih di dalam kandungan, darah marmos sudah mengalir di tubuh orang-orang marmos. Hampir tidak ada cara untuk menghilangkannya. Walau begitu, orang-orang yang marmos karena faktor ini biasanya sudah menyadari kemarmosannya sejak masih kanak-kanak. Saat masih kecil, mereka dikucilkan dari pergaulan. Mereka lalu berusaha untuk berubah sehingga kebanyakan dari mereka tidak lagi marmos setelah menginjak usia dewasa.

4. Virus

Ini adalah faktor yang paling berbahaya. Marmos adalah virus yang dapat menular dengan mudah dari satu oknum ke oknum lain. Jika dalam suatu komunitas terdapat satu orang marmos, maka sebulan kemudian minimal akan ada lima orang marmos dalam komunitas itu. Hal ini dikarenakan orang yang menjadi korban kemarmosan tentu akan merasa emosi dan berubah menjadi marmos pula. Jika setiap hari orang itu menjadi korban marmos, maka tanpa disadari sifat marmos akan menular ke dalam dirinya. Saat penular virus marmos pada akhirnya keluar dari komunitas, si korban marmos sudah terlanjur sukar untuk menghilangkan kebiasaan marmosnya.

Dari keempat faktor tersebut, tampaknya marmos yang ada pada diriku berasal dari faktor virus. Entah siapa yang pertama kali membawanya, yang jelas hampir semua teman di lingkunganku juga sudah terkena virus ini. Oleh karena itu, waspadalah bagi Anda yang belum tertular. Virus marmos ada di mana-mana!

7 comments

Setelah Mengisi Teka-Teki Silang

Sabtu pagi yang cerah. Aku pergi ke tempat fotocopy-an untuk meng-copy buku Etika Komunikasi. Lalu aku pergi ke markas SKM UGM Bulaksumur. Lalu aku rapat. Lalu aku berbincang dengan teman-temanku. Lalu aku pulang. Lalu aku makan siang. Lalu aku mengisi teka-teki silang.

Cara bertuturku terasa membosankan? Maklum, aku masih pemula. Ini adalah tulisan pertamaku di blog ini. Aku bergabung di Multiply karena dipaksa oleh kunyuk-kunyuk Komunikasi. Mereka bilang, wajib hukumnya mempunyai blog karena mahasiswa Komunikasi harus bisa menulis. Keahlian menulis diperlukan dalam segala bidang profesi yang berkaitan dengan Komunikasi.

Awalnya aku menolak, dengan alasan aku terlalu sibuk untuk mengurus blog. Namun setelah kupikir-pikir, menulis di blog tidak menyita terlalu banyak waktu. Menulis di blog lebih mudah dibanding menulis untuk Bulaksumur Pos, menulis tugas kuliah, ataupun menulis laporan pertanggungjawaban dalam suatu kepanitiaan. Apalagi dibanding menulis skripsi, menulis di blog jauh lebih gampang. Di blog, kita bebas berekspresi. Tidak perlu takut salah, tidak perlu takut mendapat nilai C, tidak ada batas minimal harus menulis berapa kata. Semua bebas.

Walau begitu, awalnya aku sempat malu kalau tulisanku dibaca oleh teman-teman. Aku takut tulisanku diejek dan dipandang remeh oleh mereka. Aku minder karena tulisan mereka jauh lebih bagus dariku. Aku malu kalau blog-ku dibilang sepi kayak soto.

Tapi aku HARUS mulai membiasakan menulis mulai sekarang. Mengutip judul buku Nunung Prajarto, “Tulis Saja, Kapan Lagi.” Ya, kapan lagi aku akan mulai menulis kalau bukan sekarang? Ejekan dari teman-teman justru bisa kugunakan sebagai kritik yang membangun. Aku juga akan terpacu untuk terus menulis dan meramaikan blog-ku agar tidak dikatakan sepi kayak soto.

Maka sekarang, inilah yang kulakukan. Setelah mengisi teka-teki silang, aku pun mulai menulis.