Starin Sani

0 comments

Pelangi dan Toleransi

Beberapa hari lalu pemerintah Amerika melegalkan pernikahan sejenis. Orang-orang Indonesia pun ikutan heboh, terlihat dari beraneka status di media sosial dan profile picture yang pada diganti menjadi berwarna pelangi.

Wajar aja sih menurutku kalau yang di sini ikutan rame. Keputusan Amerika ini bisa aja mempengaruhi negara-negara lain untuk membuat keputusan serupa. Atau paling enggak, keputusan ini bikin kaum LGBT jadi merasa lebih diakui, orang-orang jadi makin toleran, yang pada akhirnya bisa mendorong jumlah kaum ini untuk terus bertambah. Dan ini nggak boleh dibiarin, menurutku.

Mungkin udah banyak yang ngingetin, perbuatan berhubungan dengan sesama jenis ini dilarang dalam agama Islam. Ada beberapa ayat dalam Al Quran yang menceritakan tentang kaumnya Nabi Luth yang berperilaku seperti ini, kemudian akhirnya diazab oleh Allah. Tapi, yah, mungkin justru karena udah terlalu banyak yang ngingetin itu, pada akhirnya malah banyak orang muslim yang cuek aja. Atas nama cinta, sebagian orang tetap mendukung pernikahan sejenis. Being gay is genetic, they said. Ada juga yang nggak setuju, tapi atas nama toleransi, mereka memilih bersikap permisif. Pertanyaannya, apakah toleran adalah sikap yang seharusnya ditunjukkan umat muslim dalam situasi seperti ini?

Dulu, aku juga pasti bakal memilih bersikap toleran. Bukan toleran sih sebenernya, tapi cari aman, hehe. Daripada ribut, mending toleran, kan? Tapi ternyata, bukan kayak gitu konsep yang diajarkan dalam Islam. Islam bukan agama yang ‘lo-lo, gue-gue’. Kalau melihat orang lain berbuat keburukan, dan kita diam aja, kita ikut dosa. Kesannya resek, ya? Tapi justru itu tandanya sayang. :p

Masih inget kan kasus Angeline? Waktu orang-orang di sekitarnya ngaku kalau mereka sebenarnya sadar ada keanehan pada diri bocah ini, langsung deh pelaku media sosial pada ribut. “Angeline mungkin masih hidup bila semua orang di dekatnya lebih peduli,” begitu kurang lebih pendapat mereka. Well, mungkin orang-orang di sekitar Angeline bukannya nggak peduli, mereka cuma nggak mau aja nyampurin urusan orang lain. Nggak mau ribut. Cari aman. Hasilnya?

Nah, sekarang coba bayangin kalau orang-orang juga pada cari aman dengan bersikap toleran sama kasus LGBT ini. Pada saat anak kita beranjak dewasa kelak, bisa-bisa hal ini udah dianggap amat sangat lumrah, jauh lebih lumrah dibanding sekarang. Kita sebagai orangtua pasti bakal kelabakan sendiri seandainya-naudzubillahimindzalik-anak kita tiba-tiba membuat pengakuan, “Mom, I’m gay/lesbian…” Duarrr! Dan pada saat itu terjadi, semuanya udah terlambat. Kita cuma bisa menyesali sikap toleran kita dulu.

Oke, jadi jelas yah, dalam hal ini kita nggak bisa bersikap toleran. Tapiii, kalau mau ngingetin orang lain juga harus ada sopan santunnya. Ingat, jangan benci orangnya, tapi perbuatannya. Kalau kebetulan ada teman yang gay, kita nggak harus musuhin atau jauh-jauh dari dia, kok. Justru kita harus rangkul dia, ajak dia kembali ke jalan yang benar. Kalaupun gagal, paling nggak kita udah berusaha.

Toleransi itu baik. Tapi kalau berkaitan dengan hal-hal yang dilarang agama, bukan sikap toleransi yang dibutuhkan, melainkan peduli dan mengingatkan dengan sopan. :)

Leave A Comment